Studi Sebut 4 Juta Anak di Dunia Menderita Asma Karena Polusi NO2

Oleh: Febriansyah - 12 April 2019
Dibaca Normal 1 menit
Sekitar 4 juta anak di seluruh dunia menderita asma setiap tahun karena menghirup polusi udara dari nitrogen dioksida
tirto.id - Studi menyebut, sekitar 4 juta anak di seluruh dunia menderita asma setiap tahun karena menghirup polusi udara dari nitrogen dioksida (NO2). Fenomena ini diungkap melalui penelitian terbaru dari George Washington University Milken Institute School of Public Health, Milken Institute SPH.

Studi yang dipublikasikan di The Lancet Planetary Health ini memperkirakan, 64 persen dari kasus asma baru ini terjadi di daerah perkotaan.

Studi ini merupakan penelitian pertama yang menghitung beban kasus asma pediatrik baru di seluruh dunia yang terkait dengan nitrogen dioksida pada lalu lintas.

"Temuan kami menunjukkan, jutaan kasus baru asma anak dapat dicegah di kota-kota di seluruh dunia dengan mengurangi polusi udara," jelas Susan C. Anenberg, penulis studi.

Dengan meningkatkan akses ke bentuk transportasi yang lebih bersih, seperti angkutan umum yang dialiri listrik dan perjalanan aktif dengan bersepeda dan berjalan kaki, tidak hanya akan menurunkan tingkat nitrogen dioksida, tetapi juga akan mengurangi asma, meningkatkan kebugaran fisik, dan mengurangi emisi gas rumah kaca

Para peneliti mengaitkan kumpulan data global konsentrasi NO2, distribusi populasi anak, dan angka kejadian asma dengan bukti epidemiologis terkait polusi NO2 yang berasal dari lalu lintas dengan perkembangan asma pada anak-anak. Mereka kemudian dapat memperkirakan jumlah kasus asma pediatrik baru yang disebabkan oleh polusi NO2 di 194 negara dan 125 kota besar di seluruh dunia.

Penemuan kunci ini memprediksi 4 juta anak menderita asma setiap tahun dari 2010 hingga 2015 karena terpapar polusi nitrogen dioksida yang utamanya berasal dari knalpot kendaraan bermotor.

Diperkirakan juga 13 persen kejadian asma anak tahunan di seluruh dunia dikaitkan dengan polusi nitrogen dioksida.

Di antara 125 kota, nitrogen dioksida menyumbang 6 persen hingga 48 persen untuk penyakit asma yang terjadi pada anak.

Kontribusi nitrogen dioksida melebihi 20 persen di 92 kota yang terletak di negara maju dan berkembang.

Negara-negara yang memiliki nitrogen dioksida tertinggi itu seperti Cina yaitu 37 sampai 48 persen dari kejadian asma pediatrik dan Moskow, Rusia dan Seoul, Korea Selatan yaitu masing-masing 40 persen, serta kota-kota di Amerika Serikat, seperti Los Angeles, New York, Chicago, Las Vegas, dan Milwaukee.

Dilansir GW Publichealth, secara nasional, beban terbesar yang terkait dengan polusi udara ditemukan di Cina pada 760.000 kasus asma per tahun, diikuti oleh India pada 350.000 dan Amerika Serikat pada 240.000.

Asma adalah penyakit kronis yang merusak pernapasan dan timbul ketika saluran udara paru meradang. Diperkirakan 235 juta orang di seluruh dunia saat ini menderita asma.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO, menyebut polusi udara adalah risiko lingkungan utama bagi kesehatan dan telah menetapkan Pedoman Kualitas Udara untuk nitrogen dioksida dan polutan udara lainnya.

Para peneliti memperkirakan, sebagian besar anak-anak tinggal di daerah di bawah pedoman WHO saat ini yaitu 21 bagian per miliar untuk rata-rata tahunan nitrogen dioksida.

Mereka juga menemukan bahwa sekitar 92 persen dari kasus asma pediatrik baru yang disebabkan oleh nitrogen dioksida terjadi di daerah yang sudah memenuhi pedoman WHO.

"Temuan itu menunjukkan bahwa pedoman WHO untuk nitrogen dioksida mungkin perlu dievaluasi kembali," kata Pattanun Achakulwisut, salah satu dari penulis studi.

Para peneliti menemukan bahwa secara umum, kota-kota dengan konsentrasi nitrogen dioksida yang tinggi juga memiliki tingkat emisi gas rumah kaca yang tinggi. Banyak solusi yang ditujukan untuk membersihkan udara tidak hanya akan mencegah kasus baru asma dan masalah kesehatan serius lainnya, tetapi juga untuk mengurangi pemanasan global.


Baca juga artikel terkait POLUSI atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Febriansyah
Editor: Yulaika Ramadhani