Menuju konten utama

SMRC: Cawapres Tak Mampu Dongkrak Elektabilitas Capres di 2024

Figur cawapres tidak mampu mendongkrak elektabilitas capres pada Pilpres 2024. Tiga nama yang diuji SMRC yakni Ganjar, Prabowo dan Anies.

SMRC: Cawapres Tak Mampu Dongkrak Elektabilitas Capres di 2024
Logo SMRC. Twitter/@saifulmujani

tirto.id - Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis temuan terbaru ihwal urgensi wakil mendongkarak elektabilitas calon presiden (capres) pada Pemilu 2024.

Pendiri SMRC, Saiful Mujani melakukan eksperimen terhadap tiga nama yang dianggap cukup kompetitif menjelang perhelataan pesta demokrasi lima tahuan itu. Ketiga nama tersebut antara lain: Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.

"Dalam pengamatan kita menjelang 2024 ini, ada tiga nama yang cukup kompetitif," kata Saiful dalam diskusi bertajuk "Cawapres Penting untuk Elektabilitas Capres?" dikutip dari kanal Youtube SMRC TV, Kamis (30/3/2023).

Menurut Siaful, dari tiga nama itu tidak ada satu pun calon yang memiliki elektabilitas mencapai 50 persen. Oleh karena itu, semua calon berharap ada kenaikan elektabilitas dari sosok yang mendampingi mereka.

"Bagaimana caranya untuk menaikkan itu, calonnya yang bisa memperkuat nomor satu [capres] untuk memenangkan pasangannya itu nanti," ucap Saiful.

Ia mengatakan SMRC melakukan studi eksperimental untuk melihat hubungan kausal antara wakil dengan capres itu sendiri.

"Kalau yang jadi sebab itu wakil, akibatnya hasil ketika nama itu dimasukkan dalam simulasi kita," tuturnya.

Dalam variabel kontrol, ditanyakan siapa yang akan dipilih jika Ganjar berhadapan dengan Anies dan Prabowo. Hasilnya, Ganjar mendapatkan 41 persen, Prabowo 29 persen, dan Anies 23 persen. Sementara 7 persen lainnya tidak menjawab.

Ganjar Pranowo

Dalam treatment Ganjar berpasangan dengan Airlangga Hartarto melawan Prabowo dan Anies, suara Ganjar menjadi 37 persen. Sedangkan Prabowo 27 persen, Anies 25 persen, dan tidak jawab 11 persen.

Lalu, bila Ganjar berpasangan dengan Erick Thohir, maka Gubernur Jawa Tengah itu Ganjar mendapat 36 persen, Prabowo 24 persen, Anies 26 persen, dan tidak jawab 14 persen.

Kemudian jika Ganjar dipasangkan dengan Khofifah Indar Parawansa maka dia akan memperoleh angka 38 persen. Sedangkan Prabowo mendapat 24 persen, Anies Baswedan 28 persen dan tidak jawab 9 persen.

Selanjutnya, jika Ganjar dipasangkan dengan Mahfud Md maka dia akan memperoleh angka 35 persen, Prabowo 26 persen dan Anies 24 persen. Adapun yang tidak menjawab 15 persen.

Sedangkan bila Ganjar dipasangkan dengan Ridwan Kamil, maka ia akan memperoleh angka 40 persen, Prabowo 28 persen, Anies 22 persen, dan tidak menjawab 10 persen. Saiful berpendapat memasangkan Ganjar dengan Ridwan Kamil mampu menaikkan suara Ganjar di wilayah Jawa Barat.

"Nama-nama tadi yang kita sebutkan itu tidak membantu Ganjar kalau dilihat dari sisi elektabilitas. Kalau pertimbangannya untuk menaikkan elektabilitas Ganjar, itu tidak bisa. Setidaknya itu menurut hasil penelitian kita Maret ini, tapi bisa saja berubah karena ada mobilisasi dan sebagainya. Jadi kalau mau pilih salah satu dari orang ini, pertimbangannya bukan untuk menaikkan elektabilitas. Mungkin pertimbangannya leadership, kompetensi, dan sebagainya," tutur Saiful.

Anies Baswedan

Adapun jika Anies dipasangkan dengan Airlangga, suara Anies menjadi 28 persen, Ganjar 29 persen, Prabowo 23 persen, tidak jawab 19 persen.

Jika berpasangan dengan AHY, suara Anies menjadi 26 persen, Ganjar 44 persen, Prabowo 20 persen, dan tidak jawab 10 persen.

Kemudian, bila berpasangan dengan Ahmad Heryawan, suara Anies menjadi 21 persen, Ganjar 35 persen, Prabowo 34 persen, dan tidak jawab 10 persen.

Jika berpasangan dengan Andika Perkasa, suara Anies 19 persen, Ganjar 45 persen, Prabowo 24 persen, dan tidak jawab 13 persen.

Lalu jika berpasangan dengan Khofifah, suara Anies 30 persen, Ganjar 33 persen, Prabowo 28 persen, dan tidak jawab 9 persen.

"Hasilnya semua nama-nama tadi untuk mendongkrak Anies lebih kompetitif nampaknya tidak bisa membantu, seperti halnya nama-nama tadi untuk bantu Ganjar, tidak ada yang bisa membantu," jelas Saiful.

Prabowo Subianto

Pada variabel kontrol, ditanyakan jika Prabowo maju sebagai calon presiden berhadapan dengan Ganjar dan Anies, siapa yang akan dipilih? Prabowo didukung 27 persen, Anies 23 persen, Ganjar 37 persen, dan tidak jawab 13 persen.

Bila Menteri Pertahanan itu berpasangan dengan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, suaranya menjadi 34 persen, Anies 21 persen, Ganjar 35 persen, dan tidak jawab 10 persen.

Lalu, bila berpasangan dengan Airlangga, suara Prabowo menjadi 18 persen, Anies 26 persen, Ganjar 43 persen, dan tidak jawab 12 persen.

Jika berpasangan dengan Khofifah, Prabowo didukung 25 persen, Anies 19 persen, Ganjar 43 persen, dan tidak jawab 13 persen.

Kemudian, jika berpasangan dengan Mahfud Md, suara Prabowo 31 persen, Anies 28 persen, Ganjar 32 persen, dan tidak jawab 9 persen.

Jika berpasangan dengan Puan Maharani, suara Prabowo menjadi 25 persen, Anies 29 persen, Ganjar 33 persen, dan tidak jawab 12 persen.

"Nama-nama (cawapres) yang dicoba diharapkan bisa mendongkrak suara di kontestasi Pilpres ini, ternyata secara empiris tidak bisa diharapkan untuk membantu. Kalau mau merekrut mereka sebagai wakil, pertimbangannya bukan elektabilitas, tapi pertimbangannya yang lain," pungkas Saiful.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2024 atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - Politik
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Fahreza Rizky