Menuju konten utama

SMRC: Cawapres Tak jadi Penentu Kemenangan pada Pilpres 2024

Meski tidak mempertimbangkan aspek sosiologis, uniknya pasangan SBY-Boediono justru memenangkan kontestasi 2009 satu putaran.

SMRC: Cawapres Tak jadi Penentu Kemenangan pada Pilpres 2024
Logo saiful mujani research and consulting. FOTO/saifulmujani.com

tirto.id - Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani menyebut faktor calon wakil presiden (cawapres) tidak menjadi penentu kemenangan dalam Pilpres 2024. Hal itu didasari pada pengalaman Pilpres 2009 dan 2019 lalu.

"Unsur wakil tidak terlalu penting sebetulnya kalau dilihat dari dua kasus di Pilpres 2009 dan 2019," kata Saiful dalam diskusi bertajuk "Cawapres Penting Untuk Elektabilitas Capres?" dikutip dari kanal Youtube SMRC TV, Kamis (30/3/2023).

Saiful mengungkap pada Pilpres 2009 lalu, pasangan petahana Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono tidak mempertimbangkan aspek keragaman kultural atau sosiologis di antara pemilih Indonesia.

Aspek sosiologis atau kultural dimaksud adalah corak masyarakat Indonesia seperti kalangan santri, nonsantri, abangan, priayi, dan lain sebagainya. Istilah ini kerap disampaikan pengamat politik di tanah air.

"Kita tahu bahwa Pak SBY orang Pacitan, Pak Boediono Blitar, kurang lebih bertetangga, sama-sama Jawa Timur, Jatimnya daerahnya mataraman, bukan tapal kuda, secara tradisional dalam istilah ilmu politik lama itu (mataraman) daerah abangan, atau daerah priayi, bukan daerah santri, daerah santri ini banyak orang NU, ya, daerah tapal kuda," urai Saiful.

Meski tidak mempertimbangkan aspek sosiologis, uniknya pasangan SBY-Boediono justru memenangkan kontestasi satu putaran. SBY, lanjut Saiful, memilih Boediono atas dasar kompetensi.

"Kemudian, ambillah Pak Boediono waktu itu dengan mengabaikan unsur sosiologis. Itu banyak dikritik waktu itu, banyak yang yakin itu enggak akan berhasil, kata Pak Amien Rais itu tidak sesuai dengan kebiasaan, pakem politik Indonesia dalam memilih wakil, tapi kita lihat hasilnya Pak SBY-Boediono menang satu putaran kurang lebih 60-an persen," ungkap Saiful.

Sementara pada Pilpres 2019, petahana Joko Widodo mengambil wakilnya Ma'ruf Amin. Kala itu tidak ada yang membayangkan politikus PDI Perjuangan tersebut menggaet Ma'ruf.

"Tapi kita lihat hasilnya pasangan ini memenangkan Pilpres 2019 lalu, bahkan Pak Jokowi tidak bisa terlalu bisa banyak berharap dari kampung Pak Ma'ruf Amin sendiri dari Banten, tetapi di Banten pasangan ini kalah telak, artinya unsur wakil tidak terlalu penting nampaknya, ya, jika melihat dari dua kasus ini: (Pilpres) 2009 dan 2014," pungkas Saiful.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2024 atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - Politik
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Fahreza Rizky