Smartphone Tanpa Lubang Colokan 3,5 mm, Apa Untung Ruginya?

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 16 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Hilangnya lubang audio jack 3,5 mm membawa perubahan luar biasa pada kultur teknologi dunia. Masalahnya, teknologi bluetooth belum bisa menghasilkan suara yang benar-benar jernih.
tirto.id - Suatu hari di September 2016, Chief Executive Officer (CEO) Apple Tim Cook mengatakan di hadapan ratusan audiens yang menyaksikan peluncuran iPhone 7: "iPhone adalah standar tertinggi industri. Ponsel yang kerap jadi rujukan perbandingan oleh semua ponsel lainnya."

"iPhone telah mengubah cara kita melakukan sesuatu setiap hari. Dalam prosesnya ia telah menjadi fenomena kebudayaan, menyentuh banyak sekali kehidupan dan orang-orang di seluruh dunia."

Meski terdengar pongah, klaim Cook bukanlah bualan. Dua tahun berselang, iPhone perlahan-lahan memancing industri smartphone untuk membunuh salah satu ikon kultur industri teknologi yang paling fenomenal dalam 100 tahun terakhir: lubang colokan jack atau port 3,5 mm.

Waktu itu, Phil Schiller, yang menjabat presiden pemasaran perusahaan asal Cupertino itu, mengklaim bahwa keputusan Apple menyingkirkan lubang jack headset dari produk iPhone 7 sebagai sebuah 'keberanian'. "Keberanian untuk bergerak maju, untuk melakukan sesuatu hal baru yang mampu membuat kita lebih baik," ujarnya.

Keputusan untuk menghilangkan lubang 3,5 mm sesungguhnya patut dipertanyakan, mengingat Apple memiliki perusahaan headset Bluetooth nomor satu dunia: Beats. Meski demikian, dampaknya sungguh terasa di dunia teknologi.

Menurut laporan dari Futuresource Consulting, penjualan headset nirkabel adalah salah satu segmen penjualan yang mengalami pertumbuhan paling cepat. Pada kuartal 2 tahun 2017, misalnya, penjualan headset nirkabel dengan teknologi peredam kebisingan (noise cancelling) tercatat pada angka 1,3 juta unit, tumbuh sebesar 42 persen.

Namun, Apple tak sendirian. Dalam peluncuran produk telepon pintar Pixel generasi pertama, Google mengolok-olok Apple karena menghilangkan lubang 3,5 mm dari iPhone. Namun, akhirnya Google menjilat ludah sendiri. Dalam peluncuran Pixel 2 dan Pixel XL 2, pada Oktober tahun lalu, Google pun menghilangkan lubang audio 3,5 mm.

Ketika meluncurkan iPhone 7, Apple memperkenalkan headset Bluetooth nirkabelnya: Airpods. Saat meluncurkan Pixel 2, Google pun mengumumkan headset Bluetooth bernama Pixel Buds.

Dalam beberapa bulan terakhir, tren mengenyahkan lubang 3,5 mm diikuti oleh sejumlah perusahaan telepon pintar lainnya. Perusahaan dengan penjualan telepon pintar nomer satu di dunia Huawei, misalnya, turut ikut dalam tren ini melalui Huawei Mate 10 Pro. Selain Huawei, HTC, Sony, Lenovo pun tak ketinggalan.

Produsen raksasa yang masih mempertahankan lubang 3,5 mm ini termasuk LG, Samsung, serta yang saat ini sedang naik daun OnePlus. Meski demikian mengingat tren yang ada bukan tidak mungkin, perusahaan-perusahaan itu juga akan turut bergabung dalam gerbong tren ini.


Hidup Tanpa Lubang Colokan 3,5 mm

Hidup tanpa lubang audio 3,5 mm membutuhkan adaptasi.

Bayangkan, pengguna ponsel harus terbiasa membawa kabel adaptor atau biasa disebut dongle, ke mana pun mereka pergi jika ponsel mereka tak punya jack 3,5 mm.

Selain kehidupan dongle yang serba ribet, YouTuber teknologi paling berpengaruh di Amerika Serikat Marques Brownlee menunjukkan kelemahan lain dari hilangnya lubang tersebut di telepon-telepon pintar keluaran baru: pengguna tidak bisa mendengarkan lagu sembari melakukan pengisian daya, ataupun sebaliknya.

Dalam sebuah cuitan-nya, Marques mengatakan bahwa sesungguhnya, ia tidak memiliki masalah dengan tren hilangnya lubang 3,5 mm dari telepon pintar. Namun, ia menegaskan, "kita seharusnya mendapatkan lebih dari satu lubang."

Protes Marques beralasan. Pasalnya, perusahan-perusahaan telepon pintar yang melenyapkan lubang 3,5 mm hanya menyediakan satu lubang, entah itu lubang lightning pada iPhone, atau USB tipe-C atau mikro pada telepon pintar Android.

Selain itu, apabila lubang satu-satunya pada perangkat pintar Anda rusak karena terlalu sering berganti-gantian dicolok oleh jack headset dan pengisi daya, maka tamatlah riwayat perangkat pintar anda.

Pada saat bersamaan, teknologi nirkabel Bluetooth saat ini belum cukup baik untuk dapat menyaingi kualitas suara yang ditransfer melalui lubang analog 3,5 mm.

Infografik Audio Jack


Seperti dilaporkan oleh Android Authority, teknologi Bluetooth memang sudah jauh lebih maju dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, terdapat sejumlah audio codec penunjang kualitas audio via Bluetooth yang cukup menjanjikan, mulai dari aptX, AAC, aptX-HD, dan LDAC.

Namun, gelombang audio yang bergerak dari telepon pintar menuju headset Bluetooth mengalami beberapa kali proses encoding sehingga kualitas suaranya berkurang.

Masalahnya, cara teknologi Bluetooth memperlakukan berkas audio tidak banyak berubah sejak 2004. Bluetooth versi terbaru 5.0 yang baru saja dirilis pada banyak perangkat pintar sejak tahun lalu diharapkan akan mengubah skena audio nirkabel. Tak seperti pendahulunya, Bluetooth 5.0 memiliki kemampuan untuk melakukan streaming multi-audio. Meski demikian, hal ini sejatinya tidak membawa perubahan signifikan pada kualitas suara pada headset Bluetooth.

Harga headset Bluetooth berkualitas pun jauh di atas headset analog dengan input keluaran 3,5 mm. Sebagai gambaran, untuk mendapatkan kualitas audio yang cukup baik, setidaknya kita perlu mengeluarkan uang di atas Rp1 juta rupiah. Itu pun kualitas audionya masih di bawah headset analog dengan harga yang sama.

Satu unit headset Sony WH1000XM2 yang memiliki sertifikasi Hi-Fi (High-Fidelity), misalnya, dibanderol dengan harga sekitar Rp5 juta. Di sisi lain, headset Sony MDR1A yang memiliki dynamic driver sama dengan WH1000XM2 dapat ditemuan dijual dengan harga Rp1,5 juta.

Selain itu, pilihan model headset analog pun lebih banyak jika dibandingkan dengan headset nirkabel.


Apa Untungnya?

Namun, bukan tidak mungkin teknologi Bluetooth yang merupakan teknologi nirkabel paling terkenal saat ini akan terus berkembang pesat seiring naiknya permintaan pasar.

Meski kualitas audionya masih lebih rendah ketimbang suara headset analog, bagi orang awam kualitasnya sudah cukup baik. Format codec aptX dan LDAC, misalnya, menjanjikan kualitas pemutaran audio setara Compact Disc (CD), meski teknologi ini tidak gampang ditemukan di banyak perangkat.

Selain itu, jika dibandingkan dengan lubang audio jack 3,5 mm, lubang USB type-C menjanjikan masa depan kualitas audio yang lebih baik. Penggunaan lubang 3,5 mm mengandaikan konversi gelombang suara dari analog ke digital. Dalam perjalanannya, konversi ini dapat mengalami gangguan suara yang dikeluarkan oleh motherboard dan CPU dari perangkat pintar serta gangguan gelombang eksternal lainnya sehingga mengganggu kejernihan suara yang dikeluarkan. Inilah yang menyebabkan headset analog kadang mengeluarkan suara berdengung, padahal tidak ada musik atau suara dari perangkat pintar.

Pada USB type-C, gangguan suara ini dapat diminimalisir atau dihilangkan karena tidak ada proses konversi digital ke analog. Proses transfer data audio berlangsung murni secara digital.

Tanpa lubang 3,5 mm, perusahaan teknologi juga lebih bebas menjajaki desain serta aspek teknologi yang lain yang dapat disematkan pada perangkat pintar, sehingga mendorong perkembangan teknologi yang lebih dinamis lagi di masa depan.

Baca juga artikel terkait SMARTPHONE atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf