Sidang MK Berlarut-larut, Apa Risiko Kesehatan Pesertanya?

Kuasa hukum Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden nomor urut 01 bersiap mengikuti sidang lanjutan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis (20/6/2019). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.
Oleh: Widia Primastika - 24 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Tekanan darah tinggi menjadi penyakit yang rentan dialami oleh jaksa dan aparat hukum lainnya.
tirto.id - Sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (sengketa Pilpres) yang diselenggarakan pada hari Rabu, 19 Juni 2019 berlangsung hingga Kamis, 20 Juni 2019 saat azan subuh berkumandang.

Saat sidang berganti hari, pada akhir Rabu, Ketua tim kuasa hukum Jokowi-Ma’ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra, melakukan interupsi.

“Interupsi sebentar, Yang Mulia, sekarang jam 12 malam, ini kalau kita pakai tahun masehi berganti waktu. Sudah ada PMK mengatur jadwal-jadwal, mohon dipertimbangkan dulu persoalannya sebelum kita lanjutkan sidang ini atau kita hentikan,” ujar Yusril seperti diberitakan Tirto.

Setelah itu, pada pukul 03.00 WIB, pihak pemohon mengajukan permohonan penundaan sidang karena kelelahan. Permintaan itu tak dikabulkan hakim, tetapi sidang diundur pada Kamis, 20 Juni 2019 hingga pukul 13.00.

Proses persidangan yang berlangsung hingga lewat tengah malam tak terjadi kali ini saja. Pada 2013 lalu, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pernah menyelenggarakan sidang dengan terdakawa Luthfi Hasan Ishaaq hingga pukul 00.40. Kala itu, sidang dimulai pukul 14.30.


Setahun kemudian, pada 2014, Anas Urbaningrum juga kerap menjalani persidangan hingga larut malam. Seperti diberitakan Liputan 6, sidang kasus gratifikasi proyek Hambalang yang diselenggarakan pada Kamis, 28 Agustus 2014, selesai tepat tengah malam dan pada Jumat, 29 Agustus 2014 pagi, majelis hakim kembali melanjutkan persidangan.

“Agak teler, tapi sehat Yang Mulia,” ujar Anas saat menjawab pertanyaan Ketua Majelis hakim, Haswandi saat itu.

Pengalaman Jaksa Mengikuti Sidang

Pengalaman mengikuti sidang hingga lewat tengah malam juga kerap dialami Jaksa KPK, M. Takdir Suhan. Kepada Tirto,Taakdir menceritakan bahwa jam selesai sidang yang ia jalani memang tak pernah terprediksi, apalagi jika sidang dimulai tak tepat waktu.

Namun, Takdir bisa memahami ihwal keterlambatan itu. Biasanya majelis hakim juga disibukkan dengan jadwal persidangan lain. Takdir membeberkan bahwa dalam persidangan kasus korupsi, agenda pembuktianlah yang memakan waktu lama, khususnya saat mendengarkan keterangan saksi.

Agar tetap fit, jaksa yang pernah menangani kasus Fredrich Yunadi ini menceritakan dia dan koleganya menggunakan jeda waktu persidangan dengan baik.

“Untuk menyiapkan stamina itu, memang setiap kali sidang ada jeda waktu, pada saat jam makan siang, itu kita minta sama hakim untuk di skorsing, tujuannya untuk kita ibadah, makan siang. Di sela-sela itu, pastinya kita makan, jangan lupa suplai minum,” ungkap Takdir.

Rasa kantuk tentu kerap mereka rasakan. Untuk menghalaunya, Takdir selalu menyiapkan minyak angin atau balsam. Selain itu, para jaksa yang gemar kopi juga memanfaatkan minuman tersebut untuk mengusir kantuk.


Takdir pun menceritakan bahwa saat jeda persidangan, biasanya usai shalat, ia dan rekan-rekannya sering mencuri-curi waktu untuk tidur di masjid atau musala untuk memulihkan otak dan fisiknya. “Ya, kadang kita tidur sebentar di masjid, buat ngelurusin tulang-tulang ini,” tutur Takdir.

Takdir mengakui ia dan koleganya pernah salah berbicara ketika rasa lelah itu menyerang. “Kalau kesrimpet dikit pernah pas udah lelah banget, manusiawi, ya. Nah, biasanya gini, kalau misalnya saat pembacaan tuntutan, biasanya sih kita sudah bagi-bagi tugas, tapi kalau sebelum selesai temen kita nih sudah batuk-batuk, itu tandanya sudah waktunya gantian baca,” beber Takdir.

Jika rasa lelah itu tak terhindarkan, biasanya para jaksa akan mengajukan izin kepada hakim untuk meminta jeda waktu istirahat setidaknya 5 menit. Di sela itu, biasanya mereka akan memanfaatkan waktu untuk minum dan cuci muka agar tetap fokus.

“Atau biar tetap fokus, sesama jaksa kita biasanya saling bicara. Selain bahasan sidang, kita biasanya bahas suasana sidang, misalnya lihat pengunjung sidang, ada yang tingkah lakunya mencurigakan atau enggak. Jadi ada topik lain, selain menggali fakta,” ujarnya.

Saling Mengingatkan Antar-teman dan Darah Tinggi yang Mengintai

Hal yang membuat Takdir dan rekan-rekannya semangat dan kembali fokus mengikuti sidang adalah mengingat masa penahanan terdakwa. Jika lewat dari waktunya, mereka bisa terkena sanksi.

Takdir membeberkan bahwa dirinya bisa melalui sidang-sidang hingga lewat tengah malam karena sudah terbiasa. Takdir pun menceritakan pengalamannya saat pertama kali menjadi jaksa KPK.

“Jadi, ya stamina itu memang dipaksakan untuk tetap fokus, tapi memang kembali lagi, karena ini sudah jadi kebiasaan aktivitas kita. Awal-awal yang waktu saya gabung di [kasus] Anas Urbaningrum, penyesuaiannya memang butuh waktu. Ya kaget. Biasanya kan kita sidang pidana umum enggak ada yang sampai malam, maksimal kita selesai jam 3 sampai 4 sore, tiba-tiba mengalami sidang yang sampai malam. Keesokannya dimulai pagi kembali,” kata Takdir.


Di KPK, jika persidangan selesai hingga lewat tengah malam, para jaksa diperkenankan untuk datang lebih siang. Menurut Takdir, biasanya mereka hadir di kantor sekitar pukul 10.00 atau pukul 11.00, tujuannya untuk mengganti waktu istirahat yang hilang.

Jika kasus yang ditangani adalah kasus yang besar dan membutuhkan energi lebih, Takdir menceritakan bahwa biasanya jaksa akan membagi tim mereka menjadi 2 shift, apalagi jika kasus tersebut terjadi di luar Jakarta.

“Misalnya dalam seminggu 2 kali sidang, Senin siapa, Kamis siapa, kan tiap sidang, kita ada dokumentasi sidang, jadi fakta sidang sebelumnya, ya kita nonton, jadi kita tinggal kaitkan dengan kesaksian saksi selanjutnya. Karena kasus banyak, kadang dalam seminggu, kayak yang sempat saya alami, sidang di Ambon, jadi butuh stamina bolak-balik ke sana,” tuturnya.

Saling mengingatkan antar-teman menjadi kunci kesehatan para jaksa. Menurut Takdir, ketika menangani sebuah kasus, wajar jika salah satu anggota tim jaksa maupun hakim izin sakit. Penyakit yang paling sering dialami para jaksa adalah penyakit darah tinggi.

“Kayak kami di KPK, kan tiap tahun ada medical check up, kemudian pola makan juga enggak teratur, apalagi kebanyakan menunya junk food. […] Tapi sesama tim kita saling mengingatkan, kan kita udah tahu kondisinya gimana, pantangan [makan] masing-masing gimana, karena dalam satu tim pasti ada satu anggota yang sempat sakit, manusiawi itu. Jadi ya saling mengingatkan minum obat dan multivitamin,” beber Takdir.

Bahaya Duduk Terlalu Lama

Menurut Mayoclinic, peningkatan tekanan darah merupakan salah satu penyakit yang muncul akibat duduk dalam waktu yang lama. Wajar jika Takdir dan koleganya dihantui oleh penyakit tersebut.



Selain itu, ada juga beberapa penyakit yang mengintai mereka akibat terlalu sering duduk, seperti peningkatan gula darah, obesitas, kelebihan lemak tubuh di sekitar pinggang, dan kadar kolesterol yang abnormal, bahkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dan kanker.

Hal itu wajar. Seperti ditulis dalam artikel di Healthline, duduk yang terlalu lama akan membatasi jumlah kalori yang dibakar. Apalagi jika tidak pernah berolahraga. Aktivitas berdiri dan berjalan saja sudah mampu membantu membakar jumlah kalori di tubuh. Pengeluaran energi tersebut dikenal sebagai termogenesis aktivitas non-olahraga (NEAT).

Untuk menghindari hal tersebut, cara yang bisa dilakukan adalah beristirahat setidaknya setiap 30 menit atau waktu istirahat tiba, luangkan sedikit waktu untuk berjalan-jalan atau melakukan gerakan-gerakan santai untuk membakar lebih banyak kalori.

Saat libur tiba, jangan lupa untuk melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga, sebab selain bermanfaat untuk menjaga otot, olahraga juga bisa menjaga kesehatan mental.

Baca juga artikel terkait TEKANAN DARAH TINGGI atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight