Serba Serbi MSG: Bijak dan Batasi Penggunaannya

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 10 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Food and Drug Administration (FDA) telah mengklasifikasikan MSG sebagai bahan makanan yang aman tetapi penggunaannya tetap kontroversial.
tirto.id - Monosodium Glutamat atau MSG lebih sering dikenal sebagai vetsin atau micin oleh banyak masyarakat Indonesia. MSG dikenal sebagai penyedap rasa instan untuk menambah rasa sedap pada masakan.

Tidak sedikit masyarakat yang menanyakan keamaan penggunaan vetsin atau micin ini terlebih untuk buah hati. Banyak rumor beredar penggunaan micin atau MSG ini akan membuat anak menjadi bodoh, pusing, mual, dan sebagainya.

Dilansir dari Mayo Clinic, Food and Drug Administration (FDA) telah mengklasifikasikan MSG sebagai bahan makanan yang aman tetapi penggunaannya tetap kontroversial. Oleh karenanya, ketika sebuah industri makanan menggunakan MSG dalam produknya, FDA mengharuskannya untuk dicantumkan pada label.

Penggunaan garam dibandingkan dengan MSG pada kenyataannnya menjadi lebih berbahaya. Hal ini dikarenakan MSG diketahui hanya mengandung 30 persen natrium lebih rendah dibandingkan dengan garam seperti dilansir Unair News.

Dokter spesialis anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Irwanto, mengatakan bahwa kadar pemakaian memang harus diawasi dan dibatasi. Lebih lanjut, pada orang-orang yang diketahui alergi memang harus menghindarinya.

“Karena sensivitas setiap orang berbeda. Maka ada orang yang alergi MSG, ada yang tidak,” ungkapnya dikutip dari Unair News.

Reaksi yang muncul seperti mual, muntah, pusing, setelah memakan makanan dengan kandungan MSG adalah beberapa gejala dari alergi yang disebutkan oleh Irwanto. Hal ini senada seperti yang diwartakan Mayo Clinic dan cara mencegah adanya reaksi tersebut adalah dengan menghindari konsumsi MSG.

Membatasi konsumsi makanan menjadi salah satu cara preventif untuk meminimalisir risiko adanya suatu penyakit. Dalam hal ini MSG, berikut adalah pertimbangan yang dapat Anda lakukan dilansir dari Antara:

1. Batasi konsumsi MSG

Nurpudji A. Taslim, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) menyampaikan bahwa membatasi MSG kurang lebih 10 miligram per kilogram berat badan menjadi langkah aman untuk mengkonsumsinya.

Jadi, apabila seseorang memiliki berat badan 60 kilogram maka ia disarankan untuk mengonsumsi MSG tidak lebih dari 6 gram atau satu sendok teh per hari.

2. Ada orang yang sensitif MSG

Beberapa orang mengalami gejala tertentu setelah mengonsumsi MSG atau dapat disebut dengan sensitif terhadap MSG. Ahli nutrisi dari PDGKI, dokter Maya Surdjaja, menyebutkan dengan dosis yang tidak banyak orang yang memiliki sensitivitas terhadap MSG sudah dapat bereaksi.

Dari Mayo Clinic, reaksi tersebut dapat berupa sakit kepala, muntah, berkeringat, sesak, jantung yang berdegup lebih kencang, mual, sakit dada, hingga kondisi badan yang melemah.

3. Bijak menggunakan MSG

Menurut Nurpudji, sebaiknya kita lebih bijak dalam menggunakan MSG pada masakan, setiap orang harus mempertimbangkan jenis makanan yang disantap. Pada dasarnya, MSG memiliki kandungan glutamat yang tinggi, oleh karenanya jika kandungan glutamat dalam makanan yang disantap juga tinggi maka tidak perlu menambahkan MSG.

Beberapa makanan yang mengandung glutamat adalah keju, susu, jamur, daging sapi, dan ikan.

Tidak hanya itu, ada baiknya pula menghindari makanan olahan. Pasalnya, kandungan MSG tinggi ditemukan dalam berbagai makanan olahan. Jika pola makan sudah baik dan sehat, maka tidak perlu lagi mengkhawatirkan asupan dan kandungan MSG dalam makanan.

Konsumsi MSG Bikin Bodoh?

Mitos bahwa konsumsi MSG dapat membuat anak menjadi bodoh telah lama menggaung dalam benak dan pikiran masyarakat. Faktanya, hal tersebut adalah tidak benar. Dokter spesialis anak, Meta Hanindita, dalam akun sosial medianya memaparkan bahwa konsumsi MSG tidak menimbulkan efek samping terhadap otak manusia.

“Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi MSG bahkan dengan dosis paling tinggi sekalipun (150 mg/ kg berat badan) tidak menimbulkan efek apa-apa pada otak manusia,” tulis Meta.

Ia juga menambahkan bahwa hal tersebut telah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan di Amerika dan Eropa.

Namun, apabila masih ketakutan untuk menambahkan MSG dalam makanan si kecil, para ibu dapat memilih alternatif lain. Pada dasarnya, penambahan MSG pada makanan hanya untuk menguatkan rasa gurih alami makanan. Jadi, para ibu dapat menggantinya dengan sumber makanan yang mengandung glutamat alami.

Dokter Irwanto melalui Unair News memaparkan glutamat asli dapat diperoleh dari berbagai jenis sayuran. Lebih lanjut, dapat juga menambahkan kaldu ayam atau kaldu sapi dalam menyajikan MPASI bagi si kecil.

“Bayi berusia enam bulan sudah bisa diperkenalkan sedikit demi sedikit dengan rasa gurih melalui penyajian MPASI. Cara ini efektif supaya anak mengenal rasa tapi enggak sampai berlebihan dan bisa dibatasi,” ungkapnya.


Baca juga artikel terkait MSG atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight