Menuju konten utama

Sri Mulyani Sebut Penerimaan Impor Turun Gara-gara Pandemi Corona

Pandemi Corona atau Covid-19 yang menjangkiti China dan sejumlah negara telah menyebabkan turunnya importasi bahan baku secara signifikan.

Sri Mulyani Sebut Penerimaan Impor Turun Gara-gara Pandemi Corona
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan kepada media tentang Stimulus Kedua Penanganan Dampak Covid-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.

tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pandemi Corona atau Covid-19 yang menjangkiti China dan sejumlah negara telah menyebabkan penurunan importasi bahan baku secara signifikan. Penurunan ini terlihat dari anjloknya penerimaan pajak dari impor.

Hal ini terlihat dari kontraksi PPh pasal 22 impor yang minus 10,63 persen yoy dengan realisasi Rp8,01 triliun per Februari 2020 padahal tahun 2019 masih tumbuh 3,95 persen yoy. PPn impor juga sama, terjadi kontraksi minus 12,15 persen dengan realisasi Rp23,6 triliun padahal tahun 2019 sempat tumbuh 0,77 persen.

“Tadi kita sebutkan, impor kita pertumbuhannya semua negatif, ini konsisten dengan penurunan impor kita,” ucap Sri Mulyani dalam live streaming di akun Youtube Kemenkeu, Rabu (18/3/2020).

Anjloknya impor ini juga terbaca dari nilai penerimaan bea masuk. Sektor perdagangan besar dan eceran misalnya mengalami kontraksi minus 14,7 persen dengan realisasi Rp2,53 triliun padahal periode yang sama di tahun 2019 hanya kontraksi minus 4 persen.

Bea masuk industri pengolahan juga sama dengan kontraksi minus 4,3 persen dan realisasi Rp2,42 triliun per Februari 2020. Nilai ini memburuk dari Februari 2019 yang masih tumbuh 5 persen yoy.

“Bea masuknya setelah Corona di Cina, Hong Kong melonjak dan kemudian isolasi Wuhan maka impor bahan baku dari Tiongkok yang untuk industri manufaktur juga mengalami kontraksi,” ucap Sri Mulyani.

Perlambatan ini juga menimpa ekspor dalam sektor pertambangan. Pertumbuhan pada Februari 2020 mencatatkan kontraksi minus 61,19 persen dengan realisasi hanya Rp204,6 miliar padahal Februari 2019 hanya terkontraksi minus 12,10 persen.

Kendati demikian, Sri Mulyani mengaku cukup puas dengan perbaikan kinerja industri pengolahan. Ia mencontohkan bea masuknya melonjak tumbuh 122,47 persen di Februari 2020 dengan realisasi Rp131,6 miliar melampaui Februari 2019 yang tumbuh 47,43 persen.

Dari pajak industri pengolahan juga tercatat tumbuh positif 4,9 persen dengan realisasi Rp38,81 triliun. Relatif membaik dari Februari 2019 yang kontraksi minus 11,4 persen.

Sejalan dengan itu kelompok penerimaan PPn DN tumbuh positif 4,81 persen dengan realisasi Rp30,64 triliun. Membaik dari Februari 2019 yang kontraksi minus 18,21 persen.

“Ini juga karena kita lihat konfirmasi dari PMI [ukuran seberapa aktif dan ekspansif manufaktur Indonesia] yang sudah naik. Jadi sebetulnya manufactory index-nya sudah positif, pajaknya muncul, PPnnya dan kontribusi pajak di sektor industri pengolahan,” ucap Sri Mulyani.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Maya Saputri