Menuju konten utama

Suami Tak Boleh Paksa Istri Berhubungan Seks, Ini Alasannya

Tengku Zulkarnain perlu tahu bahwa ada alasan medis mengapa hubungan intim harus didasari mau-sama-mau.

Suami Tak Boleh Paksa Istri Berhubungan Seks, Ini Alasannya
Ilustrasi pasangan romantis. Getty Images/iStockphoto

tirto.id - “Kita tidak bisa memaksakan kehendak. Kan bisa mencari waktu, entah besok, entah lusa,” ujar Jumisih, Ketua Federasi Buruh Lintas Pabrik.

“Terus dipenjara gitu? Kalau hasrat sudah mau, ya mesti. Si istrinya diem aja, tidur aja, enggak sakit,” kata Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain.

Kalimat-kalimat itu adalah nukilan perdebatan antara Jumisih dan Tengku Zul dalam tema Pro-Kontra RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS) yang disiarkan di INews TV. Menurut Tengku Zul, hubungan seksual antara sepasang suami-istri, keduanya tak harus dalam keadaan mood. Istri tinggal menurut sambil tidur saja jika suami menginginkannya.

Namun, benarkah hal tersebut?

K.G. Santhya bersama empat orang koleganya pernah melakukan penelitian berjudul “Consent and Coercion: Examining Unwanted Sex Among Married Young Women in India” (PDF). Studi tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan dan risiko dari berhubungan seks yang tidak diinginkan.

Dalam penelitian tersebut, mereka melakukan wawancara mendalam terhadap 69 perempuan yang berada di Gujarat dan Benggala Barat, India. Sampel itu mereka dapatkan dari partisipan yang telah mengikuti survei pendahuluan terhadap 1.664 perempuan yang sudah menikah.

Pada survei pendahuluan, Santhya, dkk mengajukan pertanyaan seputar transisi perempuan hingga menikah, hubungan dengan pasangan, pengalaman terhadap hak seksual dan tingkat otonomi mereka terhadap kesehatan reproduksi.

Setelah mendapatkan hasil, mereka kemudian melakukan wawancara tentang keputusan dalam rumah tangga, mobilitas para perempuan, dan tingkat dukungan dari pasangan.

Hasilnya, Santhya, dkk menemukan bahwa para perempuan itu menganjurkan tidak melakukan hubungan seksual saat mereka sedang tidak menginginkannya. Mereka menyimpulkan bahwa 4 dari 5 respondennya memilih untuk berkata tidak kepada sang suami ketika mereka sedang tak ingin berhubungan seks.

Alasan mereka tidak ingin berhubungan seksual beragam, misalnya ketika mereka sedang lelah, dalam masa menstruasi, bahkan saat mereka memang tidak mood untuk berhubungan seks.

Tentu saja tak semua laki-laki mau menerima kenyataan tersebut. Dari hasil penelitiannya, tak sedikit perempuan yang menceritakan pengalaman mereka dipaksa untuk memenuhi hasrat seksual suaminya.

Santhya, dkk kemudian melakukan wawancara untuk mengetahui pengalaman para perempuan ketika berhubungan seks ketika mereka tak menginginkannya. Ternyata, para perempuan membeberkan bahwa hubungan seks yang tak diinginkan itu akan memunculkan rasa sakit di organ kelaminnya.

Seorang perempuan bahkan mengatakan bahwa ketika sang suami memaksa untuk berhubungan seks, ia kerap merasakan sensasi terbakar saat buang air kecil, juga merasa pusing. Namun, sayangnya, ketika ia menyampaikan kepada sang suami ihwal alasan penolakan itu, suaminya justru marah. Itu sebabnya sang responden terpaksa menuruti hasrat seks suaminya.

Santhya, dkk pun kemudian melemparkan pertanyaan lanjutan kepada para perempuan yang pernah menolak berhubungan seks dengan suami mereka. Dari hasil wawancara itu, tak sedikit perempuan yang mengalami kekerasan. Mereka menyimpulkan bahwa 13 dari 25 perempuan yang enggan berhubungan seks mengalami kekerasan fisik dan psikis.

Bentuk kekerasannya pun beragam. Ada perempuan yang dipukul suaminya karena menolak berhubungan seks. Namun, pengalaman terbanyak adalah kekerasan psikis ketika mereka harus bertengkar dengan sang suami, hingga pengalaman suami minggat dari rumah.

Seks Tak Diinginkan Berbahaya bagi Kesehatan

Seks yang tidak diinginkan tak hanya berpengaruh bagi kondisi psikologis korbannya. Margaret J. Blthe bersama empat rekannya membuat sebuah studi berjudul “Incidence and Correlate of Unwanted Sex in Relationship of Middle and Late Adolescent Women” (PDF).

Penelitian tersebut mereka lakukan dengan melakukan wawancara secara langsung selama tiga bulan terhadap 279 orang remaja perempuan berusia 14 hingga 17 tahun. Dalam studi tersebut, mereka hendak mengetahui risiko kesehatan dari seks yang tidak diinginkan.

Dari riset itu, Blthe, dkk menemukan seks yang tidak diinginkan ternyata adalah fenomena yang jamak terjadi dan itu dilakukan oleh pasangan mereka. Banyak responden dalam studi itu mengaku mereka mengalami tekanan psikis jika tak mengabulkan permintaan pasangannya.

Risiko lain pun muncul dari seks yang tidak diinginkan tersebut. Seks yang tidak diinginkan sejalan dengan meningkatnya infeksi yang muncul akibat seks. Artinya, seks yang tidak dikehendaki berbahaya bagi kesehatan reproduksi.

Shervin Assari, seorang asisten Profesor Pskiatri dan Kesehatan Publik dari University of Michigan dalam artikel ia tulis di The Conversation mengungkapkan seks yang baik akan mendatangkan kebahagiaan bagi pasangan. Berdasarkan riset yang ia lakukan terhadap 551 pasiennya yang telah menikah, salah satu alasan dari kualitas pernikahan yang baik adalah tiap pihak mengalami orgasme yang menyenangkan.

Dalam penelitian tersebut, disebutkan juga bahwa depresi terjadi karena kualitas seks yang buruk. Selain itu, depresi juga menjadi akibat dari pemaksaan hubungan seks.

Infografik Seks harus konsensual

Infografik Seks harus konsensual

Bagaimana Cara Menolak Seks?

Bagaimanapun, seks adalah elemen penting dalam hubungan. Banyak yang khawatir keterusterangan akan merusak hubungan. Anda mungkin salah satunya.

Grant Hilary Brenner dalam artikelnya yang berjudul “3 Ways of Saying 'No' to Unwanted Sex” di Psychology Today mengakui bahwa penolakan berhubungan seks sama rumitnya dengan sebuah kesepakatan dalam hubungan. Namun, sayangnya, hal tersebut umumnya kurang menjadi perhatian.

Salah satu hal yang menjadi bahan pertimbangan orang menolak berhubungan seks adalah kesalahpahaman. Banyak orang khawatir, ketika ia menolak berhubungan seks akan muncul perdebatan dengan pasangan. Mereka malas mengalaminya.

Brenner mengungkapkan tak ada salahnya mendiskusikan penolakan seks dengan pasangan. Untuk mengkomunikasikannya, Anda bisa memaparkan alasan penolakan Anda, bukan hanya saat pasangan mengutarakan keinginannya, tapi juga saat diskusi santai.

Saat itu, jangan hanya memaparkan alasan penolakan. Ada baiknya Anda juga memaparkan risiko-risiko kesehatan reproduksi dan kesehatan jiwa yang mungkin terjadi jika Anda terpaksa berhubungan seks.

Baca juga artikel terkait PERNIKAHAN atau tulisan lainnya dari Widia Primastika

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani