Solusi Banjir Tahunan di Pekalongan dan Pati Menurut Ahli

Oleh: Ruth Elisha Wijayanti P - 26 Februari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Banjir di Pekalongan dan Pati pada Februari 2021 merupakan fenomena rutin setiap tahun. Apa solusi mencegah banjir di 2 daerah itu berulang?
tirto.id - Sejumlah wilayah di Jawa Tengah terendam banjir pada bulan Februari 2021. Banjir terjadi seiring dengan adanya curah hujan tinggi yang mengguyur banyak kawasan di Pulau Jawa.

Dampak banjir pada bulan ini cukup signifikan. Beberapa kabupaten/kota di kawasan Pantura Jawa Tengah terendam banjir selama berhari-hari, bahkan ada yang lebih dari 2 pekan.

Di antara wilayah Pantura Jateng yang terlanda banjir berhari-hari, dengan area terdampak cukup luas, adalah Kota Pekalongan dan Kabupaten Pati.

Banjir di Kota Pekalongan yang melanda setidaknya 3 kecamatan dan membuat ribuan orang harus mengungsi tercatat sudah terjadi sejak awal Februari lalu. Pemkot Pekalongan lantas menetapkan status tanggap darurat banjir pada 7 Februari 2021.

Adapun tiga kecamatan yang terendam banjir itu ialah Pekalongan Barat, Pekalongan Timur, serta Pekalongan Utara. Pada 6-8 Februari lalu, banjir tercatat merendam wilayah 22 kelurahan di tiga kecamatan tersebut.

Mengutip laporan Antara, hingga 23 Februari 2021, wilayah 9 kelurahan di Kota Pekalongan masih terendam banjir, meski hujan tidak lagi turun selama 3 hari.

Pada hari itu, BPBD Kota Pekalongan mengaktifkan 21 unit pompa air untuk mengurangi ketinggian banjir di sejumlah permukiman, memanfaatkan kondisi aliran sungai yang sudah tidak pasang.


Sedangkan di beberapa wilayah Kabupaten Pati, banjir sudah terjadi sejak awal Februari. Banjir itu lantas terus meluas hingga menjangkau wilayah puluhan desa saat masuk pekan kedua bulan ini.

Sampai Senin (15/2/2021), tercatat wilayah 46 desa di 6 kecamatan di Pati masih terendam banjir meski dengan ketinggian air yang mulai menurun, demikian dikutip dari laman Pemkab Pati.

Menurut Dosen Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata, Joko Suwarno, banjir yang melanda sejumlah kabupaten/kota di Jawa Tengah pada pekan ini, dipicu sejumlah faktor. Salah satu faktor yang kemungkinan berperan besar adalah siklus hujan ekstrem 50 tahunan.

Joko mencatat, berdasar data BMKG, curah hujan yang mencapai intensitas hingga 178 mm/hari sempat berlangsung 8-12 jam tanpa henti dan memicu banjir di sejumlah wilayah Pantura Jateng.

Selain faktor hujan, dia berpendapat letak geografis wilayah Pantura rata-rata merupakan dataran rendah sehingga rawan banjir. Kota Pekalongan dan Kabupaten Pati, termasuk dalam kategori itu.

Kedua daerah ini tidak dapat dipungkiri merupakan wilayah langganan banjir pada beberapa tahun terakhir. Apa solusi yang efektif untuk mencegah banjir tahunan di 2 daerah tersebut?


Solusi Banjir di Kota Pekalongan

Dosen Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro (UNDIP), Winardi Dwi Nugraha menjelaskan ada faktor kombinasi yang biasa menjadi penyebab banjir rutin di Kota Pekalongan.

"Di samping intensitas hujan yang cukup tinggi, nampaknya beberapa waktu ini permukaan air laut di Jawa sedang mengalami pasang dan cukup tinggi," kata Winardi pada Jumat (19/2/2021).

"Faktor yang ketiga dan memegang pengaruh utama yaitu terjadinya penurunan muka tanah (land subsidence) di Kota Pekalongan. Jadi kombinasi 3 hal ini yang menyebabkan banjir," tambah dia.


Bulan ini, intensitas hujan yang tinggi tak hanya memunculkan banjir lokal tapi juga limpasan air sungai dari hulu yang melimpah. Hal itu diperparah gelombang pasang yang memicu banjir rob.

Dengan begitu, menurut Winardi, upaya paling cepat yang bisa dilakukan untuk mengatasi banjir di Kota Pekalongan adalah pemompaan air di daerah-daerah yang rendah dan terendam.

Namun, strategi pemompaan juga perlu diiringi dengan pembangunan banyak kolam retensi buat menampung air.

"Salah satu pemecahan kalau menurut saya dengan pemompaan yaitu bisa membuat kolam-kolam retensi di daerah yang banyak mengalami rob, dari sana air akan dialirkan ke kolam-kolam retensi kemudian dipompa ke arah laut," Winardi menerangkan.

Solusi lainnya, kata dia, adalah dengan membangun tanggul laut untuk menahan rob yang sering kali menyebabkan banjir di Kota Pekalongan.

"Tanggul ini nantinya diletakkan pada daerah yang memang rendah supaya tidak mudah air masuk ke daratan, tetapi dengan catatan fungsi pemompaannya juga dilakukan dengan baik," ujar dia.

"Namun, itu [proyek tanggul laut] membutuhkan biaya yang fantastis," Winardi menambahkan.

Penanganan banjir di kawasan Pantura, termasuk Pekalongan, saat ini menyita perhatian Pemprov Jateng. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengaku sudah mengusulkan anggaran Rp3,19 triliun ke pemerintah pusat guna penanganan banjir dan rob di pantura.

"Sebenarnya ada banyak usulan ke pusat, ada project-project strategis yang kami dorong, namun untuk kali ini, saya ingin prioritaskan bagaimana penanganan banjir di Pantura. Ini yang paling penting yang mesti segera dibereskan," kata Ganjar di Semarang pada Rabu (24/2/2021) lalu.

"Banjir di pantura mesti dibereskan karena ada pengamat yang bilang kondisinya [saat ini] cukup berbahaya. Khusus di Pekalongan pengamat bilang harus cepat ditangani agar tidak tenggelam," imbuh Ganjar.


Solusi Banjir di Pati

Mengutip siaran resmi Pemkab Pati yang dirilis pada 17 Februari lalu, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin mengakui perlu segera ada solusi untuk mengatasi banjir rutin di daerahnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan dukungan dari pemerintah pusat untuk penuntasan normalisasi Sungai Juwana (disebut juga dengan Sungai Silugonggo). Saiful beralasan Sungai Juwana selama ini menerima limpahan air dari 26 anak sungai.

"Bila [Sungai Juawana] tak dinormalisasi, saya pikir setiap tahunnya akan terus banjir. Inilah yang perlu kita pahami bersama," kata dia.


Namun, Winardi Dwi Nugraha meragukan jika normalisasi Sungai Juwana semata dapat mencegah banjir Pati berulang. Dia justru menduga persoalan utamanya adalah minimnya tutupan vegetasi di wilayah hulu sungai yang membuat aliran air ke hilir melimpah.

Maka itu, Winardi berpendapat, masalah banjir rutin di Pati tidak cukup diatasi dengan normalisasi Sungai Juwana. Penataan kawasan di hulu juga penting dilakukan, terutama dengan memulihkan daerah resapan melalui penanaman vegetasi.

Winardi menjelaskan Sungai Juwana bisa menerima kiriman air dari kali-kali di daerah lain karena terhubung dengan Bendungan Wilalung, Kudus. Dari 11 pintu air di bendungan itu, 9 di antaranya mengarah ke Sungai Juwana.

Maka itu, air dari hulu bisa datang melalui Sungai Serang dari arah Boyolali dan Sungai Lusi dari Grobogan. Aliran kedua sungai itu bertemu di kali Wulan yang melintasi wilayah Demak dan Kudus serta terhubung dengan bendungan Wilalung.

Artinya, jika debit air dari hulu besar, baik berasal dari Sungai Serang maupun Sungai Lusi, yang kemudian mengalir ke Sungai Wulan, aliran Sungai Juwana juga berpotensi meluap.


Baca juga artikel terkait BANJIR PEKALONGAN atau tulisan menarik lainnya Ruth Elisha Wijayanti P
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Vincentius Dimas Sanubari
Penulis: Ruth Elisha Wijayanti P
Editor: Addi M Idhom
DarkLight