Sejarah G30S 1965 & PKI

Sinopsis Film "G30S/PKI", Kontroversi Sejarah, & Daftar Pemain

Kontributor: Balqis Fallahnda, tirto.id - 30 Sep 2022 20:40 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Sinopsis film Pengkhianatan G30S/PKI dan daftar pemainnya: Kontroversi antara fakta sejarah atau propaganda Orba.
tirto.id - Film Pengkhianatan G30S/PKI rilis pada 1984 dibesut sutradara Arifin C. Noer dan diproduksi Perum Perusahaan Film Negara (PPFN). Film yang mengangkat peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) ini memantik kontroversi, antara fakta sejarah atau propaganda Orde Baru (Orba).

Sejak 1984 pada masa Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, film Pengkhianatan G30S/PKI ditayangkan saban tahun setiap tanggal 30 September. Penayangan film ini di televisi nasional dihentikan setelah runtuhnya rezim Orde Baru pada 1998.

Pada 2017 lalu, Gatot Nurmantyo selaku Panglima TNI kala itu mengeluarkan instruksi kepada para anggotanya untuk menonton bersama film Pengkhianatan G30S/PKI. Hal ini diikuti desakan agar stasiun televisi menayangkan film itu di gedung parlemen.

Acara menonton bersama yang digelar di lapangan tenis Markas Komando Korem 061/Suryakancan, Kota Bogor, pada 29 September 2017 saat itu juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang duduk di barisan terdepan bersama Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Film yang berdurasi cukup lama, yakni sekitar 4,5 jam, ini juga pernah diputar di layar kaca oleh sejumlah stasiun televisi nasional. Hingga kini, film Pengkhianatan G30S/PKI masih menjadi kontroversi. Kebenaran sejarah dengan alur cerita yang dinarasikan dalam film ini masih menjadi perdebatan.

Terlepas dari kontroversi yang muncul, film yang menelan biaya hingga Rp800 juta ini sukses mendulang sejumlah penghargaan termasuk di Festival Film Indonesia (FFI), antara lain skenario terbaik FFI 1984 dan film terlaris FFI 1985.


Sinopsis Film Pengkhianatan G30S/PKI

Film Pengkhianatan G30S/PKI menceritakan peristiwa berdarah tanggal 30 September 1965 menjelang tengah malam hingga dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Film ini menyajikan latar belakang peristiwa, rencana kudeta, serta penculikan sejumlah jenderal Angkatan Darat kala itu.

Adegan awal film dibuka dengan sekelompok tentara bersenjata laras panjang mengepung rumah Brigadir Jenderal Donald Isaac Pandjaitan di Jalan Hasanuddin 53, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasukan ini disebut berasal dari Resimen Cakrabirawa, pasukan khusus pengawal Presiden Sukarno.

Para tentara itu memaksa Brigjen D.I. Pandjaitan untuk ikut bersama mereka dengan alasan diminta menghadap oleh Presiden Sukarno. Adegan dalam fragmen ini diakhiri dengan terbunuhnya Brigjen D.I. Pandjaitan. Jasadnya kemudian dimasukkan ke dalam truk dan dibawa pergi.

Secara umum, film ini menggambarkan adegan penculikan dan pembunuhan para petinggi Angkatan Darat, juga rapat-rapat yang dilakukan orang-orang PKI sebelum Gerakan 30 September 1965 dilakukan, hingga penumpasan para penculik serta ditemukannya jenazah para jenderal di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.


Kontroversi Film Pengkhiantatan G30S/PKI

Film Pengkhianatan G30S/PKI dianggap sebagai film propaganda dari rezim Orde Baru terkait peristiwa G30S 1965. Peristiwa tersebut menjadi akhir dari PKI beserta seluruh unsur-unsurnya, sekaligus mulai meluruhnya pengaruh Presiden Sukarno yang kemudian menjadi kesempatan bagi Soeharto untuk naik sebagai presiden.

Tidak semua kejadian yang disuguhkan di dalam film ini merupakan peristiwa yang sebenarnya. Banyak adegan yang didramatisir untuk mengesankan bahwa PKI dan komunisme merupakan ancaman nyata bagi bangsa Indonesia.

Hal itu diakui sendiri oleh Amoroso Katamsi, pemeran Soeharto dalam film Pengkhianatan G30S/PKI. “Film ini sengaja dibuat untuk memberi tahu rakyat bagaimana peran PKI saat itu, kadi memang ada semacam muatan politik,” ungkapnya kepada Tempo.co (edisi 30 Desember 2012).

“Memang ada beberapa adegan yang berlebihan,” imbuh aktor kelahiran 21 Oktober 1938 yang pada 1990 diangkat sebagai Direktur PPFN oleh Presiden Soeharto ini.


Sutradara dan penulis skenario, Arifin C. Noer, juga pernah berkeluh-kesah tentang film garapannya ini. Ia mengaku harus bertarung dengan idealismenya sendiri saat menggarap film Pengkhianatan G30S/PKI.

Dilansir Majalah Tempo (7 April 1984), waktu dua tahun tidak cukup bagi Arifin C. Noer untuk menentukan arah cerita film sejarah sekompleks itu. Ia merasa kesulitan karena harus menggarap film Pengkhianatan G30S/PKI menggunakan kaidah perfilman yang biasa.

Dalam suratnya kepada Ajip Rosidi, Arifin C. Noer mengungkapkan bahwa ia ingin berhenti membuat film. Surat tersebut tertanggal 10 Februari 1984 atau setelah penggarapan film Pengkhianatan G30S/PKI.

“Buat saya, juga mengagetkan. Sayang dalam surat itu kau tidak memberi alasan yang lebih terperinci. Kau mengatakan bahwa selama 5 tahun membuat film merupakan tahun-tahun yang percuma. Dari segi apa? Dalam arti apa?” balas Ajip Rosidi dalam buku Yang Datang Telanjang: Surat-surat Ajip Rosidi dari Jepang 1980-2002 (2008).

Film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu diputar ulang saban tahun sejak dirilis akhirnya dihentikan seiring tumbangnya rezim Orde Baru oleh gelombang reformasi pada 1998 yang memungkasi era kekuasaan Soeharto.

Daftar Pemain Film Pengkhianatan G30S/PKI

Film Pengkhianatan G30S/PKI disutradarai sekaligus ditulis oleh Arifin C. Noer, berkolaborasi dengan sejarawan Orde Baru kala itu, Nugroho Notosusanto. Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris tanah air, antara lain:

  • Amoroso Katamsi sebagai Mayjen Soeharto
  • Syubah Asa sebagai D.N. Aidit
  • Umar Kayam sebagai Presiden Sukarno
  • Bram Adianto sebagai Letkol Untung
  • Keke Tumbuan sebagai Ade Irma Suryani
  • Rudy Sukma sebagai Abdul Haris Nasution
  • Wawan Wanisar sebagai Lettu. Pierre Tandean
  • Kies Slamet sebagai Brig.Jen. Soepardjo
  • Didi Sadikin sebagai Kolenel Sarwo Edi Wibowo


Baca juga artikel terkait FILM PENGKHIANATAN G30SPKI atau tulisan menarik lainnya Balqis Fallahnda
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight