Felix Nathaniel
Meliput isu nasional sebagai reporter dan penulis di Tirto sejak 2016.

Sesat Pikir Teori Konspirasi Deddy, Young Lex, dan Jerinx

1 Mei 2020
Dibaca Normal 8 menit
Penculikan aktivis dan kekerasan pada etnis Tionghoa 1998, penyiraman air keras pada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan, atau bahkan sekadar pensil yang selalu hilang di kelas. Teori konspirasi selalu menemukan celah dalam pikiran manusia. Ada konspirasi yang terungkap, ada pula yang tidak. Ada yang benar-benar terjadi, tapi banyak pula yang tidak. Yang paling bermasalah adalah ketika sebuah konspirasi tak bisa dibuktikan, tapi tetap diyakini dan disebarkan sebagian orang sebagai kebenaran.

Konspirasi adalah sebuah rencana terselubung dan dijalankan oleh segelintir orang. Kamus Cambridge mengartikan konspirasi sebagai "aktivitas bersama orang lain untuk secara rahasia merencanakan sesuatu sesuatu yang buruk atau ilegal". Konspirasi bisa dilakukan siapa saja. Bukan hanya elite negara, siapapun bisa berkonspirasi, misalnya untuk menggulingkan kekuasaan, mengubah kehidupan masyarakat, atau mengarahkan pemerintahan sesuai cita-cita yang dituju kelompok yang bersangkutan. Upaya untuk menerangkan konspirasi itu disebut teori konspirasi.

Teori konspirasi biasanya berkembang dalam situasi sosial dan politik yang serba tidak pasti, dari perang, krisis politik, krisis ekonomi, bencana alam, atau pandemi. Tak heran jika teori konspirasi muncul di masa penyebaran COVID-19.

Studi Karen M. Douglas, Robbie M. Sutton, dan Aleksandra Gichocka bertajuk "The Psychology of Conspiracy Theories" yang terbit di Current Directions in Psychological
Science (2017) menunjukkan bahwa teori konspirasi biasanya berusaha mengungkap tindakan-tindakan yang disembunyikan dari publik. Elemen cerita dalam teori konspirasi juga bertumpu pada aktor tunggal yang umumnya digambarkan selalu berhasil mencapai tujuan-tujuannya.

Penggemar teori konspirasi selalu menempatkan diri dalam posisi korban. Jika narasinya dibantah, mereka akan menuding ada persekongkolan sistematis. Jika mereka melanggar hukum dan ditahan, mereka akan mengklaim telah dikriminalisasi. Jika ada kesalahan gawai yang digunakan, mereka menuding ada sabotase dan penyadapan. Muncul pula klaim bahwa dengan menyebarkan teori tersebut, mereka sedang melawan kekuatan lebih besar sehingga wajar punya banyak musuh. Bagi penggemar teori konspirasi, mereka yang berusaha menolak teori konspirasi adalah bagian dari konspirator itu sendiri atau, sebaliknya, korban propaganda para konspirator.


Dalam paparannya di The Conversation, Mark Lorch, dosen komunikasi sains di Universitas Hull, menyebutkan bahwa mereka yang percaya teori konspirasi sering terjebak dalam bias konfirmasi. Mereka cenderung mempercayai informasi yang mendukung gagasan awal yang dipercaya sekaligus menyingkirkan informasi lain yang bertentangan. Yang seperti ini tentu jauh dari sikap ilmiah.

Meski tidak ilmiah, teori konspirasi tak selamanya bisa dipandang remeh. Beberapa peristiwa dunia melibatkan elemen teori konspirasi. Narasi seperti Protokol Zion bahwa Yahudi bersekongkol menguasai dunia, misalnya, muncul dari para pendukung Tsar untuk mendiskreditkan kaum komunis di Rusia pada awal abad ke-20. Dengan sejumlah modifikasi, teori konspirasi ini menjadi bahan propaganda kaum fasis Eropa sejak 1920-an dan akhirnya menjelma pembenaran untuk pemusnahan jutaan orang Yahudi dan siapapun yang anti-fasis.

Jauh sebelum itu, pada abad ke-18, padri Katolik Perancis bernama Augustin Barruel mengarang cerita tentang kerja-kerja Freemasonry dan Illuminati di balik kemunculan Diderot, Voltaire, dan filsuf-filsuf radikal lain yang gemar mengkritik institusi Gereja Katolik. Tak lama setelah kaum Jacobin berkuasa dan pasangan Louis Capet mati di dasar gilotin, Barruel menerbitkan buku tentang persekongkolan Freemasonry, Illuminati, dan Yahudi di balik Revolusi Perancis. Dari tangan padri reaksioner itulah semua mitos dan omong kosong tentang Freemansonry dan Illuminati menyebar ke seluruh dunia dan dipercaya tidak sedikit orang.

Teori konspirasi paling anyar di Indonesia adalah soal penyebaran virus SARS-Cov-2 atau COVID-19 atau virus Corona. Sebelumnya banyak konspirasi beredar, misalnya yang menyatakan bahwa tidak ada kekerasan pada etnis Tionghoa di peristiwa Mei 1998 atau penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan yang dianggap sebagai rekayasa.

Tiga orang yang belakangan mencuat karena teori konspirasi COVID-19 di Indonesia adalah Young Lex, Deddy Corbuzier, dan Jerinx, penabuh drum Superman is Dead (SID).

Deddy mengunggah satu video perbincangan dengan Young Lex dalam video berjudul Corona Hanya Sebuah Kebohongan Konspirasi !? (Tonton sebelum video ini ter take down) pada tanggal 20 April 2020. Judul yang berlebihan itu dilengkapi dengan thumbnail wajah Deddy memakai masker dan tulisan “Covid19 100% Konspiras1 !? Kita Di Bodohi!?”

Video tersebut diunggah di kategori hiburan (entertainment). Tak seperti harapan Deddy, sampai sekarang video itu masih bertengger di Youtube dan 7.687.406 kali ditonton. Diakses pada Selasa (28/4/2020) pukul 23.53, video Deddy bahkan menempati urutan 12 video paling populer yang diakses di Indonesia.

Dalam perbincangannya, Deddy menyatakan bahwa media melebih-lebihkan bahaya penyebaran virus Corona. Deddy tidak menampik virus Corona memang ada dan berbahaya. Tapi, menurutnya, pemberitaan di media bukan mengarah pada kewaspadaan, melainkan ketakutan.

Young Lex, yang kata Deddy menggemari teori konspirasi, menganggap ketakutan itu punya tujuan besar: membuat masyarakat tunduk. Pada siapa? Pada mereka yang dua orang penghibur ini pun tak tahu siapa. Namun PSBB dan Corona, bagi dua orang ini, adalah satu cara efektif agar orang menaruh harapan pada sang konspirator sebagai sosok penolong kala pandemi melanda.

Setelah Deddy dan Young Lex, terbitlah Jerinx yang memahami wabah Corona sebagai buatan elite. Jerinx mengatakan, "Permainan menaikkan angka korban guna memuluskan agenda elit global ini sudah terjadi sejak wabah diumumkan kacung Bill Gates bernama WHO".

Anehnya, Jerinx juga mendukung gerakan PSBB, pakai masker, dan cuci tangan--tiga cara yang dipromosikan oleh World Health Organization (WHO) untuk menghindari tertular Corona. Dalam pernyataan yang lain, Jerinx mengajak orang ramai-ramai tidak mempercayai WHO.

Persamaan ketiganya? Asumsi mereka tidak mempunyai dasar yang kuat dan bisa dipercaya. Persamaan lain, ketiganya malah melontarkan pertanyaan-pertanyaan ngalor-ngidul untuk sampai pada kesimpulan. Deddy dan Young Lex, misalnya, bertanya-tanya apakah data korban Corona ditambah atau justru dikurang-kurangi oleh pihak berwenang. Kemudian Deddy juga menanyakan mengapa orang meninggal karena kanker tidak diberitakan besar-besaran.

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya ada. Misalnya soal kanker, yang tentu saja berbeda dengan virus. Kanker tidak menular cepat lewat sentuhan dan bisa dihindari dengan berbagai cara. Pertanyaan lain soal kebenaran jumlah korban yang tidak bisa dijawab juga tak serta-merta membuktikan keberadaan apa yang mereka duga sebagai konspirasi.

Jerinx juga memakai pola yang sama. Dia melontarkan pertanyaan retoris seperti: "Logika? Pertahun, jutaan manusia meninggal akibat kelaparan di seluruh dunia. Itu fakta. Kenapa ia tidak menjadi “pandemic”? Karena kelaparan tidak membunuh orang kaya!"

Perbandingan itu jelas keliru. Kelaparan merupakan masalah sosial dan seringkali berhubungan dengan ketimpangan ekonomi. Berbagai macam kasus kelaparan di dunia ini juga disebabkan oleh konflik bersenjata atau embargo ekonomi. Namun, kelaparan bukan penyakit yang menular, meskipun jutaan orang bisa tewas karenanya. Kelaparan memang masalah besar, namun bukannya tanpa solusi. Pemecahannya berpangkal pada rumus sederhana: merumuskan kebijakan yang membuat orang bisa makan dan memastikan kebijakan tersebut dilaksanakan dengan benar.

Di sisi lain, watak dan mutasi virus SARS-CoV-2 hingga hari ini belum sepenuhnya bisa dipetakan. Penularannya masif. Walhasil, selama vaksin belum ditemukan, solusi untuk pandemi Corona--misalnya dengan pembatasan sosial atau pemakaian masker--secara umum masih berorientasi pencegahan.

Pertanyaan lain Jerinx: "Lalu kenapa CEO Google & lusinan CEO korporat raksasa kompak mengundurkan diri jauh-jauh hari sebelum wabah diumumkan?"

Alih-alih merinci lusinan perusahaan lain tersebut, pernyataan Jerinx menyiratkan para bos perusahaan ini mengetahui soal Corona jauh sebelum pandemi. Jika yang dimaksud Jerinx sebagai CEO Google adalah Sundar Pichai, faktanya Pichai belum mengundurkan diri. Yang mengundurkan diri dari Google adalah Larry Page dan Sergey Brin. Itu pun pada awal Desember 2019, tidak terlalu "jauh" dari penyebaran Corona seperti asumsi Jerinx.

Ada juga dugaan penyebab lain mundurnya kedua orang tersebut dari Google. Pertama kasus dugaan pelecehan seksual di tempat kerja oleh Brin pada 2014. Pada 2018, Page dipanggil untuk menghadapi pemeriksaan terkait pengaruh luar negeri dalam pemilu AS 2016. Sebelum mereka mengundurkan diri, Google juga memecat beberapa karyawannya yang menyalahi aturan privasi data. Pada tahun yang sama, ribuan karyawan Google mengundurkan diri sebagai aksi protes buruknya penyelesaian perusahaan pada masalah pelecehan seksual. Namun kedua orang ini juga masih duduk di dewan direksi Google atau Alphabet.inc.

Mereka yang termakan omongan Deddy-Young Lex-Jerinx suatu saat mungkin akan menjadi bahan tertawaan persis ketika Young Lex mengelabui publik bahwa dirinya dipukuli para penggemar K-pop.

Alat Politik

Klaim khas teori konspirasi ini memang tidak berasal dari Young Lex, Deddy, dan Jerinx semata. Teori ini sudah bermunculan di berbagai tempat di dunia. World Health Organization menyatakan teori konspirasi menjadi masalah serius setidaknya pada Februari 2020. Penyebarannya lebih cepat daripada virus Corona dan membingungkan khalayak luas.

Kolumnis koran Arab Saudi Al-Watan, Sa'ud al-Shehry, menulis bahwa virus Corona diciptakan oleh Amerika Serikat. Bukan suatu kebetulan virus tersebut melanda China yang merupakan saingan AS. Al-Shehry menduga Corona akan melanda Mesir, tapi tidak Amerika dan Israel. Tulisan al-Shehry dirilis pada Februari 2020 dan pasien positif COVID-19 di AS mencapai 1.030.315, terbanyak di dunia per 29 April 2019.

Media Al-Thawra, melalui kolom yang ditulis Hussein Saqer, juga mengajukan klaim serupa. Al-Thawra bahkan menuding AS turut menciptakan Ebola, Zika, dan SARS untuk menyerang negara-negara lain.

Al-Watan adalah media tempat Jamal Khasoggi pernah bekerja pada 2003 dan 2007 silam. Khasoggi dikeluarkan karena mengkritik kaum Salafi di Saudi. Khasoggi sendiri akhirnya dibunuh oleh 11 orang dari Saudi. Sedangkan Al-Thawra adalah media yang didirikan dan didanai oleh pemerintah Suriah.

Mesir tidak mau ketinggalan. Jurnalis Vetogate, Ahmad Rif'at, mengklaim AS sengaja memilih Wuhan sebagai pusat penyebaran Corona. Kondisi Wuhan yang tidak terlalu padat dibanding kota besar di Cina seperti Shanghai atau Beijing membuat Amerika yakin menjadikan Wuhan target serangan dengan harapan tak menjadi perhatian publik.

Teori konspirasi ini juga dianut oleh pemimpin negara Timur Tengah lainnya seperti Iran. Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, misalnya, menganggap virus Corona yang awalnya menyerang Cina sebenarnya dibuat untuk menyerang Iran dan mengambil data-data genetik warga Iran.

“Mungkin saja obatmu (Amerika) malah menyebabkan penyebaran Corona lebih masif lagi,” tukas Khamenei dilansir Al-Jazeera.

Familiar? Ya, itulah alasan yang digunakan Young Lex dalam video Deddy untuk menolak vaksin.

Di AS sendiri spekulasi lain beredar. Sejumlah warga percaya virus Corona adalah senjata biologi buatan Cina. Teori konspirasi ini juga disokong oleh senator dari Partai Republik pendukung Donald Trump, Tom Cotton. Apa yang mendasarinya? Tidak ada selain “akal sehat”.

Jerinx mengandalkan referensi yang berbeda dengan Deddy dan Young Lex. Teori konspirasi yang ia bicarakan merujuk tayangan Out of Shadows yang diunggah di Youtube pada 13 April 2020. Tayangan ini menyuguhkan teori konspirasi pada beberapa peristiwa yang berbeda.

Ada tiga poin teori konspirasi yang sekiranya bisa diambil dalam tayangan itu. Pertama, ada keterlibatan Central Intelligence Agency (CIA) dalam pembuatan film Hollywood, tapi klaim ini pun tidak diperkuat dengan mana saja film yang ditengarai CIA. Kedua, film yang dibuat oleh Hollywood menjadi saluran propaganda. Ketiga, ada skandal yang ditutup-tutupi oleh media dalam kasus Pizzagate, sebuah teori konspirasi yang menyatakan Hillary Clinton, pesaing Trump pada pemilu 2016, terlibat dalam perdagangan anak.


Klaim pertama dan kedua memang bisa saja terjadi. Beberapa peneliti sudah menelaah tentang bagaimana film Rambo menjadi sarana propaganda untuk menutupi kekalahan Washington di Perang Vietnam. The Atlantic melaporkan, CIA telah lama bekerjasama dengan Hollywood. Atlantic mencatat bahwa sejak 1990-an, "penulis skenario, sutradara, dan produser Amerika telah memberikan gambaran positif profesi mata-mata dalam proyek-proyek film atau televisi" demi mendapat akses khusus ke markas CIA. Meski begitu, Atlantic menggarisbawahi bahwa tidak semua film bikinan Hollywood melibatkan CIA.

Inilah yang tidak disebutkan oleh para penggemar dan penyebar teori konspirasi. Konspirasi ala "CIA dan Hollywood" juga belum tentu datang dari “kelompok misterius” dari negeri asing, tapi bisa jadi negara itu sendiri. Jangankan Amerika, penguasa Indonesia pada era Orde Baru juga gemar membuat film propaganda .

Klaim ketiga soal Pizzagate merupakan tuduhan tak terbukti dan berasal dari akun anonim yang menyebarkan email dari John Podesta, manajer kampanye Hillary Clinton. Dari email yang bocor itu, pendukung Trump menuding Hillary terlibat dalam perdagangan anak. Podesta memang memakai kata pizza, sebuah ungkapan yang mengacu pada perdagangan anak.

Tudingan ini tidak terbukti dan narasumber dalam tayangan itu, Liz Crokin, menuding media telah sekongkol menyembunyikan kasus. Satu poin penting, Crokin tidak bisa menjelaskan mengapa Hillary menjadi sangat istimewa di mata media. Padahal media di Amerika tidak serta-merta melindungi pejabat seperti tudingan Crokin. Media di Amerika bahkan pernah mengungkap konspirasi presiden Amerika, Richard Nixon, yang dikenal dengan sebutan skandal Watergate.

Perlu digarisbawahi, Liz Crokin adalah seorang mantan jurnalis yang sekarang menulis banyak kolom di Observer dan Elite Daily. Sebelumnya dia sempat menulis di Chicago Tribune dan Chicago Sun-Times. Yang tak semua orang tahu, liputan Crokin tidak mencakup isu politik dan hukum, melainkan hiburan.


Crokin bahkan bisa mengaitkan hal-hal kecil dengan teori konspirasi. Dalam unggahannya di Instagram, pendukung Donald Trump ini menuding media Fox13 sedang menutupi kebenaran karena salah mengeja namanya menjadi "Curkin". Kesalahan itu disengaja agar orang tidak bisa mencari Crokin lewat mesin pencari.

Teori konspirasi dari negara-negara Timur Tengah menyasar Amerika Serikat yang dipimpin Trump sebagai pelaku. Sedangkan Amerika sendiri menuding negara lain sebagai pembuat ulah. Lagi-lagi, tidak pernah ada bukti kuat yang disuguhkan masing-masing penuduh.

Peneliti dari Centre for Research on Evaluation, Science and Technology (CREST), Marina Joubert, mengemukakan bahwa teori konspirasi muncul sebagai dampak psikologis akibat kepanikan akan penyebaran Corona.

Satu--dan mungkin hanya itu saja yang penting dalam video perbincangan Deddy-Young Lex--adalah bahwa masyarakat dan pemerintah tidak tahu sampai kapan pandemi Corona akan melanda Indonesia. Tidak tahu kapan vaksin benar-benar bisa diproduksi, atau kapan kekebalan kelompok (herd immunity) terbentuk, atau malah Corona berhenti menyebar karena PSBB di satu waktu mendatang. Tidak ada yang benar-benar bisa memastikan.

“Ketika orang tidak mempunyai jawaban dan peneliti tidak bisa memberikan kepastian, mereka cenderung berspekulasi,” kata Joubert seperti dilansir Al-Jazeera.

Bahaya Teori Konspirasi

Orang-orang seperti Young Lex, Deddy, dan Jerinx adalah pesohor yang digemari banyak orang. Akun media sosial mereka di Instagram diikuti oleh ratusan ribu pengguna.

Penyebaran teori konspirasi bukan tanpa risiko. Dalam kasus Pizzagate, sebagian orang menjadi panik dan merasa tak aman karena muncul rumor tentang politikus yang diduga melakukan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Toko yang dianggap menyediakan anak kecil untuk jadi mangsa predator seksual itu adalah restoran pizza Comet Ping Pong.

Setelah rumor merebak, surat berisi ancaman pembunuhan yang tak terhitung jumlahnya dilayangkan ke Comet Ping Pong. Pemiliki Comet Ping Pong, James Alefantis, tak mampu berbuat banyak selain menerima terror tersebut.

Puncaknya adalah pada 4 Desember 2016. Pria berusia 32 tahun bernama Edgar Maddison Welch mendatangi Comet Ping Pong sambil membawa senjata api setelah membaca teori konspirasi perdagangan anak. Dia menembakkan senjata api laras panjang di dalam restoran. Beruntung tidak ada korban luka dan Welch berhasil ditahan.

Kendati menyesal, Welch tetap percaya pada teori konspirasi tersebut. Memang sampai sekarang pendukung teori itu belum juga luntur kepercayaanya. Pada tahun 2019, Comet Ping Pong juga sempat dibakar orang tak dikenal. Lagi-lagi tak ada korban jiwa.

Teori konspirasi lain soal Corona adalah adanya gelombang 5G yang bisa menyebarkan Corona. Teori yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah ini dipercaya oleh sebagian orang di Inggris. Menara pemancar sinyal 5G di Birmingham dan Merseyside dibakar oleh seseorang yang sampai hari ini belum juga berhasil ditangkap.

Jika narasi teori konspirasi terus disebarluaskan, diyakini kebenarannya, dan menyebabkan orang meremehkan bahaya virus Corona, bukan tidak mungkin Indonesia hanya bisa pasrah dengan herd immunity alamiah yang bisa membunuh 16 juta orang.

Pada 2018, dosen US Naval War College dan komentator politik internasional Tom Nichols menerbitkan buku berjudul The Death of Expertise. Dalam buku itu, ia menyesalkan bagaimana produksi pengetahuan yang mapan dan telah melahirkan banyak pakar di bidangnya kian mendapat tantangan dari sikap anti-intelektual yang berkembang pesat di Amerika Serikat. Salah satu sikap anti-intelektual itu menemukan bentuknya dalam teori konspirasi.

Nichols menulis: "Teori konspirasi sangat menarik bagi orang yang kesulitan memahami dunia yang rumit dan tidak memiliki kesabaran untuk penjelasan yang kurang dramatis".

Soal para penggemar teori konspirasi, ia menambahkan: "... ada orang-orang yang akan memilih meyakini omong kosong yang njelimet daripada menerima bahwa situasi yang mereka hadapi memang tidak bisa dipahami".

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight