Soal Puisi Sri Mulyani, BPN: Dia Membanggakan Sesuatu yang Semu

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 2 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Kebanggaan semu itu, kata Ferdinand, dilontarkan lantaran infrastruktur yang dibangun lewat utang
tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membuat sebuah puisi guna menjawab kritik capres Prabowo Subianto yang menyebutnya sebagai “menteri pencetak uang”.

Puisi yang diunggah di akun Instagramnya pada Jumat (1/2/2019) itu berjudul “Kala Kamu Menuduh Aku Menteri Pencetak Utang”.

Namun, Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean menegaskan, klaim Sri Mulyani yang menyebut utang untuk kesejahteraan seperti dalam puisi tersebut, adalah klaim yang sesat.

“Saya sudah baca puisi Sri Mulyani itu ya saya cukup prihatin dan sedih ya. Ketika ada seorang pejabat negara yang membanggakan sesuatu yang semu. Apa yang disebut dia dibangun itu karena semuanya bersumber dari utang,” ujar Ferdinand saat dihubungi Tirto, Sabtu (2/2/2019).

Kebanggaan semu itu, sambung dia, dilontarkan lantaran infrastruktur yang dibangun lewat utang, pada akhirnya infrastruktur bukan menjadi milik bangsa Indonesia, melainkan milik negara maupun lembaga pemberi utang.

“Itu bukan milik kita. Kita punya tapi kita tidak memiliki,” kata dia.

Ia mengibaratkan seperti seseorang yang membeli rumah dan mobil mewah dengan utang. Suatu hari, ketika utang itu gagal terbayar maka mobil dan rumah yang dimiliki itu akan ditarik oleh bank atau lembaga lain yang memberikan utang.

“Semua utang yang semu dan tinggal menunggu waktu ketika kita gagal membayar cicilan dan semua itu akan ditarik kemudian kembali kepada pemilik,” ujar dia.

Sehingga, menurutnya, tak sepantasnya pemerintah menggadang-gadang pemikiran bahwa utang dilakukan untuk kesejahteraan rakyat.


Berikut puisi Sri Mulyani yang diunggah di akun Instagramnya.

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,

Kami menyelesaikan
Ribuan kilometer jalan raya, toll, jembatan Untuk rakyat, untuk kesejahteraan
Kami menyelesaikan
Puluhan embung dan air bersih,
bagi jutaan saudara kita yang kekeringan
Puluhan ribu rumah, untuk mereka yang memerlukan tempat berteduh

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,

Kami bekerja menyediakan subsidi
Jutaan sambungan listrik untuk rakyat untuk menerangi kehidupan, hingga pelosok
Kami terus bekerja
Meringankan beban hidup 10 juta keluarga miskin
Menyediakan bantuan pangan 15 juta keluarga miskin
Menyekolahkan 20 Juta anak miskin untuk tetap dapat belajar menjadi pintar

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,

Kami bekerja siang malam
Menyediakan jaminan, agar 96.8 Juta rakyat terlindungi dan tetap sehat.
Merawat Ratusan ribu sekolah dan madrasah,
agar mampu memberi bekal ilmu dan taqwa,
bagi puluhan juta anak-anak kita untuk membangun masa depannya

Kami tak pernah berhenti,
agar 472 000 mahasiswa menerima beasiswa untuk menjadi pemimpin masa depan
20.000 generasi muda dan dosen berkesempatan belajar di universitas terkemuka dunia untuk jadi pemimpin harapan bangsa.

Puluhan juta petani mendapat subsidi pupuk, benih dan alat pertanian,
170.400 hektar sawah beririgasi untuk petani
Jutaan usaha kecil mikro memiliki akses modal yang murah
Jutaan penumpang kereta dan kapal yang menikmati subsidi tiket
Jutaan keluarga menikmati bahan bakar murah
Jutaan pegawai negeri, guru, prajurit, polisi, dokter, bidan, dosen hingga peneliti mendapat gaji dan tunjangan untuk mengabdi negeri

Terus, Kami terus bekerja, agar 74.953 desa mampu membangun, membasmi kemiskinan. 8.212 kelurahan terbantu untuk melayani rakyat kebih baik
Triliunan rupiah tersedia membantu saudara kita yang terkena bencana membangun kembali kehidupannya

Dan masih banyak lagi yang aku mau ceritakan padamu Agar engkau TIDAK LUPA

Karena itu adalah cerita tentang kita MEMBANGUN INDONESIA

Aku tak ingin engkau lupa itu.
sama seperti aku tak ingin engkau lupa akan sejarah negeri kita.

Baca juga artikel terkait UTANG INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Alexander Haryanto