Siapakah Harun Yahya dan Apa Kasus yang Bikin Ia Dihukum 1000 Tahun

Oleh: Addi M Idhom - 12 Januari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Harun Yahya atau Adnan Oktar dijatuhi hukuman 1000 tahun penjara di pengadilan Turki. Apa kasus yang membuat ia dihukum berat?
tirto.id - Pengadilan Turki menjatuhkan hukuman berat, yakni hingga 1000 tahun penjara kepada Adnan Oktar, sosok yang populer dengan nama pena Harun Yahya melalui beragam buku dan video ceramah. Ada 10 pelanggaran hukum yang membuat Harun Yahya menerima vonis, tepatnya 1.075 tahun bui dan 3 bulan penjara, demikian dikutip dari Kantor Berita Turki Anadolu Agency.

Pengadilan Kriminal Berat Nomor 30 di Istanbul, Turki, menilai Harun Yahya terbukti mendirikan dan memimpin organisasi kriminal, menjadi mata-mata politik atau militer, melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan dewasa dan anak di bawah umur, serta terlibat dalam penyiksaan.

Tak hanya itu, Harun Yahya juga dituduh melakukan perampasan kemerdekaan orang, pelanggaran hak orang atas pendidikan, pencurian data pribadi, aksi pengancaman, hingga terlibat membantu organisasi Fethullah Gulen (FETO) meski tidak menjadi anggotanya. Organisasi terakhir selama ini dimusuhi rezim Presiden Recep Tayyip Erdogan dan pernah dituding melakukan kudeta di Turki.

Dalam keputusan vonis terbaru Pengadilan Turki, tidak hanya Harun Yahya yang dijatuhi hukuman penjara dengan waktu panjang, yang akan membuat mereka menghabiskan masa hidup di bui. Ada 2 petinggi organisasi Harun Yahya yang juga menerima hukuman penjara selama ratusan tahun.

Salah satunya adalah Tarkan Yavas, yang menerima hukuman 211 tahun penjara karena dinilai telah terlibat dalam kasus pelecehan seksual kepada anak di bawah umur, pelecehan seksual, melakukan sumpah palsu dalam dokumen resmi dan penyalahgunaan properti.

Orang kedua, Oktar Babuna juga divonis dengan hukuman 186 tahun penjara karena dinilai terbukti menjadi anggota organisasi kriminal yang dipimpin Harun Yahya, melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur, dan terlibat dalam pelecehan seksual lainnya. Oktar Babuna merupakan dokter ahli syaraf yang merupakan orang dekat Harun Yahya, yang juga dikenal dengan nama Adnan Hoca.

Total lama hukuman bui yang dijatuhkan Pengadilan Kriminal Berat Turki terhadap Harun Yahya dan 13 petinggi kelompoknya mencapai 9.803 tahun dan 6 bulan. Vonis untuk ratusan orang lainnya di perkara terkait Harun Yahya masih akan dijatuhkan Pengadilan Turki. Harun Yahya sendiri masih tetap bersikukuh membantah semua tuduhan untuknya dan menuntutn dirinya bebas, demikian seperti dilansir Reuters.


Riwayat Kasus Harun Yahya

Harun Yahya yang saat ini berusia 64 tahun sebelumnya ditangkap oleh kepolisian Turki pada Juli 2018 lalu bersama 200 anggota sekte tertutup yang dipimpinnya.

Kemudian, Pengadilan Kriminal Berat Turki Nomor 30 mengadili 236 terdakwa yang dinilai terlibat dalam organisasi Harun Yahya. Dakwaan untuk televangelis yang menerbitkan ratusan buku serta kerap berceramah di saluran televisi miliknya itu resmi diterima pengadilan pada Juli 2019.

Pengadilan saat itu memutuskan sidang perdana kasus Harun Yahya dan ratusan tersangka lainnya digelar pada 17 September 2019, di Penjara Silivri Turki. Dakwaan itu mencantumkan pengakuan dari 125 korban dan pelapor.

Mengutip laporan media Turki, Hurriyet, selama persidangan Harun Yahya didakwa melakukan 15 jenis kejahatan yang tertuang dalam berkas berbeda.

Dakwaan buat Harun Yahya di antaranya ialah melakukan kekerasan seksual dengan todongan senjata bersama banyak orang; pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur; menggunakan senjata untuk mengancam orang; mencuri data pribadi; merampas hak orang atas pendidikan; spionase; pemalsuan; penipuan; penyiksaan; serta menjalankan organisasi kriminal.


Pada pertengahan November 2020 lalu, jaksa menuntut agar pengadilan menjatuhkan hukuman kepada Harun Yahya berupa hukum penjara selama 1.365 tahun. Jaksa menilai Yahya terlibat di banyak kejahatan yang didakwakan kepadanya.

Penangkapan Harun Yahya pada 2018 lalu dilakukan kepolisian Turki dengan menggelar operasi di sejumlah kota yang tersebar di 5 provinsi. Saat itu, polisi Turki juga menyita 6 truk berisi artefak bersejarah dan barang antik, lebih dari 400 kartu memori, 70 senjata api, 3.000 peluru, serta uang tunai dan mata uang asing dalam jumlah besar.

Belakangan, pada Oktober 2020 lalu, Anadolu Agency mewartakan bahwa polisi Turki menemukan 879 fosil hewan dan tumbuhan berusia 150-200 juta tahun di satu rumah yang diduga merupakan tempat organisasi Harun Yahya beraktivitas. Ratusan fosil yang ditemukan di ibu kota Ankara itu bernilai total 10 juta dolar AS yang diduga jadi salah satu sumber pendanaan organisasi Harun Yahya.

Siapakah Harun Yahya dan Bagaimana Rekam Jejaknya?

Di Turki, Harun Yahya mempromosikan pandangan dirinya dan kelompoknya melalui banyak saluran, termasuk radio dan stasiun televisi miliknya yang bernama A9.

Namun, citranya yang keluar ke publik Turki mengesankan ia memiliki pandangan keislaman yang tidak biasa. Harun Yahya kerap tampil di layar tv dengan dikelilingi sejumlah perempuan dengan dandanan menor, berbaju seksi, tidak berjilbab. Harun menyebut perempuan di sekitarnya sebagai kittens (anak kucing).

Sebuah video yang dirilis di Youtube pada 2015, merekam pengalaman reporter Vice Life saat masuk ke dalam lingkungan organisasi Harun Yahya selama 3 hari. Video bertajuk "Inside the Weird World of Adnan Oktar's Islamic 'Feminist' Cult" tersebut merekam banyak hal soal kegiatan Harun Yahya dan orang-orang di kelompoknya di studio televisi mereka.


Harun Yahya selama ini tidak hanya populer di Turki. Buku-buku karyanya telah lama masuk pasar Indonesia dengan isi padangan Harun Yahya dalam membela Islam dengan menyerang teori evolusi Darwin. Salah satu buku terpopuler karya pria kelahiran 1956 ini berjudul The Atlas of Creation yang setebal 770 halaman.

Maka itu, ia kerap disebut kreasionis, orang yang membela teori penciptaan semesta oleh tuhan. Pada dasarnya, kreasionisme dikembangkan fundamentalis Kristen di Amerika pada abad ke-19. Hal ini membuat kreasionisme lebih dekat dengan tradisi Kristen. Dan, Harun Yahya hadir sebagai wakil bentuk kreasionisme Islam.

Meskipun yang ditulis Harun Yahya sejatinya adalah pseudosains, karya-karyanya laris di pasar. Indonesia merupakan salah satu pasar terjemahan buku-buku Harun Yahya.

"Operasi Harun Yahya berbasis di Turki, tapi memiliki jangkauan internasional. Memang, pengaruh Yahya melampaui negara-negara Muslim lainnya dan bahkan populasi imigran Muslim," tulis Taner Edis, profesor fisika di Truman State University dan penulis buku tentang penciptaan dan sains, dalam publikasi National Center for Science Education, sebuah lembaga yang berbasis di AS.

Bahkan, menurut Taner Edis, sejumlah mahasiswanya di Universitas Midwestern, Illinois, AS kerap memungut informasi dari situs Harun Yahya saat meneliti kreasionisme, meski sebenarnya mereka mencari sumber terkait kreasionisme Kristen.

Pada tahun 2008 silam, Taner Edis yang lahir di Turki sudah menduga bahwa pemasaran buku-buku karya penulis dengan nama pena Harun Yahya merupakan bagian dari operasi bisnis sebuah lembaga terselubung. Dia menilai tidak masuk akal Harun bisa menulis banyak buku, kecuali dia hanya representasi sebuah kelompok.

Selain itu, Edis menemukan bahwa Harun Yahya mengklaim penerbitan bukunya didanai lembaga-lembaga yang tak banyak diketahui latarbelakangnya, termasuk The Science Research Foundation atau BAV (Billim Arastirma Vakfi).

Taner Edis pun mencatat, pada 2008 silam, Harun Yahya dan kelompoknya telah terjerat masalah hukum di Turki sehingga menerima ganjaran hukuman 3 tahun penjara.

"Dia dan sejumlah terdakwa lain yang terkait BAV dihukum karena pemerasan dan membentuk organisasi untuk tujuan melakukan tindak pidana," tulis Edis dalam artikelnya. Saat itu, masih mengutip catatan Taner Edis, Harun Yahya menuduh keputusan pengadilan tersebut berkaitan dengan konspirasi Freemason Eropa yang ingin memberangus BAV.


Jauh sebelum 2008, pria kelahiran Ankara, tahun 1956, dan sempat kuliah urusan desain interior tetapi tidak lulus itu, pernah terjerat kasus hukum untuk pertama kalinya pada 1986. Ia dituduh pemerintah mempromosikan revolusi teokratis dan oleh karenanya, divonis penjara 19 bulan sebab melanggar hukum sekuler.

Tak lama setelah keluar dari penjara, ia membentuk sekte berisikan orang-orang kelas menengah ke atas Turki. Salah satu lembaga yang lahir dari sektenya ialah Scientific Research Foundation (SRF) atau Bilim Arastirma Vakfi (BAV), pada 1990.

Bersama BAV, pada 1998, Yahya mulai mengambil langkah-langkah strategis guna menyebarkan ajaran kreasionisme. Ia mencetak ratusan buku, memasang iklan di banyak situs, melancarkan propaganda, hingga menggelar seminar dan kelas-kelas diskusi di berbagai universitas dalam dan luar negeri.

Jalur yang diambil Yahya dan gerbong sektenya rupanya tak sekadar persuasif, melainkan juga dengan paksaan. The Guardian pernah melaporkan, Yahya tak ragu menyerang, mengintimidasi, mengancam, memfitnah, serta melecehkan akademisi-akademisi yang mengajarkan teori evolusi Darwin.

Upaya Yahya akhirnya memang sempat membuahkan hasil. Martin Riexinger dalam “Propagating Islamic Creationism on the Internet” (2008) yang diterbitkan Journal of Law and Technology Universitas Masaryk, Ceko, menulis bahwa gagasan kreasionisme Yahya secara bertahap meluas pengaruhnya di masyarakat Turki. Gagasan pseudosains Yahya bahkan dimuat di buku-buku sains sekolah dan dirayakan pejabat-pejabat pemerintahan, yang mulai ikut-ikutan vokal mengkritik teori Darwin.

Baca juga artikel terkait HARUN YAHYA atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Politik)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight