Sisi Gelap Surga Livi Zheng: Koneksi Bisnis Bapaknya di Kemayoran

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 27 Agustus 2019
Dibaca Normal 9 menit
Livi Zheng mendapatkan sorotan berlebihan sebagai sineas. Aslinya: ada jaringan bisnis serba tertutup di belakangnya.
tirto.id - Siapakah Livi Zheng? Mengapa ia terlihat dekat dengan para pejabat tinggi Indonesia? Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kapolri Tito Karnavian, Ketua DPR Bambang Soesatyo, hingga Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan tampak girang mempromosikannya.

Reputasinya dibesar-besarkan—dan untuk itu kita harus melongok pada industri kehumasan di belakangnya, ditelan bulat-bulat oleh media serta terpampang di media sosial—sampai-sampai kita lebih tahu namanya ketimbang (kualitas) film-film yang diproduksinya.

Nama asli Livi adalah Livia Notoharjono. Jejak itu kami dapatkan dari akun Facebook adiknya, Ken Wiratheda Zheng, yang mengunggahnya pada 2 Maret 2014.

Atas petunjuk awal itu, kami mendapati iklan berita duka di Harian Kompas. Isinya, kabar kakek Livi, Yoseph Noto Hardjono atau The Khing Bo, meninggal dunia pada 17 Juli 2012. Di situ tertera Livi tengah menempuh sarjana di Amerika Serikat; sementara Ken bersekolah di Tiongkok. (Tautan sudah nonaktif tapi terarsip rapi di sini.)

Ayah Livi bernama Gunawan Witjaksono atau akrab dikenal The Hok Bing, sementara ibunya bernama Lilik Juliati atau Lili The Hok Bing. Melalui akses data terbuka lainnya, kami mendapati informasi Livi kelahiran Malang, Gunawan Blitar, dan Lilik Tangerang.

Rumah Produksi Sun and Moon Films

Lilik Juliati berperan mencangkok masa awal karier Livi pada musim panas 2012. Saat itu Livi, berusia 25 tahun, dikenalkan sebagai sutradara, pemeran utama, sekaligus penulis naskah film Brush with Danger. Livi disebut-sebut mengurusi ratusan kru dan pemain film yang umurnya melampaui dirinya.

Untuk memfasilitasi debut Livi, Lilik mendirikan perusahaan rumah produksi Sun and Moon Films Limited Liability Company (LLC), yang didaftarkan ke divisi korporasi sekretaris negara Washington, Amerika Serikat, pada 13 Maret 2012. Perusahaan ini bergerak di bidang hiburan, seni, dan rekreasi. (Arsip perusahaan di Washington bisa diakses di sini.)

Dalam arsip sertifikat pembentukan perseroan terbatas itu, Lilik Juliati bertindak sebagai pendiri sekaligus gubernur atau serupa direktur perusahaan. Ia mencantumkan alamat surel livikenzheng@gmail.com, nama gabungan Livi dan Ken. Sementara 'Zheng' disematkan menjadi nama belakang keduanya.

Alamat Lilik di daerah Cinere Mas Tangerang, Banten. Sementara alamat Sun and Moon Films semula di Seattle, kota terbesar di Washington.

Dalam dokumen laporan awal, 14 Juni 2012, Lilik menambahkan nama Zane Thomas sebagai manajer alias pengawas kerja harian yang melaksanakan instruksi direktur perusahaan. Alamat Zane disamakan dengan Sun and Moon Films. Zane adalah produser eksekutif Brush with Danger.

Tak lama, Sun and Moon Films dipindahkan ke apartemen di Everret, Washington, berdasarkan laporan tahunan pada 4 September 2013. Surel perusahaan itu diubah menjadi zane@sunandmoonfilms.com. Namun, dalam laporan tahunan selanjutnya (2014 sampai 2017), alamat email perusahaan kembali ke semula.

Tahun selanjutnya, perusahaan itu dipindahkan lagi tapi dengan alamat ganda. Pada 2015 ke pinggiran kota Tukwila, Washington, dengan alamat khusus surat-menyurat di Spokane County, sebuah daerah yang angka rata-rata kematiannya lebih tinggi daripada negara bagian Washington dan Amerika Serikat.

Dalam laporan terakhir, 26 April 2019, Sun and Moon Films dipindahkan kembali ke wilayah Seattle, dengan alamat surelnya diubah menjadi sunandmoonfilmusa@gmail.com. Alamat rumah produksi itu berbeda dengan keterangan yang dicantumkan dalam Linkedin perusahaan, yakni Sunset Boulevard, LA, sekitar 4 mil dari Dolby Theatre, tempat penganugerahan Piala Oscar alias Academy Award.

Tak sekalipun tercantum nama Livi dalam seluruh rentetan laporan perusahaan rumah produksi tersebut. Namun, peran sang mama telah menopang di belakang layar karier Livi sebagai sutradara sejak Juni 2012 hingga sekarang.

Melalui rumah produksi Sun and Moon Films itulah nama Livi dan filmnya dipromosikan secara berlebihan hingga mengarah halusinasi.

Melalui surel publicity@sunandmoonfilms.com, jurnalis dikecoh, Livi dikabarkan bertaruh untuk berebut satu atau lebih Piala Oscar. Misalnya, pose adiknya, Ken Wiratheda Zheng, di atas karpet merah di depan patung Piala Oscar saat Academy Award ke-86 pada 2 Maret 2014, seakan-akan penampakan itu meneguhkan legitimasinya sebagai nomine Oscar . Padahal, tentu saja, Livi tak pernah sekalipun masuk dalam nominasi Oscar.

Academy Award ke-86 pada 2014 untuk merayakan film-film unggulan industri Hollywood dan dunia yang dirilis tahun 2013. Sementara Brush with Danger, yang dibikin Livi, baru dirilis pertama kali pada 19 September 2014 di New York, lalu ditayangkan di Los Angeles pada 26 September 2014. Artinya, kehadiran Livi dan Ken di ajang Piala Oscar ke-86 sama sekali tak ada kaitan dengan film yang mereka buat.

Bermimpi masuk Oscar tentu sah-sah saja bagi sutradara dan produser film, bahkan mungkin impian basah bagi semua sutradara dan aktor dan aktris. Tetapi, dalam perkara Brush with Danger, film ini buruk saja belum: menuai pendapat tajam dari jurnalis, salah satunya dari Simon Abrams, kritikus film untuk The New Yorker dan Esquire.

Brush with Danger, tulis Abrams, adalah film rasis, membingungkan, dan seluruh koreografinya buruk.

Rumah Mewah di Los Angeles

Ayah Livi, Gunawan Witjaksono, mungkin sosok paling "bertanggung jawab" dari kecermelangan putrinya di media. Melalui perantara istrinya, Gunawan membeli rumah Pazrica M Cho di kawasan mewah Los Feliz Boulevard, LA, California.

Harga properti seluas 0,390 hektare yang dibangun tahun 2005 itu sekitar 2,449 juta dolar. Berdasarkan penampakan satelit, rumah bercat cokelat dan putih itu memiliki satu kolam renang.

Jarak rumah itu dan Sun dan Moon Films, jika mengacu alamat dalam akun Linkedin, hanya 1,8 km atau sekitar empat menit menggunakan mobil. Akan tetapi, jika alamat Sun and Moon LLC disesuaikan dengan dokumen formal, jaraknya sekitar 1817 km.

Ayah Livi: Bisnis Penguasa Kemayoran Berbau Nepotisme

Nama Gunawan Witjaksono alias The Hok Bing mengentak jagat politik Indonesia sejak 2006. Masih berumur 42 tahun saat itu, ia menjadi direktur utama PT Theda Pratama, lalu membentuk PT Theda Persada Nusantara (TPN) dengan cara menggandeng PT Dana Pensiun Perkebunan.

Wakil direktur PT TPN adalah Mohammad Rizki Pratama, anak pertama presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri.

Gunawan dan Rizki mendapatkan izin mengelola sekitar 31,2 hektare lahan milik negara di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat. Perizinan mulus di tangan Bambang Kesowo, menteri sekretaris negara sekaligus ketua Badan Pengelola Kompleks Kemayoran.

Sesuai perjanjian kerja sama yang ditandatangani notaris Ratna Sintawati Tantudjojo pada 29 Juli 2003, lahan bekas bandar udara itu akan disulap menjadi kawasan Chinese Centre. Isinya, 10 blok kawasan belanja, hypermarket, apartemen, perkantoran, dan sentra bisnis modern lain.

Dugaan kongkalikong antara pengusaha dan anak penguasa di balik proyek tersebut jadi sorotan media. Bau nepotisme menguat, sebab tanpa melalui proses tender dan dibeli di bawah nilai jual objek pajak. Politisi di DPR bahkan menunjuk Effendy Choiri untuk menjadi Ketua Panja Kemayoran buat menelisik kecurigaan tersebut.

Selain itu, sekitar 125 ribu pensiunan dari perusahaan perkebunan negara resah karena dana mereka sebesar Rp135 miliar terserap ke mega proyek China Center Kemayoran, khususnya untuk pembangunan Hotel Park Plaza. Pelbagai hambatan membuat hotel itu tak kunjung dibangun. PT Theda Pratama dituding melakukan penggelapan dana pensiun pegawai perkebunan.

Infografik Citra Livi Zheng
Infografik Persona Livi Zheng dibesarkan papa dan mama. tirto.id/Lugas

Sayap Bisnis Perusahaan Cangkang

Sirkuit bisnis keluarga Livi Zheng rumit sekaligus rapi, persis seperti industri kehumasan di belakangnya yang menerangi citra Livi dari kegelapan.

Pelbagai sayap-sayap bisnis ayah dan ibunya bukan hanya menyelimuti tanah negara di Kemayoran, melainkan juga menjalar paralel ke perusahaan cangkang (offshore) di British Virgin Islands, wilayah luar negeri Britania Raya di kawasan Karibia yang dikenal suaka pajak.

Predikat offshore mengartikulasikan perusahaan-perusahaan ini berada di yurisdiksi yang jauh atau tak tergapai oleh intervensi dan gejolak pasar di negara asalnya. Ia mengindikasikan perusahaan-perusahaan cangkang yang serba rahasia ini rentan digunakan demi menyembunyikan kekayaan, menghindari pajak, dan melakukan penipuan oleh para diktator, taipan bisnis, dan kriminal dunia.

Lilik Juliati atau Lili The Hok Bing, ibu Livi Zheng, merupakan perantara ke enam perusahaan cangkang. Alamat Lilik yang terdata di daerah Beijing, berdasarkan Offshore Leaks, basis data perusahan-perusahaan cangkang yang dihimpun oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), jaringan global organisasi reporter dan media yang berkolaborasi demi menyelidiki kisah paling penting di dunia.

Tugas seorang perantara seperti Lilik Juliati adalah mencari korporasi cangkang dan penyedia layanan perusahaan cangkang bagi klien. Entitas perusahaan yang disalurkan melalui Lilik di antaranya Superstar Property Limited, Spring City Overseas Limited, Wide Profitline Incorporation, Vast Success Overseas Limited, Cristal Island Offshore Limited, dan High Return Capital Limited.

Sementara entitas perusahaan cangkang yang terkoneksi dengan Gunawan Witjaksono alias The Hok Bing, ayah Livi, adalah High Return Capital Limited dan Sharecorp Limited. Secara berantai, dua perusahaan ini terhubung pada Vast Success Overseas Ltd., Cristal Island Offshore Ltd., dan Excorp Ltd.

Jika dikupas lagi, tiga perusahaan itu terkoneksi dengan Spring City Overseas Ltd., dan Wide Profitline Inc. Kemudian tiga entitas itu memiliki alamat yang sama dengan Portocullis TrustNet Limited di Tortola, British Virgin Island. Portocullis atau lebih dikenal BVI berperan ibarat tabir: riwayatnya gelap, dari pemilik, pajak, aset utama, potensi pencucian uang, hingga profil sengketa bisnis.

Sementara ada tiga orang yang berbisnis dengan Gunawan di Indonesia dari entitas Wide Profitline Inc. Mereka adalah Ahmaddin Ahmad, Roy Gosjen, dan Hong Usman Effendy.

Ahmaddin Ahmad dan Hong Usman Effendy adalah pimpinan perusahaan properti bernama PT Pelita Propertindo Sejahtera, sementara Roy Gosjen adalah pimpinan PT Istana Makmur Sejahtera Bisnis. Mereka terkoneksi dengan Gunawan lewat proyek Apartemen Palazzo di Kemayoran.

Usman Effendy pernah ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi oleh Kejaksaan Agung pada 22 Juni 2011. Muasalnya, pembangunan apartemen Palazzo di Kemayoran, yang menyerap dana pensiunan pegawai perkebunan, tak kunjung beres. Akibatnya, Perum Perumnas menilai perjanjian bisnis di atas lahan negara Kemayoran itu merugikan negara.

Kongsi Macet Menggarap Apartemen Palazzo

Masalah perlahan mereda. Gunawan Witjaksono alias The Hok Bing tetap aman. Ia justru punya kendaraan baru bernama PT Oceania Development. Istrinya, Lilik Juliati atau Lili The Hok Bing, adalah pemegang saham terbesar di perusahaan itu.

Di PT Oceania, Ahmaddin Ahmad memiliki 40 persen saham; sementara Hong Usman Effendy, mantan Dirut PT Pelita Propertindo Sejahtera, menguasai 10 persen saham. PT Oceania kemudian bekerja sama dengan PT Pelita Propertindo Sejahtera untuk membangun Apartemen Palazzo di Kemayoran.

Namun, pada 2010, ada 41 pemilik Apartemen Palazzo menggugat pengusaha properti itu karena apartemen tak kunjung dibangun meski telah disomasi berulangkali.

Para pemilik meminta status PT Pelita Propertindo pailit. Majelis hakim pengadilan perdata mengabulkan melalui putusan bernomor 236K/Pdt.Sus/2010. Selain itu, lewat mekanisme pengadilan, ditunjuk seorang kurator demi mengurus dan membereskan harta perusahaan yang pailit.

Dalam rapat panitia kerja aset-aset negara di Komisi II DPR, 5 Oktober 2010, proyek apartemen yang macet itu disebut merugikan negara. Kondisi pailit PT Pelita Propertindo berdampak kepada PT Oceania Development. (Dalam risalah rapat, Lilik disebut istri Gunawan Witjaksono.)

Meski begitu, saat perusahaan properti PT Agung Podomoro Group mau menyuplai dana segar Rp130 miliar, Gunawan menolak. (“Pemilik saham 50 persen The Hok Bing (diketahui bahwa nama tersebut tidak ada dalam kepemilikan saham, tetapi tertulis atas nama Junaidi Lesmana, Ipar The Hok Bing) telah menghalangi penjualan tersebut.”)

Hingga rapat pemegang saham pada 27 September 2010, Gunawan masih emoh melepaskan 40 persen sahamnya kepada Agung Podomoro Group. Ia justru memilih agar PT Pelita Propertindo Sejahtera dibiarkan pailit.


Chinese Centre Menjadi Kota Baru Bandar Kemayoran

Petualangan bisnis Gunawan Witjaksono alias The Hok Bing di Kemayoran tetap leluasa. Masih melalui tunggangan PT Oceania Development, ia menggarap kembali mega proyek lamanya. Kali ini Chinese Centre diubah namanya menjadi Kota Baru Bandar Kemayoran, proyek permukiman seluas 26 hektare.

Proyek itu telah beres mengantongi empat sertifikat hak guna bangunan. Begitu juga izin mendirikan bangunan yang sudah tuntas pada 2006 saat Gunawan berkerjasama dengan PT Dana Pensiun Perkebunan.

Kali ini yang diajak untuk berkongsi adalah PT Pikko Land Development, yang menanam investasi Kota Baru Bandar Kemayoran pada 9 Desember 2010 dan 29 Maret 2011. Dua anak usaha Pikko, PT Lumbung Mas Sejahtera dan PT Indo Prakarsa Gemilang, membeli saham PT Oceania Development, masing-masing 11 persen dan 18 persen saham, senilai Rp70 miliar dan Rp111 miliar.

Pembelian saham oleh kedua anak usaha Pikko itu dengan cara berutang, dicicil selama 17 kali, kepada PT Wisma Aman Sentosa. (Gunawan Witjaksono adalah pemegang saham mayoritas senilai Rp18,7 miliar di perusahaan ini.)

PT Wisma Aman Sentosa terkoneksi pada Sinta Kurniati Arifin, manajer Livi Zheng, direktur di perusahaan tersebut. Selain itu, Sinta menjabat direktur di PT Oceania, PT Rukmi Sanghya, dan PT NAM Centre.

Perusahaan lain yang menanam saham di PT Oceania untuk Kota Baru Bandar Kemayoran adalah PT Mitra Tirta Utama, PT Wisma Aman Sentosa, dan PT Graha Surya Properti; masing-masing memiliki 40 persen, 21 persen, dan 10 persen saham.

Saat Gede Widiade, Direktur Persija Jakarta, menjadi Direktur Utama PT Oceania, gejolak internal muncul.

Sinta menggugat PT Oceania, Kementerian Hukum, PT Mitra Tirta Utama, dan dua anak perusahaan PT Pikko ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta pada 14 Juli 2015.

Melalui gugatan itu, Sinta meminta istri Gunawan, Lilik Juliati alias Lili The Hok Bing, didapuk menjadi anggota dewan komisaris PT Oceania. Hal itu di ajukannya ke seluruh pemilik saham PT Oceania melalui surat bernomor 001/WAS/VI/2015, tercatat dalam Putusan MA 431K/TUN/2016.

Alasan Sinta menggugat: Pemilihan Gede Widiade tak dihadiri oleh dirinya, pemilik 83.200 lembar saham di PT Oceania. Pemilihan itu dilakukan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa di Locanda Food Voyager, Panin Bank Building, pada 4 Juni 2015. Namun, majelis hakim memutuskan menolak gugatan Sinta pada 22 November 2016.

Sisi Gelap Livi Zheng Ada di NAM Centre

Melalui Sinta Kurniati Arifin, yang mungkin bisa Anda temui saat Livi Zheng tampil di muka publik ke mana-mana, Anda mungkin bisa menyingkap sisi gelap di belakang layar seorang Livi Zheng, yang mendapatkan predikat berlebihan dari Menteri Pemuda dan Olahraga sebagai "diaspora yang mengguncang dunia."

Sinta juga menjadi sekretaris Gunawan Witjaksono, ayah Livi. Ia juga diduga pimpinan PT Negara Agung Film, perusahaan yang bertugas memproduksi Bali: Beats of Paradise.

Sinta adalah komisaris PT NAM Mitra. Dan NAM Mitra menguasai NAM Centre di Kemayoran. Hotel 9 lantai itu milik Non-Aligned Movement Centre for South-South Technical Cooperation.

Pengelolaan NAM Centre berada di bawah kendali Gunawan, yang menjadi investor utama di PT Rukmi Sanghya, pemilik saham mayoritas PT NAM Mitra.

Gunwan Witjaksono, Livi Zheng, maupun Sinta Kurniati Arifin mudah ditemui di NAM Centre. Anda bisa menelepon nomor kontak di laman hotel itu untuk mengetuk industri kehumasan di belakang Livi serta jejaring bisnis The Hok Bing.

Di NAM Centre, Gunawan terbiasa menginstruksikan karyawan dari lintas perusahaan untuk turut mempromosikan Livi. Beberapa karyawannya mengaku pernah disuruh Gunawan untuk menyebarkan brosur film Livi dan membuat 50 akun IMDb, basis data daring informasi mengenai film.

Lantas mengapa Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kapolri Tito Karnavian, Ketua DPR Bambang Soesatyo, hingga Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan gampang terkecoh dan mau tampil di samping Livi Zheng buat mempromosikan film Bali: Beats of Paradise?

Jawaban yang terang: para pejabat tinggi itu tak punya kompetensi apa pun untuk menilai kualitas film.

======

Laporan ini dikerjakan berkat kolaborasi dengan Dea Anugrah (Asumsi.co). Kami menerima informasi yang masih serba tertutup di balik karier Livi Zheng. Kami menjamin kerahasiaan sumber. Sila kirim ke email: livikenzheng@protonmail.com


========

Hak Jawab Livi Zheng

Pada 13 September 2019, pukul 13:48, redaksi menerima surel hak jawab dari pihak Livi Zheng. Melalui kuasa hukum Abraham Simatupang & Lawyers Law Firm, diwakilkan oleh Hulman Jufri Oktario Simatupang, Livi Zheng menyatakan artikel ini "tidak akurat dan tidak berimbang."

Tulisan ini sama sekali tidak berdasarkan fakta yang teruji. Tirto tidak melakukan check and recheck secara berimbang dan tidak menyajikan informasi secara berimbang, bahkan tidak ada konfirmasi terhadap Livi Zheng. Berita ini dapat dikatakan melanggar kode etik Jurnalistik Pasal 1 dan 3. Dari pelanggaran Tirto tersebut, jelas mempunyai niat buruk untuk menjatuhkan reputasi Livi Zheng melalui fitnah serta pembunuhan karakter melalui semua uraian dalam tulisannya. Berikut disampaikan klarifikasi terhadap isi artikel tersebut:

a. Judul artikel sudah mengarahkan pembaca untuk menghakimi dan menjatuhkan reputasi Livi Zheng dan keluarganya. Padahal tulisan ini tidak sepotong kalimatpun dikonfirmasi kepada Livi Zheng dan keluarganya. Di sini terlihat jelas Tirto menyajikan berita tidak akurat, tidak uji informasi, tidak berimbang, menghakimi dan menyebarkan kebohongan.

Tulisan ini menceritakan berbagai macam perusahan yang beritanya dicuplik sepotong-sepotong dari media online sehingga membuat orang beropini dan berasumsi negatif terhadap Livi Zheng dan keluarganya. Cerita rekaan ini menggiring opini publik ditujukan ke keluarga Livi Zheng dengan menyajikan berita yang tidak akurat, tidak uji informasi, tidak berimbang, menghakimi dan menyebarkan kebohongan. Padahal Tirto tidak pernah tahu dan tidak pernah konfirmasi tentang binis keluarga Livi Zheng.

b. Pihak keluarga Livi Zheng merasa keberatan dengan pencantuman nama keluarga yang sudah meninggal sebagaimana tercantum dalam alinea 4:

"Atas petunjuk awal itu, kami mendapati iklan berita duka di Harian Kompas. Isinya, kabar kakek Livi, Yoseph Noto Hardjono atau The Khing Bo, meninggal dunia pada 17 Juli 2012. Di situ tertera Livi tengah menempuh sarjana di Amerika Serikat; sementara Ken bersekolah di Tiongkok. (Tautan sudah nonaktif tapi terarsip rapi di sini.)"

Livi Zheng keberatan pencantuman nama keluarga terutama yang sudah meninggal hanya untuk tujuan pembunuhan karakter terhadap Livi Zheng dan keluarga.

Di berita ini diceritakan tentang kakek Livi Zheng yang sesungguhnya sama sekali tidak ada kaitan dengan karya Livi Zheng. Tulisan ini juga menceritakan berbagai macam perusahaan yang beritanya dicuplik sepotong-sepotong sehingga membuat orang beropini dan berasumsi negatif terhadap Livi Zheng dan keluarganya.

Cerita rekaan ini mengiring opini publik ditujukan ke keluarga Livi Zheng dengan menyajikan berita yang tidak akurat, tidak uji informasi, tidak berimbang, menghakimi dan menyebarkan kebohongan. Padahal Tirto tidak pernah tahu dan tidak pernah konfirmasi tentang bisnis keluarga Livi Zheng.

c. Kutipan berita: "Sirkuit bisnis keluarga Livi Zheng rumit sekaligus rapi, persis seperti industri kehumasan di belakangnya yang menerangi citra Livi dari kegelapan."

Kalimat yang tertuang dalam pernyataan itu jelas merupakan kesimpulan Tirto yaitu menyajikan berita tidak akurat, tidak uji informasi, tidak berimbang, menghakimi dan menyebarkan kebohongan yang tidak berdasarkan fakta dan menghancurkan karakter Livi Zheng.

d. Kesalahan lain juga dapat ditemukan di alinea 5: "Ayah Livi bernama Gunawan Witjaksono atau akrab dikenal The Hok Bing, sementara ibunya bernama Lilik Juliati atau Lili The Hok Bing. Melalui akses data terbuka lainnya, kami mendapati informasi Livi kelahiran Malang, Gunawan Blitar, dan Lilik Tangerang."

Tulisan ini tidak akurat karena data kelahiran sudah keliru. Di samping itu, Livi Zheng juga keberatan untuk menyangkutpautkan keluarga dengan Livi Zheng untuk hal yang tidak ada hubungannya dengan karya Livi Zheng. Apalagi tulisan tersebut mengarahkan kepada citra negatif keluarga Livi Zheng.


Hak jawab ini adalah penyelesaian sengketa pers antara Livi Zheng dan Tirto di Dewan Pers, sebagaimana termuat dalam Risalah Penyelesaian Nomor: 74/Risalah-DP/IX/2019 pada 9 September 2019. Redaksi memohon maaf kepada Livi Zheng dan masyarakat. [Lihat Dokumen Risalah di sini dan sini.]

Baca juga artikel terkait LIVI ZHENG atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana, Joan Aurelia, Restu Diantina Putri & Aulia Adam
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight