Soal Kasus "Kain Jarik": Apa Bedanya Fetish dengan Fantasi Seksual?

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 30 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Berikut perbedaan fetish dengan fantasi seksual seperti dalam kasus "Fetish Kain Jarik".
tirto.id - Akun Twitter @m_fikris membuat geger media sosial tatkala membuat utas tentang dugaan pelecehan seksual. Rentetan twit berjudul “Fetish Kain Jarik” tersebut dengan cepat menarik perhatian warganet.

Pelaku diduga, seorang pria bernama depan Gilang, mahasiswa Universitas Airlangga (Unair). Modus dari pelaku ialah melakukan kekerasan seksual dengan kedok, tengah melakukan riset.

Peristiwa yang menimpa MFS, salah satu korban, terjadi pekan lalu, Jumat (24/7/2020). MFS merupakan mahasiswa semester 3 di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Saat beraksi, Gilang menyuruh korbannya untuk diikat menggunakan lakban dan kain jarik seperti jenazah. Semakin lama berkomunikasi, MFS menuruti perintah Gilang. Kemudian menyadari bahwa ia telah mengalami pelecehan seksual.

Para warganet pun menyimpulkan bahwa Gilang kemungkinan memiliki fetish terhadap orang yang dibungkus dengan kain jarik.


Apa itu fetish?

Dilansir WebMD, fetish diartikan sebagai dorongan seksual yang berhubungan dengan benda mati. Orang yang memiliki fetish terhadap suatu benda akan mudah terangsang secara seksual dengan memakai atau menyentuh objek tersebut.

Objek bisa bermacam-macam seperti pakaian dalam, sepatu wanita, boneka, dan lain-lain. Fetish dapat menggantikan aktivitas seksual bersama pasangan, atau bisa juga dikenakan saat beraktivitas seksual bersama pasangan.

Sementara itu, dorongan seksual terhadap benda mati terhadap bagian tubuh tertentu disebut dengan parsialisme. Parsialisme melibatkan gairah seksual terhadap bagian tubuh seperti kaki, payudara, atau bokong.

Gangguan fetish mencakup pengalaman multisensori seperti memegang, mencium, menggosok, memasukkan, atau mencium objek saat masturbasi, atau lebih suka berhubungan seksual ketika pasangan menggunakan objek tersebut.

Menurut Psychcentral, fetish biasanya lebih umum terjadi pada pria ketimbang wanita. Adapun gejala khusus fetish antara lain sebagai berikut:

  • Memiliki fantasi seksual berulang dan intens, memiliki dorongan seksual atau perilaku yang melibatkan penggunaan benda mati selama setidaknya enam bulan.
  • Memiliki fantasi, dorongan seksual, atau perilaku yang menyebabkan tekanan signifikan secara klinis atau penurunan fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi lainnya.

Lantas, apa bedanya dengan fantasi seksual?

Psychology Today menuliskan, fantasi seksual adalah orang yang berfantasi memiliki peran dalam melakukan hubungan seksual. Fantasi ini pun bermacam-macam, dan diperkirakan fantasi tersebut menggambarkan pengalaman dari individu tersebut.

Sementara itu, sifat fantasi seksual mendorong seseorang untuk membayangkan situasi yang jarang terjadi. “Fantasi adalah fantasi karena itu bukan kenyataan. Mereka sering kali dianggap tabu,” ungkap Ian Kerner, PhD., pakar kesehatan seksual pria, seperti dikutip dari Everyday Health.

Penulis buku The Big Fun Sexy Sex Book itu pun menjelaskan bahwa pria cenderung memiliki lebih banyak fantasi seksual dibandingkan dengan wanita. Fantasi seksual umum dimiliki oleh setiap orang.

Sementara itu, fetish muncul akibat rasa trauma di masa lalu, demikian sebagaimana diungkapkan profesor psikiatri di Pusat Kesehatan Universitas Kolombia Dr. Richard Kueger dalam Healthline.

Di sisi lain, Jessica O’Reilly, PhD., penasihat seksualitas mengatakan bahwa fetish termasuk ke dalam fantasis seksual. “Fantasi seksual sangat bervariasi, sehingga fetish mungkin hanya salah satu di antaranya dalam hal minat dan gairah seksual,” ungkap O’Reilly.

“Itu berarti kita akan memiliki selera yang berbeda seperti yang kita lakukan dalam makanan,” lanjutnya. Orang yang memiliki fetish merasa bahwa apa yang ia gemari tersebut menyenangkan sehingga mereka terus menggunakannya dalam kehidupan seksual.


Baca juga artikel terkait FETISH atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight