Steve Francis: Ketika Penjual Narkoba jadi Bintang NBA

Houston Steve Rockets Steve Francis mengambil arahan saat dia difilmkan untuk acara pregame tim basket NBA, Senin, 1 Oktober 2007, di Houston. AP / The Chronicle, Nick de la Torre
Reporter: Felix Nathaniel - 14 Februari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Sebelum menjadi salah satu pemain terbaik di NBA, Steve Francis berada di sudut kota Washington, membantu orang membeli narkotika.
tirto.id - Ketika Rasheed Wallace pindah ke Detroit Pistons dan berhasil menjadi juara NBA tahun 2004-2005, yang menjadi sorotan justru pertukaran antara Steve Francis dari Houston Rockets dengan Tracy McGrady dari Orlando Magic jelang penutupan bursa transfer. Mengapa demikian?

Francis saat itu menjadi andalan Rockets bersama dengan Yao Ming. Sepeninggal Hakeem Olajuwon, yang membawa Rockets menjadi juara NBA 1984, 1985 dan Scottie Pippen, yang pernah memenangkan NBA sebanyak 6 kali, Rockets terpuruk hingga tak berhasil masuk dalam final NBA. Francis dan Yao-lah yang membuat Rockets tetap bertahan.

Sejak bergabung dengan Rockets tahun 1999, setiap musimnya Francis mencetak rerata poin sebanyak 15, assist 5, dan rebound 5. Tidak banyak pemain yang bisa terus konsisten sepertinya. Sebagai perbandingan Michael Jordan, misalnya. Meski ia punya rerata poin lebih tinggi dari Francis, tapi tidak setiap musimnya selama lima tahun pertama Jordan mampu mencetak 5 assist dan 5 rebound.

Saat Francis mencatat statistik itu tahun 2004, hanya tiga orang di NBA yang punya catatan serupa: Oscar Robertson, Magic Johnson, dan Grant Hill.

Kegesitan dan kepiawaian Francis memainkan posisi penjaga membuatnya dijuluki The Franchise. Di musim pertamanya, Francis mencetak rerata 18 poin, 6 assist, dan 5 rebound. Capaian itu menjejerkannya dengan bintang NBA lain semacam Robertson, Alvan Adams, Johnson, Jordan, Hill, dan Penny Hardaway.

Setelah Olajuwon pindah dari Rockets tahun 2001, tongkat komando berpindah kepada Francis. Los Angeles Times mencatat, gaya permainan Rockets berubah. Dari awalnya mengandalkan Olajuwon dengan permainan di area bawah keranjang, menjadi ke area yang lebih luas. Rockets membangun tim yang berpusat pada Francis.

“Francis mulai menemukan cara menang di kuartal terakhir permainan seperti yang Dream [julukan Olajuwon] lakukan selama ini,” kata manajer umum Rockets, Carroll Dawson. “Jika kami harus mendapat poin, atau mencuri bola, atau mengambil rebound di kuartal keempat, dia adalah jawabannya.”

Francis sendiri senang dengan Rockets yang serius memberi perhatian kepadanya. Tahun 2002, ketika perpanjangan kontrak, Rockets memberikan 84 juta dolar Amerika Serikat dengan jangka waktu enam tahun yang merupakan nilai maksimum perpanjangan kontrak. Bagi Francis, nilai itu tak berlebihan karena tim mengharapkan hasil baik di musim berikutnya.

“Ini kesempatan bagus, bukan hanya menjadi pemimpin yang banyak bicara dan berteriak, tapi aku akan membuktikan sesuatu di lapangan. Aku akan dinilai, pasti, dari seberapa sering kita menang dan kalah, dan aku siap untuk itu,” tegas Francis seperti dilansir majalah Jet yang terbit tahun 2002.

Tak disangka-sangka, Francis malah ditukar pada tahun 2004, tidak sampai separuh kontraknya berjalan.

Geliat di Masa 'Crack Epidemic'

Medio 1986, CBS menayangkan 48 Hours on Crack Street. Sesuai namanya, CBS menelusuri informasi tentang fenomena kala itu yang terkenal sebagai crack epidemic, di mana heroin dalam bentuk kristal dengan sebutan crack menyebar seperti wabah di jalanan kota-kota besar Amerika.

Banyak orang mengonsumsi dan menjualnya. Britannica mencatat, orang kulih hitam banyak terdampak akibat penyebaran crack ini, baik penjual dan pembeli. Mereka yang menjadi penjual bisa mendapat penghasilan dua ribu dolar Amerika per bulan.

Pada medio 1980-an, salah seorang penjual itu adalah Steve Francis.

Kala itu Francis masih duduk di bangku SMP. Orang tuanya bercerai. Ibunya bekerja sebagai suster, ayahnya bergeming di penjara untuk 20 tahun karena perampokan. Ibunya menikah lagi dengan pemulung dan keuangan keluarga Francis tak kunjung membaik.

Francis memilih untuk lebih sering keluar rumah, bergaul dengan mereka yang lebih tua untuk diberi pekerjaan dan mendapat uang untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Apa yang diharapkannya datang saat usianya 10 tahun. Francis menamai pekerjaan itu sebagai phone boy.

“Kalian tahu apa phone boy itu?” tulis Francis seperti dilansir The Players' Tribune.

Pekerjaan itu mudah belaka. Francis cukup menunggu di depan telepon umum dan menunggunya berdering. Ketika telepon berbunyi, dia mengangkat gagangnya, menempelkan ke telinga, dan mendengar baik-baik suara dari seberang telepon itu.

Permintaannya juga tak rumit: biasanya wanita pekerja seks komersial atau narkoba. Francis kecil tinggal memberitahu di mana pengedarnya berada dan tugasnya selesai. Sepanjang ingatan Francis, setiap malam akan ada 100 pengedar berkeliaran di sekitarnya.

Satu hari, Francis tertangkap basah oleh kakaknya yang bernama Jeff. Dia pun kena bogem mentah sehingga terjerembab. Kantongnya yang berisi narkoba diinjak dan Jeff mengancam teman-teman Francis agar tidak mengajaknya lagi ikut berjualan dengan mereka.

“Itu sangat menakutkan,” kata Francis. Namun, hal tersebut tidak menghentikannya. Semasa SMA, Francis mengaku bisnis narkoba justru makin membaik. Sementara ibunya meninggal, dan dia tetap harus mencari uang.

Jika tidak ada pelatih basketnya, Tony Langley, Francis bisa jadi membentuk “kerajaan” bisnis narkotikanya sendiri. Francis mengaku, adalah Langley yang membuatnya tidak menyerah terhadap keadaan.

“Sepuluh tahun dari sekarang, kamu akan melihat orang-orang yang sama di sudut sana, melakukan rutinitas yang itu-itu saja. Mereka akan menggunakan sepatu Fila atau Jordan yang terbaru, tapi kamu lihat mereka tak akan berubah dari tahun-tahun ke tahun. Mereka akan dirampok setiap harinya. Kau bisa menjadi sesuatu yang berbeda dari mereka,” kata Langley sesuai penuturan Francis.

Memutuskan melanjutkan bermain basket, jalan mulai terbuka bagi Francis. Dia berpindah ke Universitas San Jacinto di Houston dan kemudian menemukan jalan ke NBA. Francis sendiri tak menyangka kehidupannya bisa berubah total.

“Bagaimana kamu menjelaskan itu?”

Karier yang Singkat

Meski dianggap sepadan dengan Tracy McGrady, karier Francis terbilang singkat dan tak segemerlap bintang NBA lain seperti Kobe Bryant, Michael Jordan, atau Magic Johnson.

Rivalitas paling sengit yang Francis alami adalah ketika berhadapan dengan Gary Payton tahun 1999. Payton adalah salah satu guard terbaik yang pernah dimiliki Seattle Supersonics.

“Aku bertemu beragam orang yang banyak omong dalam hidupku, orang yang lebih kreatif, lebih intimidatif, daripada Gary Payton. Tapi dia… seperti benar-benar penuh omong kosong. Dia tidak berhenti bicara sejak awal pertandingan. Seperti kataku, aku mengidolakan dia. Hanya satu cara menghadapinya: aku harus membantainya,” ucap Francis seperti dilansir Basketball Network.

Francis berhasil membuktikannya. Dia mencetak 27 poin pada pertandingan itu, sedangkan Payton hanya 26 angka. Persentase tembakan Francis juga lebih baik daripada Payton. Francis memasukkan separuh dari tembakannya, sedangkan Payton tak sampai 40 persen. Kendati akhirnya Houston kalah 107-110, Payton kadung frustasi dan bersumpah akan membalas Francis.



“Tunggu aku, rookie brengsek! Tunggu sampai aku datang ke Houston. Aku akan membantaimu, Steve Francis!” kenang Francis menirukan ucapan Payton.

Kegemilangan Francis di tahun pertamanya kian terbukti ketika dia menerima penghargaan co-Rookie of The Year atau pemain NBA tahun pertama terbaik kedua. Pada periode 2001-2004, berturut-turut sebanyak tiga kali, Francis juga masuk ke dalam NBA All-Star.

Sayangnya, pelatih baru Rockets, Jeff Van Gundy mengubah tempo permainan menjadi lebih lambat dan Francis tidak senang dengan itu. Ketika Francis mengiyakan untuk pergi ke Magic, Rockets sama sekali tak menghalanginya.

Magic juga memberi harapan baru bagi Francis setelah mendapatkan guard Jameer Nelson dan center Dwight Howard. Apalagi, rekan Francis, Cuttino Mobley juga diboyong Magic dari Houston. Francis percaya, Magic akan membangun tim dengan dia sebagai pusatnya.

“Kupikir Francis percaya pada apa yang ingin John Weisbrod [manajer umum Magic] bangun,” kata agen Francis, Jeff Fried, seperti dikutip ESPN.

Kenyataannya tidak demikian. Magic memutuskan membuat Howard sebagai bintang lapangan dibanding Steve Francis. Selain itu, Magic juga menukar Mobley ke tim lain hanya sekitar enam bulan setelah dia datang ke Magic bersama Francis.

Meski itu adalah keputusan manajemen tim, Francis tidak terima. Kepada publik, Francis menyampaikan Magic tidak seharusnya menukar Mobley. Tanpa adanya Mobley, Francis merasa pekerjaannya membawa Magic menang liga akan semakin berat.

“Mereka [Magic] membuat kacau apa yang sudah mereka mulai dengan baik,” ucap Francis kala itu.

Sepeninggalan Mobley, Francis memang makin acak-acakan. Dia mendapat sanksi tidak boleh tampil tiga pertandingan oleh NBA di akhir musim 2005 karena menendang fotografer yang berada di area pertandingan dengan sengaja.

Di musim berikutnya, Francis mendapat sanksi yang sama. Bedanya, pemberi sanksi ini adalah Magic sendiri. Francis sempat menolak untuk kembali masuk lapangan saat pertandingan melawan Seattle Supersonic pada Januari 2006. Kekalahan pada pertandingan itu adalah yang kelima dalam enam pertandingan terakhir Magic.

Setelah musim 2006 berakhir, Francis ditukar lagi ke New York Knicks. Nahasnya dia malah mendapat cedera dan tak banyak membuat gebrakan. Dia sempat kembali lagi ke Rockets pada 2007, sebelum ditukar lagi ke Memphis Grizzlies kurang dari setahun berjalan. Di Grizzlies, Francis kembali dibuang meski belum sempat bermain.

Sejak itu tidak ada lagi tim di NBA yang menginginkannya.

Pada 2010, setelah bermain selama 14 menit untuk tim Beijing Ducks di China, Francis kembali ke Amerika dan memutuskan berhenti dari kariernya sebagai pemain basket.

Kendati sudah tak menjadi atlet, Francis sempat menyebut bahwa crack adalah “wabah” dan mengaku tak pernah sekalipun menggunakan narkotika jenis apapun. Satu yang jadi masalah Francis adalah ketergantungannya pada minuman beralkohol. Hal itu terbukti ketika pada 2018, mantan bintang NBA tersebut harus berurusan dengan polisi karena mabuk dan dikhawatirkan akan mengganggu keamanan masyarakat.

Jika ada yang patut disyukuri oleh Francis adalah: meski kariernya sebagai pemain basket tidak bertahan lama, ia tidak kembali ke kehidupannya dulu yang penuh dengan para pecandu.

Baca juga artikel terkait NBA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Felix Nathaniel
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight