Studi: Hamil & Menjadi Ibu di Usia Tua Lebih Banyak Manfaatnya

Oleh: Yonada Nancy - 25 September 2019
Dibaca Normal 1 menit
Studi mempublikasikan hamil dan menjadi ibu di usia tua lebih banyak manfaatnya dan lebih sehat.
tirto.id - Di zaman yang semakin modern, semakin banyak wanita memutuskan untuk mengejar karir dan prestasi terlebih dahulu ketimbang menikah atau berkeluarga. Tidak heran memang saat ini banyak wanita dari berbagai kalangan memilih untuk melahirkan di usia yang lebih tua.

Peristiwa semacam ini tentu memunculkan beberapa keraguan seperti apakah aman memiliki anak setelah berusia lanjut? Secara psikologis, iya. Bahkan menurut Parents menjadi ibu di usia yang lebih tua justru luar biasa.

Hal ini dibuktikan dalam studi yang dipublikasikan oleh The European Journal of Developmental Psychology pada 2016 lalu yang mempelajari bagaimana 4.741 ibu dan anak di Denmark.

Dalam studi tersebut para peneliti mempelajari bagaimana proses pengasuhan ibu berusia lebih tua terhadap anak pada usia 7, 11, dan 15 tahun.

Peneliti lalu menemukan bahwa ibu yang berusia lebih tua cenderung memiliki kesabaran yang lebih tinggi daripada ibu muda. Semakin tua usia ibu, semakin sedikit masalah perilaku seperti sanksi verbal dan sanksi fisik yang ditunjukkan ibu kepada anak-anak mereka.

Anak-anak yang memiliki ibu berusia tua juga lebih sedikit mengalami masalah dalam tingkah laku, baik sosial maupun emosional daripada mereka yang memiliki ibu berusia muda.

Tidak hanya itu, keuntungan menjadi ibu lebih tua juga terbukti dapat memperpanjang usia ibu. Pada tahun 2017, Times mempublikasikan sebuah studi yang mempelajari 28.000 ibu di AS untuk membuktikan teori ini.

Dari studi ini para peneliti menemukan bahwa ibu yang memiliki anak pertama kali di usia 25 tahun, 11 persen lebih mungkin untuk mencapai usia 90 tahun daripada mereka yang menjadi ibu di usia lebih muda.

Sementara studi lainnya di tahun 2014 membuktikan bahwa wanita yang melahirkan di atas usia 33 tahun, 50 persen lebih mungkin mencapai usia 95 tahun dibanding wanita yang melahirkan di usia 29 tahun atau lebih muda.

Mengapa demikian? Sampai saat ini peneliti belum menemukan penyebab pasti, namun kemungkinan besar ibu berusia lebih tua cenderung lebih sehat, khususnya secara mental untuk berperan sebagai orangtua.

Namun, di samping keuntungan-keuntungan tersebut ada risiko kesehatan yang harus dihadapi apalagi jika Anda berencana untuk melahirkan anak pertama di atas usia 35 tahun.

Para ahli percaya risiko kelahiran bayi dengan kelainan kromosom akan meningkat seiring bertambahnya usia ibu. Belum lagi dengan komplikasi selama masa kehamilan dan melahirkan seperti keguguran, darah tinggi, dan diabetes.

Data yang dikeluarkan oleh para ahli kesehatan mengatakan bahwa adanya risiko ibu berusia 35 tahun atau lebih melahirkan bayi dengan down sindrom adalah satu banding 200. Kabar baiknya, ini adalah data lama.

Selama beberapa dekade terakhir, risiko tersebut menurun cukup banyak menjadi satu dari 350 kelahiran. Tentu hal ini diiringi dengan kemajuan zaman yang mana peralatan medis lebih menunjang dan berbagai bentuk risiko sudah dapat ditemui solusinya.

Dokter Lauren Streicher, MD. Professor obstretik dan ginekologi klinik Universitas mengatakan, hamil di usia lebih tua lebih berisiko secara kesehatan, bukan berarti tidak boleh dilakukan.

"Saya memberi tahu pasien bahwa secara biologis perempuan seharusnya memiliki bayi di usia dua puluhan. Tetapi, saya tidak akan pernah mengatakan bahwa Anda harus memiliki bayi sebelum (usia) 35” kata Streicher seperti yang dikutip dari Glamour.

Baik ingin melahirkan di usia muda ataupun lanjut, tentu memiliki risiko yang berbeda. Meskipun begitu mengejar karir ataupun berkeluarga adalah hak masing-masing orang.

Mengonsultasikan rencana kehamilan kepada ahli dan terus menjaga kesehatan tentu menjadi salah satu dari beberapa solusi untuk merencanakan hamil di usia lebih tua.


Baca juga artikel terkait PARENTING atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
DarkLight