Menuju konten utama

Strategi PGEO Lunasi Utang Jatuh Tempo Bulan Depan

PGEO menyusun strategi melunasi utang jatuh tempo senilai 600 juta dolar AS pada Juni 2023 mendatang. 

Strategi PGEO Lunasi Utang Jatuh Tempo Bulan Depan
Petugas melakukan pengecekan sumur KMJ-51 di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/10/2017). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

tirto.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memiliki strategi untuk melunasi utang jatuh tempo pada Juni 2023 mendatang. Diketahui anak usaha PT Pertamina (Persero) itu mencatatkan utang bank sindikasi senilai 600 juta dolar AS yang akan jatuh tempo pada bulan depan.

Corporate Secretary PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Muhammad Baron mengatakan, untuk menutupi utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat, pihak PGE memiliki rencana pembiayaan melalui mekanisme green financing. Sehingga tidak berpengaruh pada rencana pengembangan bisnis PGE.

Hingga 31 Desember 2022, klaim Baron, PGE memiliki tingkat rasio utang yang baik, dengan nilai debt to equity ratio (DER) sebesar 0,8. Ditambah dengan dana IPO, maka tingkat rasio hutang PGE sudah semakin baik.

"Sehingga PGE masih memiliki leverage yang kuat," kata Baron kepada Tirto, Senin (15/5/2023).

Di sisi lain, Head of Equity Ekuator Swarna Sekuritas, David Setyant menilai PGEO hoarus siap menanggung risiko kehilangan hampir seluruh kas internal untuk membayar sisa utang jatuh tempo akibat gagal meraih target emisi global bonds sebesar 600 juta dolar AS.

Dia mengatakan bahwa opsi itu sangat mungkin diambil mengingat jatuh tempo utang perseroan di bulan depan. Sedangkan, PGEO diprediksi hanya mampu menggalang dana maksimal 400 juta dolar AS melalui penerbitan surat utang luar negeri, padahal utang jangka pendek yang harus dilunasi sebesar 600 juta dolar AS.

“Saya lihat kan masih ada cash per Desember 2022 sebesar 262 juta dolar AS, Mungkin dari cash tersebut sisanya untuk membayar sisa utang,” ujarnya kepada wartawan.

Padahal, kata David, dengan pola bisnis capital intensive, perseroan sendiri juga membutuhkan kas besar untuk menjalankan operasionalnya. Tapi di sisi lain PGEO dituntut mengambil kebijakan cepat dan terukur untuk menutupi sisa utangnya jika tidak ingin default, salah satunya dari kas internal.

Karena terancam menggerus kas untuk membayar sisa utangnya, lanjut David, kegiatan bisnis perseroan juga dipertanyakan sehingga PGEO diproyeksikan bakal mengambil beberapa langkah aksi korporasi lanjutan pascapenerbitan obligasi demi berjalannya aktivitas operasional.

“Ini jadi menarik, karena memang bisnis seperti ini butuh modal besar secara terus menerus. Jadi kita lihat saja nanti lanjutan dari aksi korporasi yang akan mereka lakukan. Saya rasa nanti akan terbitkan obligasi lagi atau rights issue,” jelasnya.

David mengungkapkan pasar obligasi dunia saat ini memang tengah mengalami penurunan minat investor karena tren kenaikan suku bunga global yang membuat harga obligasi dengan kupon rendah terus terkoreksi. Namun karena kondisi keuangan yang tidak mendukung dan tenggat waktu utang yang di depan mata, PGEO terpaksa mencari dana melalui instrumen surat utang.

“Oleb sebab itu, penerbit dalam hal ini PGEO harus memberikan kupon yang menarik agar investor tertarik,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PGEO atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Bisnis
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang