Siang Panas, Malam Kering dan Dingin; Rawat Kulitmu dengan Baik

Infografik Dry Intrusion
Sejumlah anak memanfaatkan areal persawahan yang terdampak kekeringan untuk bermain bola di Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (3/7/2019). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/ama.
Oleh: Aditya Widya Putri - 22 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Suhu panas ataupun dingin yang ekstrem sama-sama bisa menyebabkan dehidrasi.
tirto.id - Memasuki musim kemarau, beberapa wilayah Indonesia menghadapi fenomena udara dingin pada malam hari. Kondisi itu membuat suhu malam menjelang dini hari berkebalikan dengan suhu saat siang hari yang panas menyengat. Supaya tubuh bisa beradaptasi dengan fenomena cuaca ekstrem tersebut, Tirto mengulas tips-tips yang bisa Anda terapkan.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) dalam berita Kompas menjelaskan bahwa Indonesia tengah menghadapi dry intrusion atau intrusi udara kering. Pulau Jawa adalah wilayah paling terdampak, jika dilihat dari citra satelit untuk mendeteksi water vapour di atmosfer, Pulau Jawa dikelilingi warna cokelat yang diartikan sebagai paparan udara kering.

“Fenomena dry intrusion mengakibatkan kita sering kedinginan pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau,” ujar Agie Wandala, Kepala Sub Bidang Iklim dan Cuaca BMKG kepada Kompas.com.

Jika dilihat dari laporan cuaca BMKG, pada malam hari, suhu udara di Pulau Jawa bisa mencapai 14 derajat celsius. Di dataran tinggi, seperti Dieng, misalnya, suhu tersebut sempat mencapai minus 5 derajat celsius dan membikin wilayah ini sempat ditutupi es. Sementara itu, pada siang hari, suhu naik hingga 30 derajat celsius.


Agie mengungkapkan ada beberapa faktor pemicu terjadinya intrusi kering itu di Indonesia. Pertama, suhu udara di selatan Indonesia saat ini sangat rendah karena Indonesia sedang mengalami Monsun Australia. Angin monsun ini aktif pada bulan Juni sampai dengan bulan September. Selama periode tersebut, belahan bumi selatan mengalami musim dingin, dan gelombang angin dinginnya bergerak di atas Australia dan samudera sekitar.

Efek dari Monsun Australia diperparah oleh pelepasan panas bumi di malam hari. Saat musim kemarau, tutupan awan jadi lebih sedikit sehingga panas matahari langsung diserap bumi. Kondisi itu membikin cuaca siang hari lebih panas, karena suhu bumi lebih rendah daripada matahari. Sebaliknya, ketika malam, suhu bumi menjadi lebih tinggi dibanding matahari karena serapan panas sebelumnya.

Bumi lalu melepaskan panas ke atmosfer sehingga suhu di permukaan turun. Lantaran tutupan awan lebih sedikit saat musim kemarau, maka pancaran gelombang bumi pada malam hari jadi lebih maksimal, dan menyebabkan suhu permukaan bumi turun relatif lebih cepat, dan lebih dingin dari biasanya.


Tips Menghadapi Perubahan Suhu

Perubahan suhu ekstrem dari panas di siang hari dan dingin di malam hari bisa membikin tubuh kaget dan menimbulkan reaksi negatif. Tak cuma aktivitas harian yang bisa terganggu, waktu tidur sebagai istirahat terbaik pun bisa ikut berantakan akibat suhu yang tidak kondusif.

Satu contoh kecilnya adalah saat tubuh menghadapi suhu tinggi pada siang hari, kita akan lebih banyak mengeluarkan keringat sebagai upaya mempertahankan suhu tubuh. Pada orang-orang yang memiliki kulit sensitif, keringat berlebih bisa memicu timbulnya ketombe, iritasi, ruam, gatal, bruntusan, hingga efek terbakar matahari.

“Keringat berlebih juga membikin area kulit jadi kotor dan lembab, sehingga memicu bakteri penyebab jerawat dan bisul,” kata Putri Ambarani, dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin di Rumah Sakit Pondok Indah.




Tak hanya suhu panas, suhu dingin yang terlampau ekstrem pun bisa membikin tubuh kehilangan cairan lebih cepat dan menimbulkan dehidrasi. Saat kelembapan lingkungan turun, cairan dalam tubuh akan ditarik oleh penguapan lingkungan. Jika tak cukup cairan, kondisi itu akan membikin kulit mudah kering dan dehidrasi. Efek paling parah dirasakan oleh mereka yang tinggal di daerah terbuka, seperti pantai atau pegunungan.

Derajat suhu yang kurang bersahabat nyatanya juga turut memengaruhi kualitas tidur. Suhu udara yang terlalu dingin dikaitkan dengan tidur yang kurang nyenyak. Studi dari Belanda yang melakukan manipulasi suhu kulit menyimpulkan bahwa perlu suhu yang cukup hangat untuk membuat tidur berkualitas.

“Kenaikan suhu kulit 0,4 derajat celsius cukup meningkatkan gelombang lambat tidur meningkat dua kali lipat,” tulis penelitian tersebut. Efek manipulasi suhu ini paling jelas didapat pada orang tua dan orang dengan insomnia.


Penelitian ini cukup menjelaskan alasan di balik tidur nyenyak setelah mandi air hangat. Saat tidur, hipotalamus, bagian otak yang mengatur suhu, ikut beristirahat. Akibatnya, suhu tubuh menjadi lebih dingin, suhu lingkungan yang hangat akan mencegah tubuh kehilangan panas lebih cepat. Suhu ideal saat tidur kira-kira berada di antara 60-67 derajat fahrenheit, atau sekitar 15-19 derajat celsius.

“Dengan kondisi dry intrusion saat ini, usahakan pakai baju hangat saat malam, supaya cairan tidak tersedot dan akhirnya bikin cepat keriput,” ujar dokter Putri.

Sementara itu, saat siang, kita dianjurkan memakai baju longgar yang terbuat dari katun agar keringat terserap. Jika baju basah karena keringat, jangan terus memakainya hingga kering. Segeralah berganti baju agar bakteri dan jamur tidak berkembang biak. Terakhir, selalu gunakan pelembap, tabir surya, cukup minum dan asupan buah yang banyak mengandung air, seperti semangka dan melon.

Baca juga artikel terkait PERAWATAN KULIT atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight