Soeharto dan Atasannya

Soeharto Diselamatkan Gatot Subroto dalam Kasus penyelundupan Beras

Soeharto dan Gatot Subroto. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 3 Agustus 2020
Dibaca Normal 2 menit
Gatot Subroto menyelamatkan karier militer Soeharto pada 1959.
Tahun 1950-an tak sedikit tentara yang terlibat kasus penyelundupan. Jika sekian banyak perwira TNI lancar-lancar saja dalam urusan penyelundupan, maka Soeharta bernasib apes. Tahun 1959 karier militernya nyaris tamat, padahal waktu itu ia tengah menjabat sebagai Panglima Tentara dan Teritorim IV yang kelak bernama Kodam Diponegoro.

Dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989:92) ia mengungkapkan ”diisukan bahwa saya adalah koruptor beras, memperkaya diri dari hasil barter gula.”

Sementara menurut Subandrio dalam Kesaksianku tentang G-30-S (2000:9), ”Semua perwira saat itu mengetahuinya. Bahkan terungkap bahwa penyelundupan itu bukan untuk kepentingan Kodam, tetapi duitnya masuk kantong Soeharto dan Liem.” Kala itu, Soeharto memang sudah dekat dengan Liem Sioe Liong alias Sudono Salim.

Masih kata Subandrio, kasus penyelundupan ini membuat Kolonel Ahmad Yani yang kala itu menjabat sebagai Deputi II Panglima Angkatan Darat dan juga berasal dari rumpun Diponegoro marah kepada Soeharto.


Dan kasus ini pun kemudian sampai juga kepada orang nomor satu di Angkatan Darat, Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution. Kata M. Jasin yang belakangan berseberangan dengan Soeharto dalam Saya Tidak Pernah Minta Ampun kepada Soeharto: Sebuah Memoar (1998:195), Nasution hendak menghukum Soeharto dengan memecatnya dari TNI.

Namun rencana Nasution itu tak terlaksana. Soeharto keburu diselamatkan Mayor Jenderal Gatot Subroto. Kata Soekardjo Wilardjito dalam Mereka Menodong Bung Karno: Kesaksian Seorang Pengawal Presiden (2008:139), ”Satu-satunya perwira yang tidak mencela [Soeharto] hanyalah Jenderal Gatot Subroto.”

Seperti Soeharto dan Ahmad Yani, Gatot Subroto juga berasal dari rumpun Diponegoro. Ia adalah Wakil Kepala Staf Angkatan Darat ketika kasus Soeharto bergulir. Di pucuk pimpinan Angkatan Darat, Gatot adalah perwira tua yang suaranya cukup didengar. Ia berusaha meyakinkan para petinggi Angkatan Darat bahwa ”Soeharto masih bisa diperbaiki.”

”Akhirnya Pak Gatot memutuskan tidak ada yang diragukan dan disalahkan atas tindakan saya itu, dan saya diperintahkan melanjutkan pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD) sampai selesai,” ujar Soeharto.

Setelah lulus dari SSKAD, karier militer Soeharto berlanjut. Ketika Gatot Subroto wafat pada 11 Juni 1962, Ahmad Yani telah menjadi Panglima Angkatan Darat, sementara Soeharto dijadikan Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat yang juga Komando Tjadangan Strategis Angkatan Darat yang belakangan dikenal sebagai Kostrad.

Menurut Soeharto, Gatot Subroto mulai mengenalnya saat terjadi peristiwa Palagan Ambarawa pada Desember 1945. Kala itu, Soeharto masih Komandan Batalion X Yogyakarta dan masih berpangkat Mayor. Sementara Gatot yang pangkatnya Letnan Kolonel adalah salah satu perwira penting di Divisi Purwokerto.

Di Palagan Abbarawa, Soeharto dengan Gatot bertemu di sebuah bukit. Kisah pertemuan mereka terdapat dalam TB Silalahi Bercerita tentang Pengalamannya (2008:186):

”Hei monyet, mari ke puncak sini,” panggil Gatot kepada Soeharto.




Soeharto kemudian diperintahkan untuk mempertahankan bukit tersebut. Malam hari setelah perintah tersebut, bukit itu dibom musuh. Hal itu membuat Gatot merasa bersalah. Setelah pemboman reda, esoknya Gatot mencari Soeharto dan anak buahnya meski ia menyangka bahwa Soeharto telah terbunuh. Namun ternyata Soeharto selamat dari pemboman yang membuat Gatot menjadi lega.

Seperti Gatot Subroto dan Ahmad Yani, naluri tentara Soeharto telah terbentuk sejak ia bekerja sebagai tentara KNIL pada awal 1940-an. Dari ketiganya, di KNIL Gatot Subroto paling senior meskipun capaian pangkatnya sama-sama sampai Sersan.

Pada perjalanan kariernya, Gatot Subroto dikenal sebagai sebagai perwira yang menyenangkan di mata para bawahannya. Meski suka menyebut anak buahnya dengan panggilan "monyet", tetapi ia kerap mengeluarkan humor.

Selain berhubungan baik dengan Gotot Subroto, Soeharto juga mengenal anak angkatnya yang bernama The Kian Seng alias Muhammad Bob Hasan. Sebuah buku bertendensi konspiratif dengan judul Jaringan Zionis van der Plas Jatuhkan Bung Karno (2002: 70) menyebut Bob Hasan sebagai anak kandung Gatot Subroto dengan wanita keturunan Cina.

Terlepas dari cerita miring itu, Bob Hasan menjadi salah satu pengusaha penting saat Soeharto menjadi presiden. Sementara Gatot Subroto terpacak sebagai nama Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat dan sejumlah ruas jalan di pelbagai daerah di Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight