Sidang Tahunan MPR 2019: Jokowi Mau Indonesia Bisa Eskpor Avtur

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 16 Agustus 2019
Jokowi mengatakan Indonesia perlu berani melakukan lompatan besar. Ia menyatakan jika perlu nantinya avtur yang diproduksi di indonesia berasal dari minyak kelapa sawit atau crude palm pil (CPO).
tirto.id -
Dalam pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR 2019, Presiden Joko Widodo mengatakan Indonesia harus mulai bergerak pada ekspor bahan bakar pesawat (avtur).

Menurut Jokowi, saat ini Indonesia sudah bisa melakukan produksi avtur sehingga ia mau langkah ini tak hanya berhenti sampai tidak impor saja, tetapi bisa menjualnya ke luar negeri.

"Kita sudah memproduksi sendiri avtur hingga tidak impor avtur lagi. Tapi kita bisa lebih dari itu, kita bisa ekspor avtur," ucap Jokowi dalam sidang di Kompleks Parlemen Jakarta pada Jumat (16/8/2019).

Jokowi mengatakan Indonesia perlu berani melakukan lompatan besar. Ia menyatakan jika perlu nantinya avtur yang diproduksi di indonesia berasal dari minyak kelapa sawit atau crude palm pil (CPO).

"Kita juga ingin produksi avtur berbahan sawit," ucap Jokowi.

Jokowi yakin langkah ini bisa ditempuh. Sebab saat ini produksi bahan bakar yang berbasis CPO sudah dimulai.

Ia mencontohkan Indonesia sudah memulai pengembangan campuran 20 persen Fatty Acid Methyl Esther (FAME) dengan minyak diesel atau B20. Lalu belum lama ini program itu sudah berkembang lagi ke 30 persen campuran FAME atau B30.

"Kita sudah mulai dengan program B20, akan masuk ke B30," ucap Jokowi.

Bahkan ia menyebutkan bahwa Indonesia akan mengejar sampai penggunaan FAME secara 100 persen tanpa bantuan minyak diesel. Jokowi menyebutnya dengan istilah B100 ketika minyak sawit dapat benar-benar secara murni digunakan tanpa bantuan bahan bakar fosil.

"Tapi kita bisa lebih dari itu kita bisa membuat B100," ucap Jokowi.


Baca juga artikel terkait SIDANG TAHUNAN MPR 2019 atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Politik)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight