Sinoposis Film Paddleton: Persahabatan Dua Pria Setengah Baya

Oleh: Shulfi Ana Helmi - 23 April 2021
Dibaca Normal 1 menit
Michael yang berusia paruh baya meminta teman sekaligus tetangganya, Andy, untuk mengakhiri hidupnya usai didiagnosis menderita kanker stadium akhir.
tirto.id - Paddleton adalah film bergenre drama-komedi garapan sutradara Alex Lehmann yang juga turut menulis naskah bersama Mark Duplass.

Film ini tayang perdana di Festival Film Sundance pada 1 Februari 2019 dan resmi dirilis di Netflix pada 22 Februari 2019.

Berdurasi 1 jam 29 menit, film Paddleton mengisahkan tentang persahabatan dua pria yang bertetangga dan salah satunya divonis mengidap kanker.

Dibintangi oleh Mark Duplass dan Ray Romano, film ini menyajikan plot yang sederhana, tetapi juga menyentuh.

Film Paddleton untuk sementara menerima rating 7,2/10 dari 11.731 penilaian di situs IMDb. Sementara itu, di laman Rotten Tomatoes, film ini mendapat skor 89 persen dari penilaian tomatometer dan 87 persen dari penilaian audiensnya.


Sinoposis Film Paddleton

Alkisah dua pria setengah baya yang bersahabat bernama Michael (Mark Duplass) dan Andy (Ray Romano). Andy tinggal di apartemen tepat di atas tempat tinggal Michael.

Suatu hari Michael divonis mengidap kanker perut. Alih-alih berobat untuk menyembuhkan penyakitnya, Michael justru berencana untuk mengakhiri hidupnya. Ia enggan meninggal dengan keadaan tubuh penuh kesakitan.

Andy, sebagai sahabat satu-satunya tentu tidak menyetujui hal tersebut. Andy berusaha meyakinkan Michael, setidaknya ia harus tetap berusaha. Namun, keputusan Michael sudah bulat.

Meski demikian, keduanya tidak membiarkan kesedihan menggelayuti hati mereka. Baik Michael maupun Andy berusaha menjalani aktivitas seperti biasa. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan memakan pizza, menonton serial kungfu, dan bermain peddleton (permainan ciptaan mereka sendiri).

Beberapa hari kemudian, Michael mendapatkan resep obat untuk mengakhiri hidupnya dari dokter yang menanganinya. Ia bergegas mencari apotek yang menjual obat tersebut.

Nyatanya banyak apotek yang tidak menjual obat yang dimaksud karena alasan moralitas. Apotek terdekat yang menjual obat mematikan itu harus ditempuh selama 6 jam perjalanan darat.

Andy memang tetap kukuh untuk tidak mendukung rencana kematian Michael, tetapi ia setuju untuk menemani Michael menebus obat tersebut.

Sepanjang perjalanan mereka sibuk membicarakan banyak hal, hangat dan akrab seperti biasa. Mereka bahkan sempat mampir di salah satu peternakan burung unta, dan Andy melontarkan candaan recehnya.

Perjalanan mereka terus berlanjut hingga sampai pada apotek yang dituju. Setelah menerima resep yang dibawa Michael, apoteker kemudian menjelaskan aturan pemakaian obat beserta reaksinya. Andy menunjukkan keinginannya mendengarkan penjelasan tersebut. Ia gentar akan bayangan kematian yang akan merenggut nyawa sahabatnya saat meminum obat itu.

Setelah menyelesaikan urusan di apotek, mereka kemudian check in di hotel untuk menginap. Saat Michael tidur, Andy diam-diam membeli brankas mini. Brankas itu ia gunakan untuk menyimpan obat Michael dan merahasiakan sandi brankas tersebut.

Saat Michael menanyakan kombinasi sandinya, Andy terus berkilah dan tidak mau berterus terang. Keesokan harinya, Andy terkejut karena Michel dan brankas mininya tidak ada di kamar. Panik, Andy mencari kesana kemari hingga akhirnya menemukan Andy di lobi hotel.

Andy merebut kembali brankas mini dari Michael hingga menimbulkan adu mulut di antara keduanya. Cekcok baru berakhir setelah Michael menegaskan pada Andy bahwa kondisinya sedang sekarat. Ia ingin segera mengakhiri penderitaannya dan meminta Andy menghormati hal tersebut.

Dalam perjalanan pulang mereka saling diam satu sama lain dan Andy tetap mempertahankan brankas berisi obat tersebut. Apakah Michael akan tetap meminum obat dan mengakhiri hidupnya? Saksikan kisah selengkapnya dalam film Paddleton hanya di Netflix.


Baca juga artikel terkait PADDLETON atau tulisan menarik lainnya Shulfi Ana Helmi
(tirto.id - Film)

Kontributor: Shulfi Ana Helmi
Penulis: Shulfi Ana Helmi
Editor: Ibnu Azis
DarkLight