Soeharto dan Dua Anak Buahnya yang Pelaku 'Makar', Untung & Latief

Oleh: Petrik Matanasi - 26 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pelaku penting G30S, Abdul Latief dan Untung, adalah bekas bawahan Soeharto. Kepada keduanya, Soeharto tak bisa menolong dalam kasus makar.
tirto.id - Jenderal (Kehormatan) Luhut Binsar Panjaitan telah membuktikan diri sebagai bekas atasan yang baik kepada Mayor Jenderal Soenarko, mantan Danjen Kopassus yang dituduh makar. Perkara makar bukan perkara main-main. Hukumannya bisa hukuman mati ditambah catatan buruk dalam sejarah tentunya.

Tidak banyak jenderal seperti Luhut. Jenderal Soeharto pun tidak bisa berbaik hati kepada bekas bawahannya seperti Luhut. Meski kondisi antara Luhut saat ini dan Soeharto dahulu tentu berbeda.


Dulu Soeharto tak bisa berbaik hati kepada Letnan Kolonel Untung dan Kolonel Abdul Latief. Tentu karena keduanya pelaku penculikan petinggi Angkatan Darat (Letnan Jenderal Ahmad Yani dan para stafnya) dan cap kepada kedua perwira menengah Angkatan Darat itu adalah "kader PKI sisa pelarian PKI Madiun". Tak mungkin ada penjaminan sebagai tahanan kota atau semacamnya.

Untung harus menerima hukuman mati karena perkara G30S. Sedangkan kepada Abdul Latief, bawahannya yang lain, Soeharto tak bisa menghalaunya dari hukuman penjara selama belasan tahun. Hal terbaik untuk Latief adalah bisa terhindar dari regu tembak.

Tak Menyangkal Kedekatan, tapi Menuduh yang Bukan-Bukan

Soeharto tidak munafik soal hubungannya dengan Untung alias Kusman. “Saya mengenal Untung sudah lama dan sejak menjadi komandan Resimen 15 di Solo, di mana Untung menjadi salah satu komandan kompi di Batalyon 444,” aku Soeharto dalam autobiografi Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989: 123) yang disusun Ramadhan K.H. Lebih lanjut kata Soeharto, Untung adalah kader dari Alimin, salah satu tokoh senior PKI.

Cerita yang banyak beredar antara Soeharto, Latief, dan Untung, seperti dicatat Asvi Warman Adam dalam Menguak Misteri Sejarah (2010: 112) adalah Soeharto hadir ketika Untung menikah di Kebumen, Jawa Tengah; begitu pun ketika anak Latief disunat. Soal Latief, Soeharto juga mengenalnya sejak zaman Revolusi.

“Soeharto kenal dengan saya karena saya bergabung dengan brigadenya,” aku Abdul Latief dalam buku Pleidoi Kol. A. Latief (2000: xxxviii-xxxix).

Waktu Serangan Umum 1 Maret 1949, Latief juga terlibat. Ketika Soeharto berjaya sebagai perwira penting di Jawa Tengah, Latief berada di Jawa Tengah pula. Dia kerap menjadi komandan batalion.

Setelah G30S, nama Latief sudah cemar. Soeharto, kata Latief, pernah menyatakan bahwa Latief adalah pelarian dari pemberontakan Madiun 1948. Padahal, menurut Latief, di masa-masa pecahnya Peristiwa Madiun, dirinya tak berada di Jawa Timur dan berada di sekitar Wonosobo-Temanggung sebagai Medan Brigade IV dengan pangkat mayor.

Di malam jahanam penculikan para jenderal 30 September 1965—yang dikenal sebagai G30S—seperti diakui Soeharto dalam autobiografinya, Latief tidak jauh dari Soeharto, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). “Kira-kira pukul 10 malam saya sempat menyaksikan Kolonel Latief berjalan di depan zaal (ruang) tempat Tomy (Hutomo Mandala Putra, anak laki-laki bungsu kesayangan daripada Soeharto) dirawat,” aku Soeharto (hlm. 118).

Soeharto tak menjelaskan lagi apa persisnya yang dilakukan bekas anak buahnya itu. Latief sendiri mengakui dalam bukunya, sebelum jenderal-jenderal diculik dirinya melaporkan soal langkah-langkah terhadap perwira yang dianggap terlibat Dewan Jenderal. Latief melaporkannya di sekitar tempat Tomy dirawat.

“Dengan laporan saya ini, berarti saya mendapat bantuan moril, karena tidak ada reaksi dari beliau,” tutur Latief dalam bukunya (hlm. 129).

Malam itu Kolonel Latief tak diapa-apakan, setidaknya tidak dihalang-halangi, oleh Soeharto. Apa yang disebut Latief itu seolah-olah menunjukkan bahwa Soeharto sebetulnya tahu soal pengamanan (yang ternyata penculikan) terhadap Letnan Jenderal Ahmad Yani dan kawan-kawan oleh pasukan penculik yang berada di bawah komando Letnan Kolonel Untung.

Soeharto berpuluh tahun berjaya sebagai presiden dan pahlawan. Sementara Latief, meski tak diberi hukuman mati, harus hidup merana di penjara dan baru bebas di hari tuanya.


Kontra-Narasi Orba

Setelah Soeharto lengser barulah muncul narasi-narasi yang menggoyahkan narasi Orde Baru soal G30S dan Soeharto. Termasuk narasi soal Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949. Di zaman Orde Baru, Soeharto seolah-olah jadi pahlawan nomor satu melebihi tokoh lainnya dalam serangan umum atas kota Yogyakarta itu. Sesudah bekas komandannya itu tumbang, Latief baru bisa menyerangnya. Tentu saja lewat buku Pleidoi Kol. A. Latief.

Latief mencatat dalam pleidoinya, ketika 1 Maret 1949, dia diperintahkan Soeharto—yang masih letnan kolonel—menyerang daerah Malioboro. Ketika terjebak dalam pertempuran sengit dengan tentara Belanda dalam serangan balasan, pasukan Latief terdesak dan akhirnya mundur.

“Setelah dapat keluar kota, di desa Sudagaran atau Kuncen kira-kira antara pukul 12.00 siang bertemulah saya dengan Komandan Wehrkreisse Letnan Kolonel Soeharto,” aku Latief (hlm. 95). “Waktu itu beliau sedang beristirahat menikmati makan soto babat.”

Infografik para pemberontak
Infografik para pemberontak. tirto.id/Fuad


Setelah Latief melaporkan hasil serangan umum yang selama 6 jam menguasai kota Yogyakarta itu, Latief bukannya disuruh istirahat sebentar untuk bersama-sama makan soto babat, tapi malah dapat perintah baru. Soeharto memerintahkan Latief menghadang tentara Belanda yang akan bergerak ke Kuncen. Latief harus pusing karena para anak buahnya hanya tersisa 10 orang, sementara yang lain masih tersebar.

Latief tampaknya tidak sakit hati kepada Soeharto. Ketika berdinas di Divisi Diponegoro, Latief pernah ditawari untuk memimpin orang-orang Madura dari daerah Situbondo, Jember, dan Bondowoso dalam Batalyon 408 di Jawa Tengah.

Ketika akan dilaksanakan Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat, Latief sebetulnya hendak diikutkan oleh Soeharto yang jadi panglima operasi dengan pangkat mayor jenderal. Latief hendak dijadikan Komandan Brigade Infanteri Penerjun ke Irian Barat.

“Karena saya akan sekolah Seskoad dibatalkan harus sekolah dulu,” ujar Latief (hlm. xxxi).

Selulus dari Seskoad, Latief menjadi komandan Brigade Infanteri (Brigif) I di Kodam Jakarta Raya. Panglima Kodam kala itu adalah Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah. Latief menyusun sendiri pasukan itu.

Di antara Latief dan Untung, hanya Untung yang kemudian ikut Soeharto. Untung memimpin pasukan raider dari Jawa Tengah. Dalam Trikora, meski tak terang-terangan mengalahkan tentara Belanda dengan telak, Angkatan Darat berjaya. Setidaknya Untung dapat Bintang Sakti bersama Mayor Leonardus Benjamin Moerdani.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan