Soal Indonesia Barokah, Dewan Pers: Harus Sesuai Kaidah Jurnalistik

Oleh: Alfian Putra Abdi - 24 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Media seperti Indonesia Barokah sah menunjukan pandangan politik dalam editorial. Asal tidak mencampur aduk antara fakta dan opini dalam satu berita yang dimuat.
tirto.id - Penerbitan tabloid Indonesia Barokah dinilai wajar oleh Dewan Pers dalam era kebebasan pers saat ini sepanjang bertanggung jawab dengan memenuhi kaidah jurnalistik.

Anggota Dewan Pers Nezar Patria mengaku masih mengkaji konten tabloid Indonesia Barokah. Namun, sepanjang tabloid itu memenuhi kaidah jurnalistik, kata Nezar, tak jadi soal, justru menambah keragaman dunia pers di Indonesia.

"Kalau Obor Rakyat dan Indonesia Barokah mau menjadi media yang mengikuti syarat-syarat yang ditetapkan oleh UU Pers, misalnya berbadan hukum, taat kode etik jurnalistik, dikelola secara profesional, tentu akan memperkaya keragaman isi pers nasional," ujarnya ketika dihubungi Tirto, Kamis (24/1/2019).

Menurut Nezar, media seperti Indonesia Barokah dan Obor Rakyat, sah menunjukan pandangan politik dalam editorial. Asal tidak mencampur aduk antara fakta dan opini dalam satu berita yang dimuat.


"Meskipun dalam sikap mereka partisan, tapi mereka harus taat pada kode etik jika menyiarkan fakta dan peristiwa," lanjutnya.

Namun beda soal, lanjutnya, apabila kedua media tersebut hanya berdiri sebagai corong propaganda untuk kepentingan politik semata, kemudian abai kaidah dan kode etik jurnalistik. Menurut dia, itu bukan lagi produk jurnalistik.

"Dan bahkan [kalau ada media] menjadi alat menyebarkan hoaks dan berita bohong, tentu saja akan berurusan dengan hukum atau UU yang lain, dan itu bukan wilayah pers," tegasnya.

Kategori media yang bukan kewenangan Dewan Pers, kata dia, berlaku bukan hanya untuk kedua media di atas, melainkan untuk semua media.

Sebelumnya ramai dibicarakan hadirnya amplop cokelat di beberapa masjid di Jawa Tengah dan Jawa Barat beberapa waktu yang lalu. Isinya adalah setumpuk tabloid berjudul Indonesia Barokah edisi pertama.

Tabloid tersebut bertajuk “Reuni 212: Kepentingan Umat atau Kepentingan Politik?” dengan semua huruf kapital. Gambar di halaman depan menampilkan karikatur orang memakai sorban dan memainkan dua wayang. Tabloid terbit pada Desember 2018, tapi baru ramai dibicarakan Selasa (22/1/2019).


Baca juga artikel terkait PERS atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Zakki Amali