Sinopsis Novel Sang Pemimpi yang Ditulis Andrea Hirata

Kontributor: Yunita Dewi - 22 Jan 2022 11:58 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Secara garis besar Sang Pemimpi menceritakan tentang petualangan masa remaja tiga orang pemuda, yaitu Arai, Ikal, dan Jimbron.
tirto.id - Novel berjudul Sang Pemimpi yang dirilis pada 2008 merupakan salah satu karya dari Andrea Hirata.

Secara garis besar Sang Pemimpi menceritakan tentang petualangan masa remaja tiga orang pemuda, yaitu Arai, Ikal, dan Jimbron.

Pada 2009, Sang Pemimpi diangkat ke film layar lebar dengan judul yang sama. Film ini berada dalam arahan sutradara Riri Riza. Beberapa artis yang berperan dalam film ini yaitu Vikri Septiawan, Rendy Ahmad, Azwir Fitrianto, Maudy Ayunda, Mathias Muchus, Rieke Diah, dan Nugie.

Film yang merupakan sekuel dari ‘Laskar Pelangi’ ini berhasil meraih penghargaan ‘The 3 Castles Award’ dalam Castellinara International Film Festival, Bellinzona, Switzerland.

Kemudian, film ini juga berhasil mendapat penghargaan sebagai film terbaik kategori remaja dalam festival Film Internasional Anak dan Remaja di Madrid, Spanyol.

Sinopsis Novel Sang Pemimpi



Sang Pemimpi merupakan buku ke-2 dari Andrea Hirata yang menceritakan tentang masa SMA tiga orang pemuda yang bernama Ikal, Arai dan Jimbron.

Ketiga remaja itu berasal dari Belitong dan melanjutkan sekolah di Manggar, SMA Negeri pertama di Manggar. Arai, Jimbron, dan Ikal bekerja paruh waktu sebagai kuli di pasar ikan untuk membiayai sekolahnya.

Tokoh Arai dalam novel tersebut digambarkan sebagai sosok yang paling cerdas di antara kedua temannya, selalu mengutip kata-kata inspiratif dari berbagai sumber, misalnya “tak semua yang bisa dihitung bisa diperhitungkan dan tak semua yang diperhitungkan bisa dihitung.”

Sedangkan Ikal yang sangat mengidolakan H. Roma Irama akan mengutip kalimat dari lirik lagu dari raja dangdut tersebut seperti “Darah muda adalah darahnya para remaja.” Kemudian Jimbron yang sangat menyukai kuda akan mengeluarkan kalimat yang tak jauh dari bahasan tentang kuda.

Arai merupakan saudara jauh dari Ikal yang telah menjadi yatim piatu sejak dudu di kelas 3 SD. Ia sangat tabah menjalani kehidupannya. Bahkan ketika Ikal dan ayahnya merasa sedih dengan keadaannya, Arai malah menghibur Ikal dengan mainan buatannya. Jimbron adalah sahabat setia mereka berdua, yang sangat paham seluk-beluk tentang kuda.

Ketiga remaja tersebut sering dimarahi Pak Mustar karena ulah konyol mereka. Pak Mustar digambarkan sebagai sosok yang sangat bersahaja, disiplin, dan tegas. Ia dapat juga disebut sebagai pahlawan bagi anak-anak di Belitong. Berkat Pak Mustar, Arai dan teman-temannya tak perlu menempuh jarak sejauh ratusan kilometer untuk menuju ke sekolah negeri.

Pak Mustar menjadi seorang pemarah ketika anaknya tidak dapat masuk ke SMA yang susah payah ia bangun hanya karena nilai ujian kurang dari 0,25 dari batas minimal.

Profil Andrea Hirata



Andrea Hirata Seman Said Harun adalah sastrawan kelahiran Belitong, 24 Oktober 1967. Ia merupakan anak ke-5 dari pasangan Seman Said Harun Hirata dan Masturah.

Mengutip dari situs Ensiklopedia Kemdikbud, riwayat pendidikan Andrea Hirata tercatat telah menempuh kuliah dengan jurusan Ekonomi di Universitas Indonesia dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam Universiy, United Kingdom.

Tesis yang ditulisnya di bidang ekonomi telekomunikasi kini telah di adaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan terbit menjadi buku acuan teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia.

Selain menulis Novel ‘Sang Pemimpi,’ sebelumnya Andrea Hirata telah merilis satu novel berjudul ‘Laskar Pelangi’ di 2005 lalu pada 2006-2007 novel tersebut menjadi best seller.

Novel ini berhasil dicetak ulang setelah seminggu terbit dan dalam waktu tujuh bulan mengalami cetak ulang yang ke-3. Menurut penulisnya, novel ini merupakan sebuah memori yang dikemas dengan sastra dengan tambahan latar belakang sosiokultural.


Baca juga artikel terkait HIBURAN atau tulisan menarik lainnya Yunita Dewi


Kontributor: Yunita Dewi
Penulis: Yunita Dewi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari

DarkLight