Serbuan Pabrik Semen di Pegunungan Kendeng Utara

Oleh: Mawa Kresna - 22 Maret 2017
Dibaca Normal 1 menit
Pegunungan kapur utara di Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah surga bagi industri semen. Sejumlah pabrik semen besar seperti Semen Indonesia, Holcim, dan Indocement telah menancapkan kakinya di sana.
tirto.id - Pegunungan kapur utara membentang dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah, hingga Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Lebar rangkaian pegunungan ini sekitar 30-50 km dengan ketinggian kurang dari 800 meter dari permukaan laut.

Daerah di sepanjang pegunungan ini termasuk selatan Pati, utara Grobogan, Rembang, Blora, Tuban, utara Bojonegoro, dan barat Lamongan. Ia memikat banyak pabrik semen untuk mengguyurkan investasi penambangan.

Di Grobogan, yang berbatasan dengan Pati di Jawa Tengah, pabrik PT Semen Grobogan mulai dibangun pada akhir 2016. Investasinya sebesar Rp7 triliun, dengan izin lahan di Sugihmanik, Tanggungharjo. Rencananya pembangunan pabrik rampung pada akhir tahun 2017. Ia akan melakukan eksplorasi selama 40 tahun dan memproduksi 2 juta ton semen/ tahun.

Skala eksplorasi pabrik Semen Grobogan masih tergolong kecil jika dibandingkan pabrik semen di Tuban, Jawa Timur. Di Tuban, PT Semen Indonesia dan Semen Holcim jauh lebih dulu melakukan eksplorasi. PT Semen Indonesia mampu memproduksi semen hingga 14 juta ton/ tahun pada 2016. Sedangkan kapasitas produksi Holcim mencapai 3,4 juta ton/ tahun.

Selain dua pemain besar, saat ini ada calon dua pabrik baru di kabupaten yang berbatasan dengan Rembang itu. Mereka adalah PT Abadi Cement dan PT Unimine Indonesia. Keduanya sedang dalam proses mengurus izin.

Jika di tempat lain sudah banyak investor berdatangan, di Blora—yang ibukotanya terletak di cekungan Pegunungan Kapur Utara—belum ada industri semen meski Pemda Blora sudah menawarkan investasi kepada Semen Padang sejak awal 2016.

Di Pati, PT Sahabat Mulya Sejati, anak perusahaan Indocement, ancang-ancang membangun pabrik semen sejak 2014 sesudah melengkapi sejumlah izin. Bila beroperasi, pabrik ini bisa berproduksi hingga 4,4 juta ton semen/ tahun. Total investasinya Rp7 triliun.

Sementara di Rembang, PT Semen Indonesia sudah membangun pabrik baru di kecamatan Gunem. Pabrik ini diproyeksikan bisa menambah produksi perusahaan hingga 3 juta ton/ tahun. Nilai investasinya Rp5 triliun.

Serbuan pabrik semen ini mendapatkan perlawanan dari warga. Khusus untuk dua pabrik di Pati dan Rembang, penolakan warga berbuntut panjang dan sampai ke pengadilan.

infografik HL semen rembang 2 - serbuan kendeng utara


Gugatan Petani Kendeng di Pati dan Rembang

Pada November 2014, warga Pati melayangkan gugatan izin lingkungan anak perusahaan Indocement ke Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang. Gugatan ini dimenangkan oleh warga. Namun, gugatan warga dikalahkah lewat proses banding di PTUN Surabaya. Kabar terbaru, 6 Maret 2017, kasasi yang diajukan oleh warga ditolak dan kemungkinan besar akan memuluskan PT Sahabat Mulya Sejati melanjutkan pembangunan pabrik.

Warga di Rembang juga gencar menolak pabrik Semen Indonesia, termasuk melayangkan gugatan yang dikabulkan Mahkamah Agung pada 6 Oktober 2016. Meski begitu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo justru mengeluarkan izin baru untuk PT Semen Indonesia pada 23 Februari 2017. Perlawanan warga dan polemik izin ini masih menunggu hasil kajian lingkungan hidup strategis.

Warga Kendeng Utara, baik di Pati maupun di Rembang, menolak kehadiran pabrik semen karena khawatir merusak kawasan karst sehingga berdampak pada kekeringan, dan gilirannya mencerabut mereka dari lahan penghidupan tani.

Digugat dan terus-menerus dilawan para petani Kendeng, Gubernur Ganjar Pranowo sempat mengusulkan agar perlu ada moratorium izin pabrik semen. Pada Januari 2017, Ganjar bahkan mengirimkan surat permohonan moratorium. Sisi baik dari moratorium, menurut Ganjar, memberikan kepastian kepada investor yang ingin menanam investasi semen di Jawa Tengah.

Di sisi lain, moratorium justru menguntungkan pabrik semen yang telah mengantongi izin. Ide ini bahkan didukung oleh sejawat politikus PDIP di Senayan maupun pihak Semen Indonesia.

Dalam satu wawancara dengan redaksi Tirto, 21 Desember 2016 di Jakarta, Ganjar menyatakan bahwa langkah moratorium ini ia pertimbangkan untuk membendung apa yang ia sebut "libido pabrik semen" yang "meningkat tatkala melihat kawasan karst.

Baca juga artikel terkait KONFLIK SEMEN REMBANG atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan