Sudwikatmono: Sepupu daripada Soeharto, Mitra Bisnis Sudono Salim

Ilustrasi Sudwikatmono. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 22 Oktober 2020
Dibaca Normal 3 menit
Sudwikatmono dipercaya oleh Liem Sioe Liong karena sikapnya sejalan dengan kepentingan bisnis.
Soeharto pernah tinggal di Wonogiri, di rumah bibinya yang bernama Sanikem yang bersuamikan mantri tani bernama Prawirowihardjo. Bagi Soeharto, paman dan bibinya adalah pengganti orang tuanya. Demikian pula dengan Sudwikatmono--anak Sanikem dan Prawirowihardjo--menganggap Soeharto sebagai kakak kandungnya. Usia mereka terpaut 13 tahun.

Sudwikatmono yang biasa disapa Dwi pernah bekerja di bagian administrasi Angkatan Laut di Gunung Sahari. Selain itu, dia juga sempat bekerja di bagian ekspor impor PN Jaya Bhakti. Di perusahaan ini Dwi mengenal Ibrahim Risjad yang mendorongnya untuk berbisnis. Meski saat itu Dwi sudah punya naluri bisnis, tetapi ia belum berani hidup tanpa gaji bulanan. Maka itu, berjualan baginya baru sekadar usaha sampingan.

“Sejak pagi-pagi buta Dwi sudah nongkrong di pelabuhan Tandjung Priok, dan langsung membooking karung-karung bekas yang tersisa dari muatan kapal laut atau pun di gudang-gudang pelabuhan,” tulis penyusun buku Sudwikatmono: Sebuah Perjalanan di Antara Sahabat (1997:15). Sementara istrinya, Sri Sulastri, berjualan sabun cap Tangan yang dibeli langsung dari pabrik.

Saat masih bekerja di PN Jaya Bhakti, seperti dicatat Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto (2014:107), kawannya Dwi yang berasal dari Kudus dan bernama bernama Liem Sioe Kong, memperkenalkan Dwi dengan kakaknya, Liem Sioe Liong. Ternyata Liem Sioe Liong kenal dengan Sulardi, kakaknya Dwi.

Tahun 1967, Dwi bertemu dengan Liem Sioe Liong di rumah daripada Soeharto di Jalan Agus Salim, Menteng, Jakarta. Setelah satu jam mengobrol dengan Soeharto, Liem Sioe Liong kemudian pamit sambil memberikan kartu nama ke pada Dwi. Liem memintanya untuk datang ke kantornya di Jalan Asemka.

Keesokan harinya, Dwi tiba di kantor Lim pukul 09.45, limabelas menit lebih awal dari jam yang dijanjikan. Liem mengutarakan maksudnya bahwa ia membutuhkan seorang pribumi untuk bergabung dengan bisnisnya, dan Soeharto mengusulkan Dwi.

“Saya ditawari gaji bulanan satu juta rupiah dan saham dalam perusahaan,” ujar Dwi seperti dikutip Richard Borsuk dan Nancy Chng (2014:109).

Dwi kaget dan bingung. Angka itu teramat besar baginya. Gajinya di PN Jaya Bhakti hanya Rp 400. Setelah pamit kepada Liem, Dwi sempat diberitahu penasihat hukum Liem bahwa angka itu bisa dirundingkan jika dianggap kurang.

Menurut penjelasan Soeharto kepada Dwi, Liem Sioe Liong masih warganegara asing yang kesulitan menerima pinjaman dari bank dalam jumlah besar. Maka itu, Liem membutuhkan mitra pribumi untuk mendapatkan pinjaman besar dari bank.


Warsa 1968, bersama Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad, Dwi dan Liem mendirikan PT Waringin Kencana. Mereka kemudian dikenal sebagai Empat Serangkai. Seperti disampaikan Dwi kepada majalah Matra (september 1990), dia menjabat sebagai Direktur Utama dan Liem sebagai Presiden Komisaris. Sementara Djuhar dan Risjad menjadi Managing Director.

Selain menjalankan bisnis PT Waringin Kencana, mereka juga kemudian melahirkan berbagai lini bisnis lain. Sebagai sepupu presiden, fungsi penting Dwi dalam Empat Serangkai adalah untuk memudahkan perizinan, serta hal-hal lain yang hubungan dengan pemerintah.

Dari awal, Liem merasa nyaman bermitra dengan Dwi. Tak semua keluarga Soeharto cocok dengan Liem. Ia pernah merasa gagal bermitra dengan Ibnu Widojo, adik Siti Hartinah alias Tien Soeharto, dalam PT Hanurata. Richard Borsuk dan Nancy Chng (2014:110) mencatat, pada 1968 Ibnu Widojo menjabat sebagai direktur nomor tiga, sementara direktur nomor satu dibata oleh Dwi. Sebagai adik ipar presiden, Ibnu Widojo minta keistimewaan. Sebagai keturunan Keraton Mangkunegara, ia minta diperlakukan layaknya bangsawan.

Sifatnya itu membuat ia sempat bersitegang dengan Liem. Suatu kali, Ibnu minta rokok kepada Liem yang sedang mengobrol dengan Soeharto. Liem tak sengaja hanya memberikan sebatang rokok kepada keturunan bangsawan itu. Liem seharusnya memberikan sekalian dengan bungkusnya. Ibnu Widojo pun mutung. Liem kemudian memutuskan mundur dari Hanurata karena suasananya semakin tidak menyenangkan. Tak hanya Liem, para pimpinan perusahaan itu juga mundur.

Suatu kali, Liem bertanya kepada Dwi, mengapa dia tak bertabiat seperti Ibnu Widojo. Dwi menjawab, “karena saya dari desa, bukan istana.”




Para anggota Empat Serangkai kemudian membangun kerajaan bisnisnya masing-masing. Dwi pernah menjadi Komisaris Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., PT Indofood Sukses Makmur Tbk., serta PT Bogasari Flour Mills. Dia dikenal sebagai bos Subentra Group dan Golden Trully Group.

Matra (September 1990) menyebut Subentra bergerak dalam perbankan, film, hiburan, industri kimia dan lainnya. Perusahaan itu didirikan bersama Benny Suherman pada tahun 1990. Sementara Golden Trully dimiliki oleh Dwi dan istrinya.

Di luar dua grup tadi, Dwi juga pernah terlibat di Tasik Madu Group yang bergerak di bidang perkapalan. Di bidang perfilman, selain menajdi distributor film dan membangun jaringan cineplex, Dwi juga beencana membangun studio film seperti di Hollywood. Tahun 1972, dia menjadi ketua asosiasi importir film mandarin. Pada 1 Maret 1996, dia mendirikan PT Indika Inti Mandiri yang di antaranya membawahi Net Visi Media.

Anak-anak Dwi juga terjun ke dunia bisnis. Putrinya dulu dikenal dalam waralaba Planet Hollywood. Semenatra anak laki-lakinya, Agus Lasmono, berbisnis batubara, minyak, dan gas dalam Indika Energy.

Bisnis Dwi bukan tanpa masalah. Pada tahun 1998 ketika krisis moneter melanda Indonesia, Bank Subentra dan Bank Sury yang juga miliknya, dibekukan BPPN. Dia juga bersengketa dengan Henri Pribadi dan Bambang Sutrisno, kolega bisnisnya. Richard Borsuk dan Nancy Chng (2014:213) menyebut Dwi menyerahkan aset-asetnya untuk dijual dan bayar utang terkait Bank Subentra dan Bank Surya yang bangkrut.

“Dalam perdagangan itu yang penting adalah kita bisa menggunakan fasilitas bank dengan cash flow (aliran dana) yang baik,” ujar Dwi kepada Matra (September 1990).

Dia menambahkan, pemasukan awal sebuah perusahaan haruslah membayar utang pinjaman bank terlebih dahulu. Menurutnya, pedagang yang kaya raya di dunia ini karena mereka bisa memanfaatkan fasilitas bank sebaik-baiknya.

Baca juga artikel terkait ADIK SOEHARTO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight