Sudah Saatnya Indonesia Mengupayakan Rumah Tahan Gempa

Rumah berbentuk setengah lingkaran yang dibangun untuk korban bencana gempa bumi di Yogyakarta pada tahun 2006.[1] Komplek perumahan Teletubbies ini berada di Desa Nglepen, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. FOTO/Wikipedia
Oleh: Ramdan Febrian - 7 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Orang Indonesia hidup di cincin api Pasifik dan mesti siap dengan risiko gempa. Salah satu caranya adalah membangun rumah tahan gempa.
tirto.id - Gempa bumi tidak secara langsung membunuh manusia. Rumah-rumah yang ambruk saat terjadi gempa bumi-lah yang umumnya menyebabkan orang kehilangan nyawa. Sebagian besar korban jiwa dari gempa bumi besar atau kecil berasal dari bangunan atau bagian dari bangunan yang jatuh menimpa orang.

Hal itu yang terjadi pasca-gempa di Yogyakarta pada 2006. Juga di Lombok kini, setelah terjadi gempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter (SR), Ahad lalu (5/7/2018). Hingga saat ini, tercatat bencana tersebut mengakibatkan 91 orang meninggal dunia dan 209 luka-luka. Ratusan rumah juga rata dengan tanah.

Menilik kondisi geografisnya, tak heran jika Indonesia sering diguncang gempa. Negeri ini berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) sehingga rawan gempa bumi.


Menurut Valentinus Irawan, analis penanggulangan bencana United Nations Development Programme (UNDP), dalam 20 tahun ke depan Indonesia akan menghadapi ancaman dari berbagai dampak yang disebabkan oleh bencana. Kita harus lebih siap menghadapi kemungkinan buruk tersebut.

"Ke depan dampak risiko bencana yang berinteraksi dengan perubahan iklim, kerusakan lingkungan hidup, pembangunan dan pertumbuhan penduduk akan semakin meningkat dan menjadi tantangan bagi pembangunan manusia," katanya saat memaparkan analisisnya, seperti dikutip situs BNPB.

Salah satu yang harus dipersiapkan oleh orang Indonesia secara umum adalah hunian yang lebih tahan gempa.

Rumah Tahan Gempa di Yogya


Berbagai teknologi untuk pembangunan rumah tahan gempa sudah dikembangkan di Indonesia. Salah satu pembangunan rumah paling ikonik adalah rumah dome yang saat ini menjadi salah satu kawasan wisata, Desa New Nglepen, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Setelah gempa bumi pada 27 Mei 2016 di Yogyakarta dan Jawa Tengah, masyarakat korban bencana tinggal di tempat penampungan. Saat itu, banyak pihak tergerak untuk memberikan bantuan rumah bagi para korban yang dibangun dengan berbagai desain, struktur bangunan, dan manajemen pembangunan sesuai kondisi masyarakat.


Perancang rumah dome yang kini menjadi Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Nizam, mengatakan rumah dome di New Ngelepen merupakan bantuan dari organisasi internasional yang mewadahi seluruh LSM di dunia, WANGO dan Domes for The World (DFTW).

Kepada Tirto, ia mengatakan bahwa salah satu model rumah tahan gempa ini merupakan bentuk yang sangat stabil dan ideal sebagai bangunan tahan gempa.

Bangunan ini mirip dengan bentuk telur ayam yang sangat kuat meski kulitnya tipis. Teknologi yang dikembangkan DFTW dengan sistem cetak di tempat ini menggunakan prinsip seperti balon yang difungsikan sebagai cetakan atau bekisting rumah.

Menurut Nizam, selain rumah dome, sudah banyak model rumah tahan gempa lain yang sudah dikembangkan oleh anak bangsa, baik model rumah sederhana maupun bangunan gedung. Bahkan, bangunan tradisional di Indonesia sudah banyak yang menggunakan prinsip bangunan tahan gempa.

"Seperti rumah kayu di Jawa, Omo Hada di Nias, Honai di Papua," paparnya.

Prinsip-prinsip bentuk simetris, rangka struktur yang saling terhubung, integritas struktur, detail sambungan yang benar, merupakan prinsip yang dapat digunakan untuk membangun rumah tahan gempa.

Nizam juga menambahkan, sebenarnya di daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat model rumah kayu tradisional termasuk struktur yang tahan gempa. Untuk rumah-rumah yang menggunakan bata, ia mengimbau agar rumah-rumah tersebut memenuhi persyaratan bangunan tahan gempa.

Yang perlu dilakukan antara lain melatih para tukang, mandor, pengawas bangunan untuk mengetahui syarat-syarat dan cara membangun rumah sederhana tahan gempa. Hal tersebutlah yang ia dan timnya lakukan saat gempa di Yogyakarta.

"Kami memberikan pelatihan dari desa ke desa," kata Nizam.

Untuk memastikan bangunan tahan gempa, perlu dibuat sistem checklist sederhana ihwal prinsip-prinsip bangunan tahan gempa (BTG) dalam pemberian izin mendirikan bangunan (IMB). "Dengan demikian, mulai dari tukang, mandor pengawas bangunan, pemberi izin bangunan maupun masyarakat sendiri bisa menjaga dan memastikan BTG terpenuhi," ujarnya.

Beberapa bangunan tahan gempa yang dibangun di sana, seperti dijelaskan Titi Handayani dalam "Model Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa di Yogyakarta dan Klaten" (2012), rumah bantuan tahan gempa yang dibangun setelah gempa 2006 di Yogyakarta sangat bermanfaat.

"Dapat dilihat dari 180 rumah diambil sebagai sampel hanya satu rumah yang tidak dihuni lagi," tulisnya.

Sementara itu, jika dilihat dari aspek desain, model tersebut cocok diterapkan pada masyarakat yang secara sosial dan budaya memiliki semangat untuk bergotong royong dan bersedia berpartisipasi penuh dalam proses pembangunan.



Pengembangan Rumah Tahan Gempa


Di Jepang, negara yang menjadi salah satu paling banyak bencana gempanya, sudah mulai mengganti bangunan-bangunannya menjadi bangunan tahan gempa. Selain itu, inovasi untuk membuat bangunan tahan gempa pun terus dilakukan.

Perusahaan yang bergerak di bidang inovasi, Air Danshin, misalnya berhasil mengembangkan rumah anti-gempa dengan model terbaru. Model rumah tahan gempa terbarunya dibuat dengan memanfaatkan teknologi airbag.

Cara kerja rumah tahan gempa yang dikembangkannya adalah dengan adanya sensor yang dapat merasakan getaran. Setelah sensor tersebut aktif, kompresor dalam waktu satu detik akan hidup secara otomatis dan memompa udara ke dalam airbag.

Setelah airbag tersebut menggembung, alat tersebut langsung mengangkat seluruh struktur bangunan setinggi tiga sentimeter dari landasan beton. Di sana, struktur bangunan akan melayang-layang selama gempa. Setelah gempa usai, airbag akan mengempis secara perlahan dan struktur bangunan rumah kembali ke posisi sedia kala.

Selain itu di Amerika Serikat, Universitas Stanford juga berhasil mengembangkan model rumah tahan gempa terbarunya yakni melengkapi bagian struktur fondasi rumah dengan "isolator" yang dapat bergeser. Teknologi tersebut memungkinkan seluruh bangunan rumah akan bergeser di sepanjang tanah yang bergetar ketika gempa sedang terjadi.

Semua rumah itu prinsipnya sama. "Struktur harus menahan gaya lateral goyangan gempa dan menyerap atau meredam energi gempa," demikian yang dikatakan Profesor Nizam.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTB atau tulisan menarik lainnya Ramdan Febrian
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ramdan Febrian
Penulis: Ramdan Febrian
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight