Siapa di Balik Serangan Bom Gereja dan Hotel di Sri Lanka?

Oleh: Yantina Debora - 23 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Sri Lanka menuding kelompok National Thowheeth Jama'ath sebagai pelaku penyerangan bom di gereja dan hotel saat Paskah.
tirto.id - Umat Kristiani di Kota Kolombo berbondong-bondong menuju gereja untuk mengikuti misa Paskah, Ahad (21/4/2019).

Di tengah sukacita Paskah, sekitar pukul 8.45 waktu setempat, ledakan bom bunuh diri terjadi di tiga gereja, yaitu St Anthony, Gereja St Sebastian dan Gereja Sion.

St Anthony berada di Kota Kolombo. St Sebastian terletak di Negombo, sebuah kota dengan penduduk mayoritas Katolik di utara Kolombo, dan Sion di kota Batticaloa di bagian timur.

Serangan itu bersamaan dengan ledakan bom di tiga hotel mewah: Shangri-La, Cinnamon Grand, dan Kingsbury. Ketiga hotel ini juga berada di Kolombo.

Dikutip dari Khaleej Time, serangan bom gereja itu menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai 450 orang. Sebanyak 35 korban tewas merupakan warga asing yang berasal dari AS, Inggris, Cina, Belanda dan Portugal.

Kepolisian setempat sudah menangkap 13 tersangka yang diduga memiliki hubungan dengan serangan pengeboman itu.

Sementara tujuh pelaku lainnya tewas. Hal itu diketahui berdasarkan hasil analisis forensik yang dilakukan pemerintah Sri Lanka atas jasad yang ditemukan di tiga gereja dan tiga hotel. Hasil forensik ini pula yang menyimpulkan bahwa tujuh pelaku bom bunuh diri telah melakukan serangan.

Setiap gereja dan hotel diserang pelaku bom tunggal, sementara dua pelaku menargetkan Hotel Shangri-La di Kolombo.


Ketegangan Sektarian di Sri Lanka


Sebanyak 70 persen warga Sri Lanka adalah pemeluk Buddha dan hanya 10 persen warga yang beragama Islam. 7,3 persen lainnya beragama Kristen dan pemeluk Hindu tercatat sebanyak 12,5 persen.

Dikutip dari Time, Sri Lanka mendeklarasikan keadaan darurat pada Maret 2018 setelah gerombolan umat Buddha menyerang bisnis, rumah, dan masjid milik umat Islam di pusat kota Kandy.

Seorang pria Muslim ditemukan tewas di sebuah gedung yang terbakar. Serangan itu dilaporkan merupakan aksi balasan atas pemukulan seorang Buddhis oleh pria Muslim sebelumnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok-kelompok Buddha garis keras, seperti Bodu Bala Sena (BBS) dituduh menggerakkan kebencian sektarian di Sri Lanka. BBS menuduh Muslim Sri Lanka mengancam identitas bangsa Buddha.

Sementara itu, umat Hindu dominan di utara dan timur Sri Lanka. Pada 2009, pemberontak Tamil yang beragama Hindu, berjuang untuk menciptakan negara merdeka di utara dan mampu dikalahkan setelah 26 tahun.

Perdebatan Soal Pelaku Penyerangan

Juru bicara pemerintah Sri Lanka Rajitha Senaratne mengatakan kepada wartawan di Kolombo, Senin kemarin, bahwa "ada beberapa peringatan dari badan intelijen asing tentang serangan yang akan terjadi di Ibu Kota itu."

Tak hanya Senaratne yang mengungkapkan peringatan, Menteri Telekomunikasi Sri Lanka Harin Fernando pun sempat mentwit sebuah dokumen yang dikirim kepala polisi Sri Lanka awal bulan ini.

"Beberapa petugas intelijen mengetahui kejadian ini. Ada penundaan dalam tindakan. Apa yang ayah saya dengar juga dari seorang perwira intelijen. Tindakan serius perlu diambil mengapa peringatan ini diabaikan," cuit Harin Fernando.

Dokumen itu secara eksplisit menyebut keterlibatan National Thowheeth Jama'ath (NTJ)--juga peringatan bahwa kelompok itu berencana menyerang gereja-gereja dan Komisi Tinggi India--. Pemimpin kelompok NTJ turut disebut dalam dokumen itu.

Dikutip dari BBC, kelompok ini diyakini merupakan pecahan dari kelompok garis keras Islami lainnya, Sri Lanka Thowheed Jamath (SLTJ). Meskipun masih relatif tidak dikenal, SLTJ sedikit lebih "mapan" dibanding NJT. Sekretarisnya, Abdul Razik, ditangkap pada 2016 karena mengeluarkan ujaran kebencian terhadap umat Buddha.

Beberapa laporan juga mengaitkan NTJ dengan serentetan vandalisme pada Desember 2018 yang menargetkan kuil-kuil Buddha di Mawanella, Sri Lanka tengah.

Namun, para pakar kontraterorisme mengatakan serangan itu tak mungkin dilakukan sendirian oleh kelompok lokal.

Amarnath Amarasingam, seorang spesialis dalam isu ekstremisme Sri Lanka di Institute for Strategic Dialogue di London, mengatakan serangan ini cukup terencana dan terkoordinasi. Bahkan diyakini membutuhkan pendanaan dan keahlian yang cukup besar dari kelompok yang lebih berpengalaman di luar negeri.

"Pemilihan sasaran dan tipe serangan membuat saya sangat skeptis bahwa ini dilakukan oleh kelompok lokal tanpa keterlibatan pihak luar," kata Amarnath, dikutip dari New York Times.

"Tidak ada alasan bagi kelompok-kelompok ekstremis lokal untuk menyerang gereja, dan sedikit alasan untuk menyerang turis."

Sri Lanka merupakan negara kepulauan di Samudra Hindia yang dirusak perang saudara selama puluhan tahun yang berakhir pada 2009.

Hanya sedikit sejarah kekerasan yang dilakukan militan Muslim. Pemboman bunuh diri yang dirintis di sana mulai 1980, dilakukan gerilyawan dari etnis minoritas Tamil di negara itu yang kebanyakan Hindu, bukan Muslim.

Anne Speckhard, direktur Pusat Internasional untuk Studi Ekstremisme Kekerasan, membandingkan serangan gerilyawan Tamil dengan serangan yang dikaitkan dengan National Thowheeth Jama'ath.

Menurutnya, terdapat perbedaan serangan bom pada Ahad lalu. Sebab selama perang sipil yang merupakan bagian dari gerakan nasionalis atau etnis separatis, umumnya tidak menargetkan agama tertentu.

"Serangan-serangan ini tampaknya sangat berbeda," katanya, "dan tampak seolah-olah mereka berasal dari ISIS, Al-Qaeda, buku pedoman jihad militan global, karena ini adalah serangan yang memicu kebencian agama dengan menyerang beberapa gereja pada hari libur keagamaan."

Tudingan dan kecurigaan terkait dalang di balik serangan Sri Lanka kian melebar. Beredar informasi dari media lokal Sri Lanka bahwa ada seorang WNI atas nama Insan Setiawan yang diduga menjadi pelaku serangan bom Sri Lanka. Namun, informasi ini dibantah Kepolisian Indonesia.

"Sampai dengan hari ini, kami belum dapat informasi bahwa ada WNI sebagai korban atau pelaku yang terlibat dalam kejadian itu," ucap Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jakarta.

"Sudah diidentifikasi atas warga negara Sri Lanka bukan WNI," tegas Dedi.

Meski sejumlah pihak mencurigai adanya keterlibatan asing terhadap serangan itu, Joshua A Geltzer, direktur senior untuk kontraterorisme dalam pemerintahan Obama mengingatkan agar tak menyepelehkan militan lokal. Ia mengatakan militan lokal kini bisa melancarkan serangan tanpa bantuan pihak luar.

"Gagasan bahwa kelompok teroris regional yang lebih kecil dapat melakukan serangan sebesar ini benar-benar tidak mengejutkan saya, di zaman ini, strategi dan taktik teroris dibagikan secara digital," kata Geltzer.

"Ada begitu banyak instruksi dan panduan yang tersedia di internet hari ini--belum lagi apa pun yang beredar di grup obrolan terenkripsi, tersedia secara luas di kalangan teroris jika tidak sepenuhnya publik."

Tujuan National Thowheeth Jama'ath adalah menyebarkan gerakan jihadis global ke Sri Lanka dan untuk menciptakan kebencian, ketakutan, dan perpecahan di masyarakat.

"Ini bukan tentang gerakan separatis," katanya. "Ini tentang agama dan hukuman."

NJT merupakan kelompok kecil Muslim muda yang beringas. Kelompok ini memulai gerakannya tiga tahun lalu di Sri Lanka timur. Hingga bulan ini, kelompok itu secara umum dianggap anti-Buddha.


ISIS Mengklaim Bertanggung Jawab

Kini, setelah perdebatan panjang selama dua hari terkait siapa dalang di balik serangan Sri Lanka, ISIS melalui kantor berita Amaq menyiarkan pernyataan bertanggung jawab atas serangan itu.

Kantor berita Amaq merilis sebuah buletin pada hari Selasa (23/4/2019) yang menyatakan bahwa serangan itu dilakukan oleh "pejuang ISIS."

Pernyataan itu, yang disebarluaskan di ruang obrolan kelompok di aplikasi Telegram, juga mengatakan bahwa pengeboman itu menargetkan orang Kristen serta warga negara dari koalisi yang memerangi ISIS.

Klaim itu dipertegas dengan pernyataan Seorang pejabat pemerintah Sri Lanka, Ruwan Wijewardene, yang mengatakan pengeboman itu merupakan balasan atas pembunuhan 50 orang di masjid di Selandia Baru.

"Investigasi awal telah mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di Sri Lanka adalah sebagai balasan atas serangan terhadap Muslim di Christchurch," kata Ruwan Wijewardene.

Namun tak ada kejelasan soal investigasi Sri Lanka sebab pada Senin, Sri Lanka menuding National Thowheeth Jama'ath sebagai pelaku penyerangan tersebut.

ISIS memang identik dengan rangkaian teror dalam dekade terakhir. Sebut saja serangan teror di London, Barcelona, Parlemen Iran hingga Makam Khomeini.

ISIS termasuk yang paling cepat mengklaim sejumlah teror yang terjadi di berbagai belahan dunia. Bahkan serangan ke kasino di Manila yang menewaskan 36 pengunjung diklaim ISIS sebagai salah satu serangannnya, meski akhirnya otoritas kepolisian mengumumkan serangan dilakukan seorang penjudi yang kalah. Tidak ada bukti keterlibatan ISIS.

Lisa Monaco, mantan penasihat keamanan Presiden Barack Obama, pun mengingatkan jika serangan di Sri Lanka bisa saja terinspirasi oleh ISIS.

"Ini adalah pengingat bahwa kita tidak boleh salah mengira kekalahan kekhalifahan fisik - sama pentingnya dengan upaya luar biasa baik oleh Obama dan administrasi Trump - kita tidak boleh mengira kekalahan kekhalifahan fisik dengan kekhalifahan virtual," Kata Monaco.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa kelompok-kelompok teroris "terus merencanakan kemungkinan serangan di Sri Lanka."

Teroris dapat menyerang "dengan sedikit atau tanpa peringatan," dan menetapkan beberapa target potensial, termasuk tempat-tempat wisata, pusat transportasi, pasar, mal, kantor pemerintah, hotel dan tempat-tempat ibadah.


----------
Artikel ini diupdate pada Selasa (23/4/2019) pukul 20.10 dengan menambahkan informasi klaim ISIS yang menyebut bertanggung jawab atas insiden teror di Sri Lanka.

Baca juga artikel terkait BOM SRI LANGKA atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Politik)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Abdul Aziz