Sepak Terjang Maskapai Penerbangan CIA di Asia Timur dan Tenggara

Ilustrasi Pesawat. FOTO/iStockphoto
Oleh: Petrik Matanasi - 27 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Para mantan kombatan Flying Tigers membentuk Civil Air Transport (CAT) sebagai tunggangan CIA dalam mengubrak-abrik jaringan komunis di Asia Timur dan Tenggara.
Pada Perang Dunia II, atas perintah Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt, dibentuk kelompok sukarelawan yang terdiri dari para penerbang dan teknisi dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Korps Marinir Amerika Serikat yang bernama Flying Tigers.

Sepanjang perang berlangsung, armada ini beroperasi di sekitar Tiongkok, Burma, dan India untuk melawan militer Jepang. Menurut Don Moser dan kawan-kawan dalam World War II: China-Burma-India (1986:70), Flying Tigers merontokkan lebih dari 1.200 pesawat terbang Jepang. Namun, armada yang dipimpin oleh Claire Lee Chennault ini juga harus kehilangan 573 pesawatnya.

Sebelum memimpin Flying Tigers, Chennault telah malang melintang di armada udara. Pada 1937, ia berada di Tiongkok untuk menjadi penasihat Angkatan Udara Republik Tiongkok yang kala itu presidennya Chiang Kai Shek--yang berseteru dengan Partai Komunis Tiongkok. Dan setelah Perang Dunia II selesai, Chennault kembali membantu Chiang Kai Shek yang akhirnya terdesak ke Taiwan.

Pada pertengahan 1946, ia bersama Whiting Willauer mendirikan sebuah maskapai penerbangan bermodalkan pesawat angkut 19 Curtiss, C-46 Commando, dan Douglas C-47 Skytrain sisa Perang Dunia II. Menurut Earle Rice dalam Claire Chennault (2013), bekas anggota sukarelawan dalam Flying Tigers ada yang direkrut jadi penerbangnya.

Mulanya maskapai yang bernama Civil Air Transport (CAT) dan yang bermarkas di ibukota Taiwan ini tak ada jadwal penerbangan domestik rutin. Maskapai ini beroperasi layaknya pesawat angkut skuadron udara untuk misi-misi militer.

Pada awalnya, CAT bekerja untuk kepentingan pasukan Nasionalis Tiongkok pimpinan Chiang Kai Shek dalam melawan Komunis Tiongkok pimpinan Mao Zedong. Tak hanya membawa pasukan, mereka juga mengangkut pengungsi yang tak suka hidup dalam komunisme di daratan Tiongkok.

”Kami memberikan harapan kepada ribuan pengungsi perang yang mencintai kebebasan dengan menerbangkan mereka ke Taipei,” ujar Felix Smith yang belakangan menjadi Ketua Asosiasi CAT.

Perang sipil di Tiongkok kemudian berakhir dengan kekalahan pasukan Chiang Kai Shek yang berimbas pada seretnya kondisis keuangan CAT. Ketika pecah Perang Korea (1950-1953), CAT diambilalih oleh Smith.

”Kami sudah menjadi maskapai tanpa tempat tujuan. Saat itu musim semi 1950. Kami tidak tahu bahwa perang akan segera terjadi,” imbuhnya.

Dalam perkembangannya, CAT secara hukum adalah semacam BUMN milik Amerika Serikat. Namun sebenarnya armada udara Central Intelligence Agency (CIA) yang mendukung kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Asia, khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara. CAT akhirnya punya jadwal penerbangan reguler dan secara rahasia mengangkut kargo untuk kepentingan CIA.

Dari Perang Indochina sampai Permesta

Setelah Perang Korea berakhir, Perang Indochina meletus. CAT dapat pekerjaan baru, yakni membantu Prancis menerjunkan pasukan payung serta pasokan logistik dalam Pertempuran Dien Bien Phu yang akhirnya dimenangkan oleh Vietnam pimpinan Jenderal Vo Nguyen Giap. Dalam operasi tersebut CAT meminjamkan 6 pesawat C-119 dengan memakai lambang Angkatan Udara Prancis.

Beberapa tahun kemudian terjadi Perang Vietnam. CAT beraksi lagi degan menjadi mitra tentara Amerika Serikat. Dalam Perang Vietnam, tepatnya sejak 1959, CAT sudah ditata ulang sebagai Air America yang beroperasi di Laos.

Di Indonesia, CAT juga ikut bermain. Pada 1958, seorang pilot CAT bernama Allen Lawrence Pope ditembak jatuh, dan setelah mendarat di air ia ditemukan dengan kaki patah. Pope kata Felix Smith ”dihukum mati oleh pengadilan militer Komunis selama waktu itu, Allen menempel pada pernyataan Duta Besar A.S. bahwa ia dibayar oleh pemberontak setempat. Lima tahun kemudian Robert Kennedy memastikan pembebasannya.”




Perang melawan komunis membuat CAT sangat aktif di Asia. Allen Lawrence Pope yang ditembak militer Indonesia bahkan mengaku dirinya anti komunis dan ingin menghabisi komunis sebanyak yang dia bisa. Sementara beberapa pilot CAT lain tidak seberuntung Allen Pope. James B. McGovern Jr. dan Wallace Buford misalnya, mereka terbunuh pertempuran Dien Bien Phu pada Mei 1954.

CAT kerap berkaitan dengan keluarga besar pendiri Republik Tiongkok. Salah seorang cucu Sun Yat Sen, Nora Sun, sempat menjadi pramugari CAT pada 1955. Allen Cates dalam Honor Denied: The Truth About Air America and the CIA (2011) menyebutnya sebagai pramugari termuda CAT. Nora Sun kemudian bertemu dengan kapten pilot Connie Siegrist dan sempat menjadi suaminya.

Connie Siegrist sempat ikut operasi rahasia di sekitar Indonesia Timur. Menurut Mitchell McKay dalam It's Not Hollywood, But (2011:16), Connie terlibat dalam Operasi Haik yang terkait PRRI-Permesta. Mulai tahun 1968, CAT tak lagi beroperasi. Dan pada 1976 maskapai penerbangan CIA itu dianggap bubar.


Baca juga artikel terkait CIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight