SLB Asih Manunggal, Sekolah Sukarela yang Dirusak Anarko-Sindikalis

Oleh: Alfian Putra Abdi - 3 Mei 2019
Dibaca Normal 1 menit
Salah satu objek yang divandal oleh kelompok anarko-sindikalis di Bandung adalah sebuah Sekolah Luar Biasa bernama Asih Manunggal.
tirto.id - Kepala Sekolah SLB C Asih Manunggal, Wiwin Wiartini, mengatakan kondisi sekolahnya kian membaik sejak Kamis (2/5/2019) pagi. Sehari sebelumnya, sekolah yang beralamat di Jl. Singaperbangsa No.107, Lebakgede, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat ini ramai dibicarakan warganet lantaran menjadi sasaran vandalisme sekelompok anarko-sindikalis saat May Day 2019.

Meski belum ada pernyataan resmi bahwa yang melakukan itu adalah kelompok anarko-sindikalis, akan tetapi foto-foto SLB diunggah di akun Twitter Anarchists Worldwide, yang menyebut diri sebagai akun "worldwide anarchist news".

"Walaupun tadi pagi anak-anak sempat ada yang trauma. Mereka sepertinya tidak mau ke sekolah, kayaknya ketakutan," kata Wiwin kepada reporter Tirto.

Para peserta didik dan tenaga ajar kembali menjalankan rutinitas seperti biasa, walaupun jam masuk sedikit telat, yang semestinya 08.00 menjadi 09.00.

"Hari ini ada sekitar 30 orang siswa yang masuk. Mulai dari SD hingga pasca-SMA," tambahnya.

Wiwin sudah menjadi kepala sekolah sejak lima tahun lalu. Sekolah itu dibentuk oleh empat orangtua peserta didik pada tahun 2000. Mereka adalah Koen Soekarno, Setyo Wibowo, Zaenal Arifin, dan Yuyus Sumarno Ilyas.

Mereka mendirikan SLB karena merasa fasilitas publik itu masih sangat minim. Mereka juga berharap sekolah bisa membantu anak berkebutuhan khusus lain.

SLB C Asih Manunggal berbentuk yayasan. Tanah yang mereka gunakan masih milik Pemkot Bandung. Mereka masih menyewanya.

"Jadi hak guna pakai saja," ujarnya.


SLB C Asih Manunggal saat ini diisi sembilan siswa di tingkat SD, SMP 15 orang, dan SMA sembilan orang. Mereka juga memiliki 15 siswa penyandang tunagrahita atau lemah pikiran pada jenjang pasca-SMA. Peserta didik jenjang pasca-SMA dilatih membuat kerajinan tangan seperti kriya kayu, tata boga, hingga keset.

Dengan segala keterbatasan, Wiwin tetap mempertahankan peserta didik jenjang pasca-SMA dengan harapan setidaknya mereka punya kegiatan.

"Mereka IQ-nya kurang, jadi kalau kembali ke rumah akan menurun. Kalau mereka di sekolah, paling tidak ada interaksi dengan yang lain," katanya.

Bayar Iuran Sukarela


Semua peserta didik yang bersekolah di SLB C Asih Manunggal dikenakan iuran, yang menurut Wiwin, alakadarnya. Hanya Rp100 ribu hingga Rp125 ribu. Ini akan dipakai untuk membayar gaji guru dan operasional sekolah.

"Guru yang digaji yayasan itu ada enam. Kami juga mendapat bantuan tenaga dari pemerintah, guru PNS sebanyak delapan orang," akunya. Dia bilang gaji para guru non-PNS tidak lebih dari Rp1 juta. Tentu saja tak cukup memenuhi kebutuhan hidup, tapi karena semangat sukarela, mereka tetap bertahan.

Dengan segala keterbatasan finansial itu, ia punya semangat agar sekolah tetap beroperasi dan anak-anak berkebutuhan khusus tetap mendapatkan hak pendidikan. Wiwin juga bilang pengelola sekolah tak mungkin menaikkan iuran.

"Peserta didik di sini rata-rata kurang mampu, jadi susah kalau diminta sharing cost," ujarnya.


SLB Asih Manunggal
undefined


Beruntungnya, sekolah mendapatkan sejumlah bantuan dari pemerintah, baik itu dalam bentuk beasiswa atau dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Akan Dimural


Saat ini tembok sekolah berkelir oranye masih belum bersih. Belum ada uangnya. Ada simbol "A"--maksudnya anarkisme--di mana-mana. Ada pula coretan "ACAB", yang artinya All Cops Are Bastards.

Untungnya, menurut Wiwin, ada sejumlah kelompok yang bersedia melakukan pengecatan ulang.

"Ada beberapa komunitas remaja dan mahasiswa yang peduli. Mereka mau memperbaiki cat sekolah kami. Saat ini kami sedang berkoordinasi dengan mereka. Katanya ada yang mau dibuatkan mural juga," ujarnya.

Baca juga artikel terkait HARI BURUH atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Rio Apinino
DarkLight