Studi: Serangan COVID-19 di Otak Membuat Penyakit Jadi Sangat Parah

Oleh: Dhita Koesno - 27 Januari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Serangan COVID-19 di otak bisa membuat penyakit menjadi sangat parah menurut studi.
tirto.id - Studi terbaru tentang virus Corona melaporkan, COVID-19 yang menginfeksi otak akan membuat penyakit menjadi sangat parah.

Sebuah tim peneliti, termasuk penulis studi senior Mukesh Kumar, seorang ahli virologi spesialisasi dalam penyakit menular yang muncul dan asisten profesor di Universitas Negeri Georgia, di Atlanta melakukan penelitian dengan menginfeksi saluran hidung tikus dengan virus corona baru.

Hal ini menyebabkan penyakit parah pada hewan pengerat tersebut, bahkan setelah infeksi dibersihkan dari paru-paru mereka, demikian dikutip laman Medical News Today.

Para ilmuwan kemudian menganalisis tingkat virus di beberapa organ, membandingkan kelompok tikus intervensi dengan kelompok kontrol, yang telah menerima dosis larutan garam sebagai pengganti virus.

Hasilnya yang diterbitkan dalam jurnal Viruses mengungkapkan bahwa tingkat virus di paru-paru mencapai puncaknya sekitar hari ke-3 setelah infeksi, tetapi tingkat di otak tetap bertahan pada hari ke-5 dan ke-6, bertepatan dengan gejala yang paling parah dan melemahkan.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa otak mengandung virus 1.000 kali lebih tinggi daripada bagian tubuh lainnya.

Peneliti senior mengungkapkan, hal ini mungkin menjelaskan mengapa beberapa orang tampaknya pulih setelah beberapa hari dan fungsi paru-parunya membaik, tetapi kemudian kambuh dan memiliki gejala yang lebih parah, beberapa di antaranya terbukti mematikan.

“Pemikiran kami bahwa [COVID-19] lebih merupakan penyakit pernapasan belum tentu benar. Sekali ia menginfeksi otak, ia dapat memengaruhi apapun karena otak mengontrol paru-paru Anda, jantung, semuanya," kata Kumar.

Menurutnya, otak adalah organ yang sangat sensitif, karena ia berfungi sebagai pemroses utama untuk segalanya.

"Otak adalah salah satu wilayah tempat virus suka bersembunyi, karena tidak seperti paru-paru, otak tidak dilengkapi perlengkapan yang memadai, dari perspektif imunologis, untuk membersihkan virus," lanjutnya.

Karena itulah, jelasnya, mengapa peneliti melihat penyakit parah dan semua gejala ganda seperti penyakit jantung, stroke, dan semua penyakit jangka panjang ini dengan hilangnya penciuman dan hilangnya rasa.

"Semua ini berkaitan dengan otak, bukan dengan paru-paru," imbuhnya.

Kumar memperingatkan bahwa kerusakan otak dapat berarti bahwa banyak orang dengan COVID-19 terus berisiko tinggi terkena penyakit neurodegeneratif, seperti Parkinson, multiple sclerosis, atau penurunan kognitif umum, setelah pulih.

"Menakutkan. Banyak orang mengira mereka tertular COVID, dan mereka sembuh, dan sekarang mereka sudah keluar dari hutan. Sekarang saya merasa itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Anda mungkin tidak akan pernah keluar dari hutan," tutupnya.


Baca juga artikel terkait COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dhita Koesno
Editor: Agung DH
DarkLight