Serangga Akan Jadi Penyelamat Krisis Pangan

Oleh: Nuran Wibisono - 16 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Swiss akan jadi negara Eropa pertama yang mengizinkan penjualan makanan berbahan baku serangga. Serangga dianggap akan jadi penyelamat umat manusia di masa depan.
tirto.id - Eropa boleh maju soal ekonomi, tapi soal pencapaian boga, mereka bisa dibilang tertinggal jauh dari negara-negara Asia, Afrika, ataupun Amerika Latin. Contoh paling baru: soal menyantap serangga.

Coop, jaringan supermarket terbesar kedua di Swiss, baru minggu depan akan menjual panganan berbahan baku serangga. Nantinya menu yang disajikan, antara lain, burger. Daging burger itu nanti akan dibuat dari kepompong kumbang mealworm--di Indonesia kerap dirujuk sebagai ulat Hongkong-- yang disajikan bersama wortel, dibumbi dengan oregano dan cabai. Harga jual rencananya 8,95 Franc, atau sekitar Rp123 ribu.

Harga itu dua kali lipat ketimbang burger andalan mereka yang mengandalkan daging sapi organik. Kalau dibandingkan dengan burger di restoran waralaba, harganya bisa empat kali lipatnya. Apa yang membuat burger ini dihargai mahal?

"Karena produk ini cocok bagi mereka yang ingin belajar tentang keberagaman kuliner berbahan baku serangga," ujar Manajer Produk Coop, Silvio Baselgia.

Pada situs Food and Wine, Baselgia menjelaskan bahwa dua produk --selain burger juga akan ada bakso-- berbahan baku serangga itu bisa dibeli di gerai Coop di Zurich, Basel, Bern, Winterthur, Lugano, Lausanne, dan Jenewa. Coop juga berencana akan memperluas jenis pilihan makanan berbahan baku serangga hingga akhir 2017. Produk-produk ini akan dipasok oleh perusahaan Essento.

Menurut laporan The Guardian, Swiss adalah negara Eropa pertama yang mengesahkan makanan berbahan baku serangga. Sebelumnya, Swiss membatasi penjualan makanan dengan bahan baku tak lazim. Hanya mereka yang punya izin khusus yang boleh menjual. Namun, pada 1 Mei 2017, pemerintah Swiss melalui Departemen Keamanan Makanan (BLV) mengizinkan penjualan produk yang berbahan baku tiga jenis serangga --ulat Hongkong, belalang, dan jangkrik-- selama memenuhi standar peraturan keamanan.

Salah satu peraturannya adalah serangga yang boleh dipakai adalah generasi keempat. Karena itu, proses penjualannya masih memerlukan waktu. Untuk impor pun, peternakan pemasok serangga juga harus memenuhi syarat ketat berdasarkan peraturan Swiss.

Coop sendiri sudah sempat mengabarkan akan menjual makanan berbahan baku serangga pada Juli 2017. Namun karena sedikitnya serangga yang lolos tes keamanan makanan, peluncuran produk akan ditunda hingga pekan depan. Salah satu pendiri Essento, Christian Bartsch, mengatakan ketatnya syarat bahan baku ini membuat peluncuran produk jadi tertunda.

"Belum ada serangga yang di Swiss atau Eropa yang mendapat izin dari badan keamanan makanan Swiss," ujar Bartsch pada majalah Handelszeitung.

Setelah mengalami penundaan, burger dan bakso serangga itu direncanakan resmi dijual pada 21 Agustus 2017.

infografik enak enak dari serangga


Serangga Itu Lezat dan Makin Penting

"Dalam sejarah dunia, memakan serangga adalah kegiatan normal bagi manusia. Hanya di dunia Barat, dan baru-baru ini, kegiatan itu dianggap aneh atau bahkan menjijikkan."

Jerry Hopkins membuka Bab 4 dalam buku Extreme Cuisine: The Weird & Wonderful Foods That People Eat dengan nukilan dari esai berjudul "Insect as Food" di buku The Oxford Companion to Food. Menurut ensiklopedia gastronomi terbaik dan terlengkap itu, serangga memang sudah dikonsumsi sejak ribuan tahun lalu. Serangga jadi bahan makanan penting bagi masyarakat di Asia, Afrika, Australia, juga Amerika Latin.

Di Nusantara, ada sayok --larva capung-- yang dimasak pedas di daerah Danau Linow, Tomohon, Sulawesi Utara. Orang Papua membakar ulat sagu. Orang Gunung Kidul menggoreng belalang. Orang-orang Jawa Timur mengenal hidangan botok tawon, juga rempeyek laron. Sedangkan orang Thailand menyantap serangga dengan saus pedas. Di Kamerun, salah satu hidangan spesial untuk tamu adalah sejenis ulat sagu yang dimasak dalam santan, dengan bumbu garam, merica, dan bawang.



Tak bisa dipungkiri kalau Dunia Barat masih menganggap serangga sebagai makanan yang tak umum, eksotis, bahkan menjijikkan. Lagi-lagi, ini soal anggapan dan kebiasaan. Anthony Bourdain, juru masak dan penulis, membuat pengandaian menarik. Di dunia barat, serangga dianggap makanan aneh dan menjijikkan. Sedangkan di kawasan Asia, keju biru alias blue cheese bisa membuat orang muntah karena bau dan rasa yang tajam.

Sebenarnya, ujar Bourdain, rasa serangga masih lebih enak ketimbang beberapa makanan di dunia Barat, misalkan Cheez Whiz atau pizza nanas. "Karena itu, cobalah makan serangga. Nikmatilah. Santaplah tanpa prasangka. Kamu akan merasa aman kalau tahu bahwa ada jutaan orang yang menyantap serangga selama ribuan tahun, dan mereka baik-baik saja."

Serangga memang sudah disantap manusia sejak ribuan tahun lalu. John Capinera dalam Encyclopedia of Entomolog memperkirakan serangga sudah disantap manusia sejak 30.000 Sebelum Masehi. Ia merujuk pada gambar-gambar serangga di gua Spanyol Utara. Di Cina, ada fosil kepompong ulat sutra dengan lubang besar, mengindikasikan larva penghuninya sudah dikonsumsi oleh manusia. Menjadikan serangga sebagai bahan makanan atau makanan disebut sebagai entomofagi.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mencatat ada sekitar 1.900 spesies serangga yang aman untuk dikonsumsi manusia. Dalam buku Creepy Crawly Cuisine: The Gourmet Guide to Edible Insects (1998), beberapa spesies serangga yang kerap disantap manusia antara lain 235 spesies kupu-kupu dan ngengat, 344 kumbang, 313 keluarga Hymenoptera yakni semut, lebah, dan tawon; 239 jenis belalang dan jangkrik, hingga 39 jenis anai-anai. FAO memperkirakan ada 2 miliar pengonsumsi serangga di seluruh dunia saat ini.

Belakangan ini, konsumsi serangga tidak lagi didengungkan karena alasan lezat atau mencoba hal baru. Melainkan ketahanan pangan dan alternatif protein bagi penduduk dunia.



Diperkirakan pada 2050, penduduk dunia akan berjumlah 9 miliar orang. Konsumsi daging terus meningkat. Pada dekade 1960-an, konsumsi daging dunia adalah 24,2 kilogram per kapita. Pada 2015, sudah melonjak jadi 41,3 kilogram per kapita. Diperkirakan pada 2030, angkanya akan jadi 45,3 kilogram per kapita. Peternakan sejak lama dianggap membawa dampak buruk bagi lingkungan. Peternakan juga dianggap boros makanan dan air. Dari data FAO, 8 kilogram makanan ternak hanya bisa menghasilkan 1 kilogram berat hewan ternak.

Karena alasan itu, peternakan serangga sedang banyak digagas di seluruh dunia. Sebagai perbandingan, serangga hanya butuh 2 kilogram makanan untuk bisa menghasilkan serangga seberat 1 kilogram. Serangga juga bisa diberi makan kompos, juga sisa makanan, bahkan kotoran manusia. Peternakan serangga juga dianggap lebih hemat air, mereka lebih tahan tak minum air ketimbang hewan ternak biasa.

Secara gizi dan nutrisi, kandungan dari serangga tak kalah dari daging sapi, ayam, atau ikan. Ia banyak mengandung serat dan mikronutrisi seperti zat besi atau magnesium. Serangga juga bisa dijadikan suplemen makanan bagi anak-anak yang kekurangan gizi, karena serangga kaya asam lemak yang menghasilkan nutrisi.



Tapi menjadikan serangga sebagai makanan pengganti daging secara global masih merupakan jalan panjang. Dalam makalah berjudul Edible Insects: Future Prospects for Food and Feed Security, ada beberapa alasan kenapa serangga masih susah menjadi makanan yang diterima di seluruh dunia. Mulai dari alasan peraturan yang mengatakan serangga itu tidak untuk konsumsi manusia, ketidaktahuan masyarakat terutama di Barat, hingga kesusahan memasarkan karena citra serangga sebagai makanan yang menjijikkan dan tidak aman untuk dimakan. Selain itu juga masih ada masalah seperti serangga sekarang tidak ditangkap oleh tangan, melainkan dengan diracun oleh pestisida. Ini tentu berpengaruh pada manusia yang mengonsumsinya.

Apapun itu, ketika di belahan Eropa banyak warganya masih jijik dan takut memakan serangga, orang Nusantara santai saja memakan serangga sejak ratusan tahun lalu. Nenek moyang kita paham betul kalau serangga mudah ditangkap, gratis, dan enak. Untuk perkara ini, orang Eropa harus belajar ke orang Indonesia.

Baca juga artikel terkait SERANGGA atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti