Stede Bonnet Sang Gentleman Pirate dengan Karier Singkat

Penulis: R. A. Benjamin - 10 Apr 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Stede Bonnet cukup terkenal sebagai seorang kapten kelompok bajak laut, meski tak cakap. Pernah beraliansi dengan Blackbeard selama kariernya yang singkat.
tirto.id - "Sejujurnya, kapten bukanlah pendekar pedang yang kuat atau pelaut atau apa pun," ujar seorang awak bernama Oluwande tatkala bersaksi mengenai kaptennya, Stede Bonnet, usai kelompok bajak laut mereka diringkus Royal Navy.

Kesaksian Oluwande itu memang hanya bagian dari serial komedi bajak laut Our Flag Means Death, tapi ia tak berangkat dari ruang kosong. Sosok orisinal Stede Bonnet umumnya dikenang sejarawan dan pemerhati sejarah bajak laut berkat dua hal: 1) keterkaitannya dengan bajak laut paling ditakuti, Blackbeard, dan zaman keemasan perompakan secara umum, 2) ketidakcakapannya sebagai perompak, terlebih sebagai kapten.

Kebanyakan—kalau bukan seluruh—individu yang terlibat perompakan pada abad ke-18 tidak memilih gaya hidup ini tidak secara sukarela. Para kapten biasanya adalah eks privateer yang kehilangan mata pencaharian usai berakhirnya Perang Suksesi Spanyol pada 1714. Sementara itu, para awak lazimnya adalah mereka yang tak benar-benar punya pilihan—para budak yang dihadapkan pada lautan bebas atau kembali diinjak harkatnya di perkebunan, atau para pelaut yang menghindari kerja-kerja tak manusiawi di kapal dagang dan kapal perang negara-negara kolonial.

Namun, Stede Bonnet memang bukanlah bajak laut kebanyakan. Orang ini justru dengan sadar memilih karier dan jalan hidup sebagai perompak.


Mendobrak Tradisi Bajak Laut

Stede Bonnet diperkirakan lahir pada 1688 atau 1689 di Barbados. Dia tumbuh di keluarga Inggris kaya pemilik lahan perkebunan. Sejak usia belia, dia telah mewarisi seluruh lahan keluarga usai meninggalnya sang ayah. Bonnet lantas tumbuh sebagai kutu buku dan menempuh pendidikan terbaik. Mengacu pada A General History of the Pyrates karya Captain Charles Johnson (1724), Bonnet bahkan pernah mencapai pangkat mayor di kemiliteran Barbados.

Berpendidikan, hidup makmur pada usia 20-an, serta punya istri dan empat anak terdengar seperti segalanya yang dibutuhkan seorang laki-laki masa itu. Namun, segala privilese dan kenyamanan itu tampaknya tak cukup bagi Bonnet. Di tahun-tahun terakhir zaman keemasan perompakan, tepatnya 1717, Bonnet memutuskan menjadi bajak laut dan kelak orang menjulukinyaGentleman Pirate.

Tidak jelas apa alasan yang mendasari Bonnet meninggalkan keluarga dan kekayaannya demi menjadi perompak. Sebagian sejarawan berteori bahwa hal tersebut berakar dari masalah keluarga, problem finansial, atau sekadar krisis paruh baya.

Jika mayoritas perompak memperoleh kapal dari hasil jarahan atau warisan dari eks kapten mereka, Bonnet mendapatkannya secara legal. Dia memesan kapal layar bertipe sloop pada pembuat kapal, memperkuatnya dengan 10 meriam, dan merekrut 70 awak ke dalam krunya.

Bonnet menamai kapal itu Revenge—tipe nama yang jamak di kalangan perompak. Jika nama itu dipakai oleh seorang mantan privateer, boleh jadi itu berarti rupa dendamnya pada negara-negara kolonial yang tak lagi menyewa jasanya. Namun, Bonnet tak mengusung dendam serupa, dia bahkan berlayar tanpa membawa motif pembalasan apa pun.

Jadi, sangat mungkin nama itu dipilihnya untuk keren-kerenan saja agar terdengar sebagaimana laiknya perompak. Bersama Revenge, tanpa bekal pengetahuan dan pengalaman apa pun soal kelautan dan navigasi, berlayarlah Bonnet.

Sang perompak jentelman disebut kerap memperlakukan sebagian besar tawanannya dengan respek, kecuali kapal-kapal yang berbasis di Barbados—mungkin demi menutupi identitasnya. Sebagai kapten, Bonnet juga tak berlaku sebagaimana kapten kebanyakan. Jika para perompak lain mendapatkan pendapatan dari pembagian hasil jarahan, Bonnet menggaji para krunya.

Berkat sistem itu, dia bisa dibilang mendobrak tradisi bajak laut. Tapi, hal tersebut tak berarti banyak di lautan. Dalam pelayaran, Bonnet sepenuhnya bergantung kepada krunya yang berpengalaman, yang berperan penuh menjarah beberapa kapal bermuatan harta karun di perairan trans-Atlantik. Ignatius Pell, bosun (kepala kelasi) kru Bonnet bahkan bersaksi di persidangan bahwa quartermaster mereka, Robert Tucker, sesungguhnya lebih berkuasa ketimbang sang kapten.

Ketergantungan kepada kru tentu bukan pertanda baik bagi seorang kapten, terutama di kapal bajak laut di mana kapten bisa dicopot kapan pun. Hal ini telah terbukti mampu merepotkan pemimpin berpengalaman sekali pun. Dan alur nasib lantas mempertemukan kelompok Bonnet dengan sosok yang kelak menjadi kapten mereka: Blackbeard.



Kolaborasi dengan Blackbeard

Pada September 1717, kelompok Bonnet berlayar menuju Nassau di Bahama yang saat itu berdiri Republik Bajak Laut. Dalam perjalanannya, mereka harus menghadapi kapal perang Spanyol. Revenge nyaris rusak sepenuhnya, Bonnet terluka serius, dan setengah kru terbunuh atau luka-luka.

Saat memulihkan diri dan memperbaiki kapal di Nassau, Bonnet bertemu dengan Blackbeard, salah satu pentolan kolektif bajak laut termasyhur The Flying Gang. Sumber lain menyebutkan keduanya bertemu di Honduras. Tapi terlepas dari soal di mana tempat pertemuan pertama itu, Bonnet dan Blackbeard lantas membangun kesepakatan aliansi dan bisnis.

Blackbeard kemudian berlaku sebagai kapten untuk Revenge, sedangkan Bonnet menghabiskan waktunya untuk membaca buku di ruangannya atau mondar-mandir di kapal dalam balutan gaun-gaun mewahnya. Adapun versi lain menyebut Blackbeard sendiri yang memutuskan mengambilalih komando setelah menyadari bahwa Bonnet sama sekali tidak kapabel dalam tugasnya.

Aliansi Blackbeard-Bonnet kemudian sukses melakukan sejumlah penjarahan, di antaranya menaklukkan kapal budak Perancis La Concorde. Blackbeard lantas menjadikan kapal itu sebagai kapal utama armadanya dan menamainya Queen Anne's Revenge.


Pada akhir 1717, Blackbeard dan Bonnet berpisah. Blackbeard dengan kapalnya berlayar menuju Grenadines, sementara Bonnet berangkat menuju barat Karibia.

Tanpa kehadiran kapten betulan, Bonnet berkesempatan untuk merebut respek dari para awaknya. Salah satu caranya tentu dengan menaklukkan kapal penuh harta. Kesempatan itu tiba tatkala kapal dagang seberat 400 ton bernama Protestant Caesar tampak dalam jangkauan kelompoknya.

Tapi apa daya, kelompok Bonnet gagal membekuk buruan besar itu. Protestant Caesar berhasil lolos dan kegagalan ini kian memantik kegelisahan para kru Bonnet.

Tak lama setelahnya, Bonnet dan krunya bertemu lagi dengan Blackbeard. Sebagian besar awaknya sontak meninggalkan sang perompak jentelman demi bergabung dengan kru bajak laut yang lebih lihai itu. Blackbeard lantas mengutus seorang awaknya, Richards, untuk mengapteni Revenge dan Bonnet lagi-lagi mendapati dirinya menjadi tamu (mungkin juga tawanan) di kapal Queen Anne's Revenge.

Suatu waktu, kabar tentang kebijakan pengampunan (Acts of Grace) dari Raja George I untuk para perompak sampai ke telinga mereka. Kapal-kapal pun ditambatkan di Pulau Topsail, dan bersama beberapa orang awak, keduanya melakukan perjalanan darat menuju Bath, North Carolina demi mendapatkan pengampunan.

Usai menandatangani pengampunan, Bonnet bertahan untuk beberapa waktu di Bath demi mendapatkan surat izin sebagai privateer. Di saat yang sama, Blackbeard kembali ke kapal.

Ketika akhirnya Bonnet kembali ke Pulau Topsail, dia mendapati sebagian besar kru telah ditelantarkan. Begitu pula harta dan persediaan di kapal yang telah disikat oleh Blackbeard. Alih-alih berlayar dengan lisensi sebagai privateer, Bonnet memilihmenyelamatkan sejumlah awak, memperkuat kapalnya, dan kembali berlayar sebagai perompak.

Sejak itu, Bonnet akhirnya punya motif kuat untuk berlayar: mengejar dan membalas Blackbeard.

Infografik Stede Bonnet
Infografik Stede Bonnet The Gentleman Pirate. tirto.id/Sabit



Tamat di Tiang Gantungan

Di lain sisi, gubernur-gubernur kolonial di Karibia dan Amerika menetapkan untuk mengambil tindakan tegas pada para perompak yang menolak bekerja sama atau mangkir dari persyaratan pengampunan seperti Bonnet dan Blackbeard. Kapal-kapal perang pun diutus untuk memburu keduanya.

Demi mengecoh pihak berwajib, Bonnet mengubah nama kapalnya menjadi Royal James. Tak hanya itu, dia sendiri pun menggunakan nama alias Kapten Thomas. Dengan identitas baru dan 40 kru, dia sukses menjarah beberapa kapal dagang di Teluk Delaware dan sepanjang pantai Virginia.

Sayangnya, pertemuan ketiga Bonnet dan Blackbeard urung terjadi. Pasalnya, Blackbeard telanjur dipenggal kepalanya oleh seorang perwira Inggris dalam pertempuran di Ocracoke Inlet.

Bonnet sendiri akhirnya berhasil ditangkap usai terjadi baku tembak di Cape Fear River. Seluruh awaknya dinyatakan bersalah atas kejahatan perompakan dan sekira 20-an orang digantung pada November 1718.

Dalam persidangannya, Bonnet berupaya melakukan negosiasi hukuman dengan memanfaatkan latar belakangnya sebagai anggota masyarakat kelas atas. Sayang, upaya itu gagal. Dia tetap digantung di Charleston pada 10 Desember 1718, tak sampai dua tahun setelah ia memulai petualangannya.

Semasa aktif merompak, kelompok Bonnet kerap diasosiasikan dengan jolly roger bergambar tengkorak di antara hati dan belati, di atas tulang panjang horizontal, dalam bendera hitam. Bendera merah darah juga disebut kerap dikibarkan oleh sang perompak jentelman. Namun, tak ada sumber yang terverifikasi untuk keduanya.

Bonnet juga kerap disebut menjadi perompak yang menerapkan hukuman walk the plank—sebuah metode eksekusi untuk para tawanan dengan menyuruh mereka berjalan dalam kondisi terikat di atas sebilah papan di atas laut. Metode ini kerap ditampilkan dalam produk kultur pop, seperti dalam buku Treasure Island dan kisah Peter Pan. Kendati demikian, keterangan itu dinilai anakronis karena jenis hukuman ini diyakini baru muncul setelah era Bonnet.

Apa pun itu, Stede Bonnet tetap menjadi salah satu perompak yang paling dirayakan dalam kisah-kisah romantisasi kontemporer. Kariernya berakhir tak sampai dua tahun dan hidupnya tamat di tiang gantungan ketika usianya baru mencapai sekitar 30 tahun. Hidup yang singkat, tapi barangkali sesuai keinginannya. Jika dia mati sebagai sekadar jentelmen, mungkin malah tak ada yang bakal mengenangnya.

Baca juga artikel terkait PEROMPAK atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight