31 Juli 1941

Solusi Akhir, Cara Sistematis Jerman Membantai Jutaan Yahudi Eropa

Oleh: Muhammad Fakhriansyah - 31 Juli 2021
Dibaca Normal 3 menit
Setelah Hitler diangkat menjadi Kanselir Jerman, lonceng kematian bangsa Yahudi Eropa mulai berdentang keras.
tirto.id - Diangkatnya Adolf Hitler menjadi orang nomor satu di Jerman pada Januari 1933 membuat hampir sepuluh juta orang Yahudi yang tinggal di Eropa ketar-ketir. Hitler dikenal memiliki pemikiran etnosentris nan rasis. Ia memandang posisi orang Jerman lebih tinggi atau superior dibanding bangsa lain seperti Slavia dan Yahudi. Baginya, mereka tidak berhak hidup dan menguasai daratan Eropa. Apalagi orang Yahudi yang menurutnya hanya membuat rakyat Jerman sengsara.

Pada awal kekuasaannya, pemimpin tertinggi Partai Nazi itu langsung membuat kebijakan yang secara tidak langsung menyingkirkan kaum Yahudi. Lalu enam tahun kemudian usai menyerang Polandia, otoritas Jerman mulai melakukan penangkapan dan penyiksaan terhadap orang-orang Yahudi. Para kaki tangan Hitler mengurung orang Yahudi di tempat isolasi bernama ghetto yang sempit dan tidak nyaman. Tindakan yang dilakukan secara bertahap ini menjadi awal mula nyaringnya lonceng kematian bangsa Yahudi di Eropa.

Operasi Barbarossa sebagai Perang Kehancuran

Orang-orang Yahudi kian berada di ujung tanduk ketika Jerman menyerang Uni Soviet pada 22 Juni 1941 dalam operasi besar bersandi Barbarossa yang melibatkan jutaan tentara dan ribuan alutsista. Serangan itu bukan sekadar operasi militer pada umumnya, tetapi juga dimaksudkan sebagai perang kehancuran atau Vernichtungskrieg. Ketika pertempuran berlangsung, angkatan bersenjata Jerman atau Wehrmacht tidak hanya diwajibkan menyerang dan menguasai sektor-sektor strategis musuh, tetapi juga menghabisi penduduk Soviet dan Yahudi tanpa pandang bulu untuk mencapai kehancuran total.

Sejarawan Jerman Jürgen Förster dalam artikel “The Relation Between Operation Barbarossa As an Ideological War of Extemination and The Final Solution” yang terhimpun dalam buku The Final Solution (1994, hlm 85-103) menyebutkan, Operasi Barbarossa adalah serangan pertama yang menggabungkan strategi militer dan politik rasial.

Uni Soviet menjadi sasaran empuk Jerman karena wilayahnya sesuai dengan prinsip ekspansionis Nazi, yakni Lebensraum atau kebutuhan masyarakat Jerman akan ruang hidup di Eropa Timur guna mencapai kejayaan. Teritori Soviet yang luas dan penuh dengan sumber daya alam, dipandang oleh Hitler sebagai wilayah strategis yang sesuai untuk meraih Lebensraum. Apalagi di sana juga terdapat target kebencian Hitler: kaum Boshelvik komunis dan Yahudi.

Jika sukses menyerang Soviet, maka Hitler dikatakan “killing two birds with one stone”—berhasil mendapatkan dua kesuksesan dalam sekali bertindak: berhasil meraih Lebensraum dan sukses mewujudkan cita-cita etnosentrisme.


Pembasmian Dimulai

Tidak lama sejak serangan 22 Juni 1941, pasukan Jerman berhasil menguasai beberapa wilayah strategis. Meski demikian, Hitler belum puas karena militernya belum melakukan tindakan serius terhadap orang Yahudi dan komunis. Baginya, mereka tidak berguna dan hanya mengganggu Jerman. Apalagi menurutnya wanita dan anak-anak Yahudi sama sekali tidak bisa dimanfaatkan.

Salah seorang pejabat tinggi Nazi, Herman Wilhelm Göring, langsung bertindak cepat dengan menulis surat khusus kepada dua orang pemimpin Schutzstaffel (SS) atau organisasi keamanan Nazi, Reinhard Heydrich dan Heinrich Himmler. Dalam surat yang ditulis pada 31 Juli 1941, tepat hari ini 80 tahun lalu, Göring meminta kedua rekannya itu untuk segera mengembangkan draf akhir penyelesaian permasalahan Yahudi.

“[…] Saya dengan ini menugaskan Anda untuk melakukan semua persiapan yang berkaitan dengan organisasi, sisi material, dan sudut pandang keuangan untuk solusi akhir dari masalah Yahudi di wilayah Eropa yang berada di bawah pengaruh Jerman. […] Selanjutnya saya menugaskan Anda untuk menyerahkan sesegera mungkin rancangan yang menunjukkan tindakan yang telah diambil untuk pelaksanaan solusi akhir yang dimaksudkan dari persoalan Yahudi.”

Menurut sejarawan Christopher R. Browning dalam “The Euphoria of Victory and the Final Solution” (1994), perintah ini menjadi pintu gerbang atas dimulainya babak baru dalam tindakan pengamanan dan pembersihan rasial secara sistematis terhadap bangsa Yahudi di seluruh daerah yang dikuasai Jerman. Kalimat “Die Endlösung der Judenfrage” (solusi akhir untuk pertanyaan Yahudi) yang tercantum dalam surat tersebut sekaligus menandai berakhirnya nasib orang Yahudi Eropa. Artinya, bayang-bayang kematian mereka sudah di depan mata.

Pada Agustus 1941, penindakan terhadap orang-orang Yahudi mulai dilakukan oleh militer Jerman khususnya pasukan Einsatzgruppen. Tidak sedikit dari mereka yang kabur ke pedalaman Soviet untuk menghindari pasukan Nazi. Sebagian lagi bernasib lebih nahas. Banyak wanita dan anak-anak Yahudi ditembak.

Bulan-bulan berikutnya target pembasmian semakin meluas, kaum Gipsi mulai ikut diburu. Mereka mati ditembak, bahkan sebagian dikubur hidup-hidup. Pasukan Jerman juga melakukan penyiksaan terlebih dahulu sebelum korbannya tewas. Dilansir dari United States Holocaust Memorial Museum, pasukan SS melakukan pembasmian dengan memasukkan orang-orang Yahudi ke dalam ruangan tertutup yang kemudian dialiri gas karbon monoksida super beracun. Tindakan pembasmian massal ini, seperti dicatat The World Holocaust Remembrance Center, membunuh setengah juta orang Yahudi di wilayah Soviet dalam waktu kurang dari enam bulan.


Infografik Mozaik Final Solution
Infografik Mozaik Final Solution. tirto.id/Sabit


Genosida Sistematis

Meskipun sudah melakukan pembunuhan massal, tetapi Hitler lagi-lagi belum puas. Alasannya, tindakan tersebut belum dilakukan secara sistematis. Pembicaraan lebih lanjut ihwal praktik atas isi surat Göring tentang penyelesaian permasalahan Yahudi justru baru dilaksanakan lima bulan kemudian. Pada 20 Januari 1942, belasan petinggi Nazi berkumpul di Wannsee, Berlin, membahas lebih lanjut masalah ini.

Gagasan mengirim bangsa Yahudi ke Madagaskar yang sudah jadi pembahasan sejak perang melawan Soviet mengemuka lagi, hingga penyelesaian dengan cara pembunuhan massal turut digulirkan dalam pertemuan itu. Akhirnya para pejabat itu bersepakat untuk membawa orang-orang Yahudi di seluruh Eropa ke kamp kosentrasi di Polandia untuk dibunuh atau dipekerjakan paksa.

Keputusan ini tidak lepas dari kondisi Jerman dalam peperangan yang sedikit terdesak. Mereka membutuhkan banyak orang untuk memproduksi senjata, melakukan pengaspalan jalan, membersihkan ranjau darat, dan lain-lain. Dalam praktiknya, keputusan ini juga menyeret kaum Gipsi, homoseksual, disabilitas, penentang rezim, dan tentara Soviet.

Mereka, khususnya orang-orang Yahudi, pada akhirnya dibantai secara massal. Solusi akhir atas Yahudi benar-benar dilaksanakan secara total dan matang. Tercatat hampir dua per tiga bangsa Yahudi Eropa atau sekitar enam juta orang tewas di tangan Nazi Jerman dalam kurun waktu 1933-1945.

Baca juga artikel terkait HOLOCAUST atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh
DarkLight