Stories: Kisah Tentang Fitur yang Dicolong Mark Zuckerberg

CEO Facebook Mark Zuckerberg berbicara di Universitas Georgetown, Kamis, 17 Oktober 2019, di Washington. AP / Nick Wass
Oleh: Ahmad Zaenudin - 10 Agustus 2020
Dibaca Normal 5 menit
Stories merupakan fitur yang tersemat di Instagram, WhatsApp, dan Facebook yang dicolong Mark Zuckerberg dari Snapchat.
Rabu terakhir di bulan Juli 2020, dalam acara dengar pendapat antara Kongres Amerika Serikat dengan Apple, Google, Amazon, dan Facebook terkait dugaan praktek monopoli, Mark Zuckerberg dicecar pertanyaan oleh Pramila Jayapal, anggota Kongres AS mewakili distrik ke-7 negara bagian Washington.

“Zuckerberg,” sapa Jayapal, “apakah benar bahwa di bulan Maret 2012 silam Anda, melalui email, menyarankan ke tim manajemen bahwa bergerak lebih cepat dan menjiplak (fitur) aplikasi lain dapat, saya kutip, ‘mencegah pesaing menjadi pondasi baru (dunia teknologi)’?” belum juga Zuckerberg merespon, Jayapal menambahkan bahwa “manajer produk Facebook (merespon email yang Anda kirimkan) mengatakan, saya kutip, ‘saya jauh lebih senang untuk bertindak lebih agresif dan lebih gesit dalam urusan meniru (fitur) kompetitor.’”

Dengan nada agak gugup, Zuckerberg menjawab: “Saya melihat pekerjaan kami adalah untuk memahami nilai apa yang dicari orang-orang tatkala mereka menggunakan layanan (milik kompetitor).”

Tidak senang dengan jawaban itu, Jayapal kembali mencecar. “Setelah email itu, berapa banyak fitur-fitur milik kompetitor yang dicontek Facebook? Kurang dari lima, atau mungkin 50?” Lantas, ia menambahkan, “(Benarkah) di saat Facebook menjiplak produk mereka, Anda juga berusaha membeli perusahaan kompetitor?”


Tidak ada jawaban tegas keluar dari mulut Zuckerberg. Ia tak bisa menjabarkan apakah ia betul-betul melakukan praktik culas, mengintimidasi pesaing dalam membesarkan perusahaannya, Facebook. Gilad Edelman, dalam laporannya untuk Wired, menuturkan selama Zuckerberg memimpin, Facebook telah mengakuisisi lebih dari 80 perusahaan, termasuk Instagram dan WhatsApp. Jayapal menyatakan Facebook berhasil mengakuisisi Instagram selepas Zuckerberg, dalam korespondensi dengan pendiri Instagram Kevin Systrom, mengirim “ancaman” bahwa ia sedang bekerja menciptakan “Facebook Camera”, sebuah layanan mirip Instagram. Zuckerberg juga disebut-sebut mengklaim didukung programer handal AS dalam menciptakan aplikasi anyar tersebut.

Dalam kasus penjiplakan, tidak ada yang lebih menarik dibandingkan Stories, fitur ciptaan Snapchat yang sukses besar di tangah Facebook.

Evan Spiegel: Melahirkan Snapchat, Menolak Tawaran Zuckerberg

“Evan Spiegel hidup dalam kemewahan,” tulis Steven Levy, editor-at-large pada majalah Wired, dalam bukunya yang berjudul Facebook: The Inside Story (2020). Ayah Spiegel adalah pengacara sukses di Los Angeles. Dengan kemewahan ini, Spiegel dikirim ke Crossroads School, salah satu sekolah menengah eksklusif di AS. Ketika masa kuliah telah tiba, Spiegel melanjutkan pendidikannya ke Stanford University, kampus di mana Larry Page dan Sergey Brin melahirkan Google.

Tatkala Spiegel berstatus mahasiswa, Facebook telah menjadi media sosial populer di kampusnya. Namun, sebagaimana dikisahkan Levy, Spiegel paham mengapa Facebook populer, tapi ia juga mengerti “mengapa kemudian banyak orang yang membenci” media sosial bikinan Zuckerberg itu.

Cinta dan benci ini rupanya berkaitan erat dengan kelahiran Growth Circle di tubuh Facebook. Growth Circle--yang kemudian berubah nama menjadi Growth Team--merupakan tim khusus di Facebook yang bertugas mendongkrak jumlah pengguna dan menganalisis ancaman yang mungkin akan dihadapi Facebook. Dalam tugasnya ini, tim yang dikepalai Chamath Palihapitiya, imigran asal Sri Lanka yang kini menjadi pemilik tim basket Golden State Warriors, Growth menggunakan segala cara demi meningkatkan jumlah pengguna.

Salah satu strategi kontroversial yang dilahirkan Growth demi mendongkrak jumlah pengguna ialah sebuah fitur bernama Beacon. Beacon adalah semacam Application Programming Interface (API), yang dibagikan Facebook ke pihak ketiga. Ketika Beacon dipasang pada suatu website, website dapat memanfaatkan data pengguna Facebook. Sebagai gantinya, Facebook memperoleh data pengguna website yang menggunakan Beacon.

Via Beacon, Facebook sukses menciptakan dark profile, cikal bakal Personally identifiable Information (PPI). PPI adalah set data tentang pribadi seseorang yang, menurut Sheryl Sandberg, Direktur Pelaksana Facebook, lebih hebat dibandingkan Cookies. Melalui dark profile, siapapun pengguna internet yang belum memiliki akun Facebook, tetapi telah mengunjungi mitra Facebook yang memasang Beacon, akan dibuatkan 'akun bayangan' oleh Facebook. Bagi yang telah memiliki akun, Beacon mengambil data kegiatan orang itu di situs yang dikunjunginya, bahkan membagi kegiatan itu langsung ke News Feed mereka. Spiegel membenci praktik ini.


Masih merujuk Levy, pada April 2010 di asrama Stanford, Spiegel mengungkapkan ide penciptaan media sosial baru kepada temannya, Reggie Brown. Tak lama kemudian, ia mengajak teman lainnya, Bobby Murphy. Ketiganya kemudian sukses melahirkan aplikasi bernama Picabo, media sosial yang ketika penggunanya membagi konten pada teman-temannya, konten akan menghilang/terhapus dalam tempo 24 jam.

Pada awal 2012 Picabo resmi berganti nama menjadi Snapchat.

Awalnya, Palihapitiya mengira bahwa Snapchat hanya akan menjadi aplikasi sepele yang gagal dari segi bisnis. Namun, lambat laun, Snapchat menggondol kesuksesan. Zuckerberg khawatir dengan kesuksesan Snapchat ini, yang menurutnya dapat menghabisi Facebook. Maka, pada 28 November 2012 Zuckerberg mengirim email pada Spiegel. Zuck mengklaim bahwa ia “penggemar berat apa yang dilakukan Spiegel untuk Snapchat,” dan meminta Spiegel meluangkan waktu untuk bertemu dengannya (baca: Zuckerberg ingin Snapchat dijual kepada Facebook).

Spiegel memang membalas email yang dikirim Zuckerberg itu, tetapi ia menghiraukan ajakan bertemu. Spiegel ingin melakukan apa yang dilakukan Zuckerberg ketika Yahoo berniat membeli Facebook. Menghiraukannya dan membangun perusahaannya sendiri secara independen.

Sakit hati dengan sikap tidak acuh Spiegel, pada 21 Desember di tahun yang sama, Zuckerberg kembali mengirim email yang berbunyi, “Aku harap kamu menikmati Poke.” Poke yang dimaksud Zuckerberg ialah aplikasi sejenis Snapchat, konten kiriman pengguna menghilang dalam 24 jam semanjak dibagikan. Poke kali ini berbeda dengan dengan fitur bernama serupa di zaman Facebook masih bernama thefacebook.com.

Tentu saja, Poke gagal dan Snapchat terus melesat. Waktu pun berlalu.

Pada 2013, melalui tangan Growth, Facebook mengakuisisi perusahaan asal Israel bernama Onavo. Onavo bukan media sosial, tetapi aplikasi “utilities” yang menjanjikan performa maksimal dalam menggunakan ponsel, misalnya mengecilkan penggunaan data internet hingga memaksimalkan penggunaan baterai. Selain itu, Onavo pun memberikan layanan VPN alias Virtual Private Network bagi penggunannya.

Terkesan mulia, bukan? Sayangnya, yang tidak disadari pengguna, Onavo sebetulnya adalah aplikasi mata-mata. Ia bekerja memantau aktivitas penggunanya dan kemudian, karena Onavo menjadi milik Facebook, data Onavo sjatuh ke tangan Zuckerberg. Yang lebih mengerikan, seperti yang diutarakan Levy, Onavo dapat menyusup ke dalam berbagai aplikasi yang dipakai penggunanya.

Dari sumber internal yang berbicara pada Levy, Facebook sukses “menyuntikan kode pemrograman khusus pada Snapchat” melalui Onavo. Kode ini berguna untuk merekam segala tindak-tanduk pengguna Snapchat di aplikasi itu.

Facebook kemudian paham, ada satu fitur dalam tubuh Snapchat yang sangat digilai penggunanya: Stories.



Stories: Dijiplak Facebook, Menyebar di Dunia Maya

Dalam buku Facebook: The Inside Story, Levy mengisahkan pada 2013 Evan Spiegel merasa ada sesuatu yang “kurang” dalam aplikasinya, Snapchat. Pikir Spiegel, Snapchat seharusnya memiliki fitur yang berguna untuk mengirimkan konten, entah foto atau video, ke sekumpulan teman-temannya, yang telah di-set terlebih dahulu. Pada awal kemunculannya, Snapchat hanya memungkinkan pengguna mengirim konten ke satu temannya.

Spiegel merasa harus merealisasikan sesuatu kekurangan di aplikasinya dengan cara yang “elegan”: fitur yang berkebalikan dengan News Feed milik Facebook. Setelah mengumpulkan para programer Snapchat di Blu House--markas Snapchat--dan menghabiskan waktu selama 24 jam, Spiegel akhirnya menciptakan Stories. Fitur ini memungkinkan pengguna mengirimkan konten berupa foto dan video singkat secara piktografik--di-swipe atau ditunggu beberapa detik untuk berlanjut ke konten lainnya secara berurutan--lengkap dengan tambahan stiker dan grafik yang “aneh nan bodoh”.

Menurut Spiegel, Stories adalah fitur yang “aneh”. Tegasnya, “bahkan tidak ada orang-orang di Snapchat yang tahu fitur ini untuk apa.” Karena keanehan itu, di awal kemunculan Stories untuk para pengguna Snapchat, fitur ini gagal. Namun, bagi Spiegel, kegagalan Stories hanya soal waktu. “Butuh waktu bagi orang-orang memahami ide baru,” tegasnya.

Tidak disangka, dalam hitungan bulan Stories justru laku digunakan. Stories jadi fitur populer Snapchat, mengalahkan fitur dasar aplikasi ini.

Mark Zuckerberg, berbekal data yang disodorkan Onavo, sadar akan kehadiran Stories. Zuckerberg kian bernafsu membeli Snapchat. Nahas, tawaran kedua Zuck yang konon bernilai 3 miliar dolar AS ditolak oleh Spiegel. Zuckerberg pun berniat menduplikasi Stories, Masalahnya, Zuckerberg telah bertindak bodoh dengan melahirkan Poke. Akhirnya, ia kemudian mendelegasikan penciptaan fitur serupa Stories pada Kevin Systrom, pendiri Instagram.

Berbekal perintah sang bos, Systrom mentah-mentah meniru fitur baru Snapchat itu dan langsung memasangnya di Instagram. Tak sekedar fitur atau cara kerjanya, Systrom juga menggunakan “Stories” sebagai namanya. “Tidak ada alasan menyebut fitur ini dengan nama berbeda,” ujar Styrom.

Alih-alih malu atas tindakannya, Systrom berpendapat bahwa Stories adalah fitur pelengkap Instagram. News Feed Instagram adalah “tempat suci” yang memajang foto-foto indah pengguna. Di sisi lain, dengan hanya berdurasi 24 jam, Stories dijadikan “tempat sampah”, tempat kumpulan foto/video “bodoh” untuk dibagikan kepada teman-teman pengguna.

Sebagaimana nasib Stories pada Snapchat, Stories pada Instagram juga sukses. Lambat laun, Facebook merilis fitur ini juga pada aplikasi lainnya, Facebook sendiri dan WhatsApp--dengan nama “Status.”

Spiegel tak berkomentar soal idenya yang dicolong Zuckerberg, dkk. Yang justru marah adalah Miranda Kerr, pacar yang kemudian menjadi istri Spiegel. “Jika kamu mentah-mentah menjiplak karya orang lain, itu namanya bukan inovasi. Kok bisa Zuckerberg tidur nyenyak sambil memikirkan keculasan itu?” ujarnya.

Stories akhirnya jadi fitur andalan Facebook. Sebagaimana dilansir Statista, pada Januari 2019 saja, ada 500 juta pengguna aktif Instagram yang berbagi konten via Stories. Di kuartal 1-2019, jumlah yang sama dihasilkan fitur Stories (dengan nama Status) dalam tubuh aplikasi WhatsApp. Adam Levy, dalam laporannya untuk The Motley Fool, bahkan menyebut Stories yang terpasang pada Instagram sukses menyumbang 10 persen total pendapatan Facebook.

Uniknya, Stories akhirnya bukan hanya dijiplak Facebook, tetapi banyak perusahaan. Netflix, misalnya, menghadirkan fitur Stories dengan nama “Previews.” Di Indonesia, fitur serupa Stories muncul pada aplikasi Liputan 6 dan tentu saja, Tirto.id--yang tersemat dalam ikon Tirto, berada di pojok kiri atas.

Stories kini bernasib seperti PDF alias Portable Document Format yang diciptakan Adobe yang kini berakhir menjadi public domain.

Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight