Soeharto Tak Rela Habibie Jadi Presiden & Tidak Mengucapkan Selamat

Oleh: Petrik Matanasi - 1 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Soeharto menjauhi Habibie sejak hari pengunduran dirinya. Soeharto tak rela Habibie menggantikannya.
tirto.id - Mei 1998 adalah bulan terburuk bagi Soeharto. Setelah puluhan tahun jadi orang nomor satu di Indonesia, di tahun itu Soeharto harus terima kenyataan banyak orang sudah tak menginginkannya untuk terus jadi Presiden Republik Indonesia.

Di masa-masa kritis ini Soeharto mulai merasa dikhianati orang-orang terdekatnya. Pertama oleh Ketua MPR Harmoko—yang sebelumnya mengatakan bahwa rakyat masih menginginkan Soeharto terus jadi presiden, tapi kemudian malah meminta Soeharto mundur. Kedua adalah Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie.

Habibie—dikenal sebagai insinyur penerbangan yang bisa bikin pesawat—bukan orang baru bagi Soeharto. Sejak Habibie remaja dan Soeharto berpangkat letnan kolonel, mereka sudah saling kenal. Ketika Soeharto jadi presiden, Habibie kembali ke Indonesia dan jadi teknokrat penting yang diberi jabatan Menteri Riset dan Teknologi, lalu wakil presiden.


Ditinggalkan Para Loyalis

Di hari-hari jelang Soeharto mundur, belasan menterinya sudah minta undur diri duluan. Habibie sebagai wakil presiden tetap mendampingi di masa yang tidak menyenangkan itu. Soeharto akhirnya terpikir untuk mundur dan Habibie menggantikannya. Sehari sebelum Soeharto mundur, pada 20 Mei 1998, Habibie bertemu Soeharto di istana. Sempat ada pembicaraan di antara mereka. Waktu itu sudah ada isu Soeharto akan mundur sebagai Presiden RI.

“Pak Harto, kedudukan saya sebagai Wakil Presiden bagaimana?” tanya Habibie, seperti diingat dan ditulisnya dalam Detik-Detik Yang Menentukan (2006: 37).

Soeharto pun memberi jawaban yang bagi Habibie di luar dugaan. “Terserah nanti. Bisa hari Sabtu, hari Senin, atau sebulan kemudian, Habibie akan melanjutkan tugas sebagai Presiden.”

“Apakah Pak Harto sudah menerima surat pernyataan dari Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita dan empat belas Menteri di bawah koordonasi Menko Ekuin?” tanya Habibie untuk menghentikan tema pembicaraan sebelumnya yang baginya tidak menyenangkan.

Soeharto mengaku sudah mendengar, tapi belum membicarakannya. Soeharto lalu ulurkan tangan untuk dijabat Habibie. Tak lupa Soeharto beri pesan untuk menjalankan tugas sebaik-baiknya dan menyelesaikan masalah Ginandjar dan kawan-kawan dengan baik.

Habibie menimpali, “akan saya usahakan.”


Menurut Probosutedjo dalam Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto (2013: 594), Habibie semula ditanya apakah dirinya siap menggantikan Soeharto menjadi presiden. Habibie awalnya merasa ragu. Setelah berita para menteri mundur, Habibie akhirnya mengaku sanggup. Sikap Habibie yang berubah-ubah ini bikin Soeharto kecewa.

“Mas Harto tidak habis pikir, bagaimana mungkin keputusan yang sangat penting seperti 'sanggup tidaknya' menjadi presiden bisa berubah drastis hanya dalam hitungan hari. Tidak sampai 24 jam,” aku Probosutedjo.

Habibie, masih kata Probosutedjo, sempat menelopon Soeharto, tapi tak diangkat. Meski begitu Soeharto sudah mantap untuk mundur esok paginya dan membiarkan Habibie yang tiba-tiba bilang “sanggup” menggantikannya jadi presiden.


Menjauhi dan Tak Memberi Selamat

Di hari pengunduran diri daripada Soeharto, Habibie mengaku agak dijauhi atasannya itu. Padahal mereka berada di ruangan yang sama, Ruang Jepara, dalam Istana Negara. “Saya merasakan diperlakukan tidak wajar,” kenang Habibie.

Ketika akan menghampiri Soeharto, acara sudah akan dimulai. Terpaksa Habibie hanya bisa berdiri di sisi Soeharto.

Pernyataan paling bersejarah sepanjanh Orde Baru pun dibacakan Soeharto: pengunduran dirinya sebagai Presiden RI. “Ketika menyampaikan pernyataan pengunduran dirinya, wajah Soeharto tampak dingin,” tulis Tjipta Lesmana dalam Dari Soekarno Sampai SBY (2009: 123).

Soeharto tampak merasa dirinya dipermalukan di hadapan seluruh bangsa Indonesia dan dunia internasional. Peristiwa bersejarah ini disiarkan berulang-ulang di televisi. Tapi dirinya tetap berusaha tegar di hari menyakitkan itu.

Selesai Soeharto menyatakan diri berhenti jadi Presiden RI, protokol istana menyerahkan map kepada Habibie dan diminta membacakan sumpah dan kewajibannya sebagai Presiden RI.

“Semuanya berlangsung cepat dan lancar. Pak Harto memberi salam kepada semua yang hadir termasuk saya. Tanpa senyum maupun sepatah kata, ia (lalu) meninggalkan ruang upacara,” tutur Habibie dalam memoarnya (hlm. 67). Tak ada ucapan selamat dari Soeharto untuk Habibie di hari itu.

Tjipta Lesmana menyebut, “taktala menyalami tangan Habibie usai Habibie mengucapkan sumpahnya di depan Ketua Mahkamah Agung, ia (Soeharto) berusaha tersenyum, senyumnya kelihatan tidak ihklas karena ekspresi wajahnya sama sekali tidak mendukung senyumnya.”

Soeharto boleh saja tidak suka harus mundur dan tidak rela Habibie menggantikannya, namun, lanjut Tjipta Lesmana, “secara konstitusional, Soeharto memang harus menyerahkan kekuasaannya kepada Wakil Presiden Habibie setelah ia mengundurkan diri.”


Infografik Soeharto Habibi 1998
Infografik Soeharto Habibi 1998. tirto.id/Nadia


Soeharto yang sudah berpengalaman menjadi orang paling berkuasa di Indonesia tampak ragu kepada B.J. Habibie sebagai presiden, apalagi dalam kondisi morat-marit yang diwariskan oleh rezimnya. Habibie pun merasa dirinya diragukan oleh Soeharto.

Soeharto lalu meninggalkan istana dengan didampingi putri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana. Dia tidak naik mobil sedan, apalagi yang berplat merah B-1, yang biasa digunakan. Bekas tiran Orde Baru itu menaiki mobil jipnya yang bermerek Mercedes-Benz. Dengan mobil itu, Soeharto pulang ke rumahnya di Jalan Cendana.

Soeharto pun kembali jadi orang biasa dan menghabiskan sisa hidupnya dengan keluarga yang tetap kaya di tengah tuntutan-tuntutan hukum atas dirinya. Belakangan Habibie dianggap pengkhianat oleh Soeharto. Seperti Harmoko, Habibie juga dijauhi Soeharto. Silaturahmi antara mereka berdua seolah-olah putus.

Jika Harmoko tidak menyuruh Soeharto berhenti sebagai presiden dan Habibie menolak jabatan Presiden RI menggantikan Soeharto, barangkali ketiganya akan terus akur. Tentu saja Habibie punya pertimbangan sendiri untuk mau menerima dan meneruskan tugas Soeharto sebagai orang nomor satu di Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan