Sistem di Balik Pengumpulan Nasi Kotak Reuni 212

Oleh: Felix Nathaniel - 15 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Bagaimana kelompok 212 mempersiapkan logistik, termasuk nasi kotak, untuk reuni Desember nanti?
tirto.id - Logistik adalah salah satu aspek penting dalam demonstrasi atau acara lain yang melibatkan banyak orang. 212—merujuk pada kelompok penentang bekas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok—tahu betul mengenai itu.

Buktinya, mereka sampai perlu menunjuk orang khusus untuk menangani logistik untuk Reuni Akbar 212 yang rencananya diselenggarakan di Monas, 2 Desember mendatang. Orang tersebut adalah Verry Koestanto. Jabatan resminya dinamakan Ketua Divisi Logistik Reuni Akbar 212.

Salah satu logistik yang dimaksud adalah nasi kotak. Untuk reuni ke-2 ini, ia menargetkan bisa mengumpulkan hingga 40 ribu nasi kotak. Meski dibanding tahun lalu jumlahnya merosot tajam (tahun lalu diperkirakan ada 1 juta orang turut serta), tapi tetap saja terasa berat.

“Jadi kalau kami diminta mengumpulkan sampai jutaan itu tentu sulit, ya,” kata Verry kepada reporter Tirto, Kamis (15/11/2018).

Tak ada beban jika tidak mampu memberi makan semua peserta reuni, kata Verry. Jika nanti hanya terkumpul seribu nasi kotak pun tak masalah. Sebab dalam demonstrasi sebelumnya tak ada peserta yang mengeluh.

“Bukan berarti peserta aksi itu mengharapkan makanan. Sebetulnya mereka datang kan sudah bawa persediaan juga, uang untuk makan. Hanya saja kami sediakan makanan karena tidak seluruh rumah makan bisa menampung jumlah massa,” ujarnya.


Pakai Cara Masing-masing


Verry Koestanto menyanggupi permintaan menjadi koordinator logistik Reuni Akbar 212 sekitar tiga bulan lalu. Keputusan itu diambil dalam rapat yang dihadiri Persaudaraan Alumni 212, Front Pembela Islam (FPI), hingga Ormas Kebangkitan Jawara dan Pengacara (Bang Japar).

Sejauh ini, 40 komunitas sudah bergabung dalam divisi logistik Reuni Akbar 212. Masing-masing komunitas yang seluruhnya berada di Jabodetabek itu mengumpulkan dana dengan caranya masing-masing.

Sebagai contoh komunitas Nasi Jum’at Dakwah Keberkahan Ilahi (Sijum DKI). Untuk mendapat uang, kelompok ini menggaet donatur dan menjual topi.

“Ini berguna untuk donatur dari luar daerah yang tidak bisa mengirimkan bantuan berupa logistik tapi ingin membantu dengan mentransfer [uang] ke rekening-rekening yang ada,” kata Verry.

Verry tidak pernah bertanya berapa nominal donasi yang masing-masing kelompok telah dapatkan. Biasanya komunitas hanya menyebutkan berapa nasi kotak dan air mineral yang bisa mereka sediakan.


Saat Reuni Akbar 212 nanti, 40 komunitas itu akan disebar di area kegiatan. Mereka akan ditempatkan di beberapa posko, lengkap dengan banner dan poster yang menunjukkan mereka menyediakan nasi kotak secara resmi.

“Bukan kami mau berpikir negatif, tapi kami harus waspada. Jangan sampai ada penyusup yang mengaku divisi logistik 212 membagikan [nasi] yang ternyata isinya sudah diracuni,” katanya.

Meski demikian Verry tetap mempersilakan siapa saja yang ingin menyumbang air mineral dan makanan ke posko. Dia menegaskan akan ada mobil yang berkeliling untuk mendistribusikan makanan.

Lokasi posko belum jelas karena Pemprov DKI Jakarta belum memastikan di mana peserta Reuni Akbar 212 bisa masuk areal Monas. Biasanya kepastian baru diketahui dua hari sebelum acara.

“Pokoknya nanti sibuk sekali itu di H-2 itu,” tegasnya.

Isu Utama dan Persiapan Polisi


Reuni Akbar 212 akan mengusung isu utama kasus pembakaran bendera di Garut, Jawa Barat. Para petinggi ormas yang tergabung dalam agenda itu menganggap bendera yang dibakar ialah bendera bertuliskan kalimat tauhid.


Reuni ini juga akan menyuarakan isu pemeriksaan Rizieq Shihab oleh otoritas Arab Saudi. Mereka menganggap ada konspirasi penjebakan Rizieq dalam peristiwa itu.

“Kami bela kalimat tauhid dan tuntutan masih sama seperti tahun lalu. Stop kriminalisasi ulama dan penjarakan penista agama,” tegas Juru Bicara Persaudaraan Alumni 212 Novel Bamukmin kepada reporter Tirto.

Kadiv Humas Polri Brigjen Muhammad Iqbal menyatakan semua orang berhak menyampaikan pendapat. Akan tetapi, tidak semua aspirasi harus disampaikan dalam bentuk unjuk rasa.

“Kami mengimbau semua panitia pelaksana untuk duduk bareng dulu untuk membicarakan gimana [bentuk penyampaian aspirasi],” ucap Iqbal di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Rabu (14/11/2018) kemarin.

“Semua rencana dilihat dulu untung ruginya,” lanjutnya.

Baca juga artikel terkait REUNI 212 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Dieqy Hasbi Widhana