Studi: Polusi Udara Bisa Pengaruhi Mental Anak

Oleh: Yonada Nancy - 2 Oktober 2019
Dibaca Normal 1 menit
Studi mempublikasikan polusi udara bisa berdampak pada kesehatan anak-anak hingga menyebabkan kematian.
tirto.id - Setiap orang tentu setuju bahwa polusi udara bukanlah kondisi yang baik untuk kesehatan. Paparan udara kotor dapat menimbulkan efek serius hingga penyakit kronis pada manusia.

WHO bahkan telah menetapkan bahwa polusi udara mengandung zat karsinogen atau penyebab kanker. Udara yang buruk juga menjadi penyumbang dari 4,2 juta kematian dini di dunia pada tahun 2016.

Namun, siapa yang sangka jika polusi udara tidak hanya menyerang manusia secara fisik tetapi juga mental. Bulan September lalu, Enviromental Health Perspective mempublikasikan sebuah studi yang menunjukkan dampak polusi udara dengan kondisi mental anak-anak.

Penelitian ini dilakukan oleh Cole Brokamp, Ph.D asisten profesor dari Departemen Ilmu Kedokteran Anak Universitas Cincinnati beserta timnya.

Studi ini mencatat bahwa anak-anak dapat mengalami kecemasan, depresi, perasaan tertekan, dan berbagai kondisi mental lainnya setelah berhari-hari terpapar udara yang buruk.

Gangguan-gangguan mental ini merujuk pada tindakan-tindakan berbahaya yang dilakukan oleh anak dan remaja seperti histeria dan bunuh diri. Hal ini menunjukkan bahwa polusi udara memiliki efek jangka pendek yang serius.

Penelitian ini melibatkan 13.000 kunjungan psikiater gawat darurat serta lebih dari 6.000 anak-anak.

Brokamp dan timnya menemukan bahwa paparan polusi udara berpengaruh dalam melonjaknya kunjungan anak-anak ke ruang gawat darurat yang memiliki masalah berkaitan dengan kesehatan mental.

“Kita berbicara tentang anak-anak yang pergi ke rumah sakit karena ada lebih banyak polusi udara dan lebih banyak polutan di lingkungan kita” kata Brokamp, seperti dikutip dari Inverse.

Polusi udara yang disebabkan oleh konstruksi dan lalu lintas menjadi penyebab utama dalam kasus ini. Data penelitian menunjukkan bahwa anak berusia 12 tahun yang terpapar polusi udara secara intens dapat mengalami depresi mayor di usia 18 tahun.

Kasus ini diperparah dengan kondisi sosial ekonomi. Studi ini menemukan bahwa anak-anak yang tinggal di daerah minim sumber daya akan mendapatkan efek polusi udara lebih intens dibanding anak-anak yang tinggal di lingkungan makmur.

Para peneliti berspekulasi bahwa paparan polusi udara mendorong perubahan dalam neurokimia. Perubahan ini menyebabkan gangguan kecemasan pada anak-anak.

Peneliti menemukan adanya peningkatan kadar myo-inositol di otak, penanda respons neuroinflamasi terhadap polusi udara yang disebabkan oleh lalu lintas.

Brokamp sendiri berharap bahwa penemuannya ini dapat menyadarkan banyak orang termasuk pemerintah Amerika Serikat tentang dampak apa yang harus dihadapi jika kondisi udara tidak juga membaik.

“Semoga itu akan membuat banyak orang tergerak untuk sedikit merasa memiliki dan sedikit termotivasi untuk bertindak atas (kondisi) ini” kata Brokamp.


Baca juga artikel terkait POLUSI UDARA atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
DarkLight