Perang Dagang Cina-AS

Senjata Ampuh Cina Hadapi Perang Dagang: Devaluasi Yuan

Infografik Devaluasi Yuan
Ilustrasi uang kertas yuan dan Dollar. FOTO/iStockphoto
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 15 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pelemahan mata uang Cina tidak hanya berdampak buruk bagi AS, namun juga dapat merugikan Indonesia.
tirto.id - Waktu masih menunjukkan jam 05.12 pagi hari waktu setempat saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump menumpahkan pandangannya tentang nilai tukar mata uang Cina terhadap dolar AS yang diindikasi sengaja dilemahkan.

Ia menulis, "Cina melemahkan nilai tukar mata uangnya nyaris ke posisi terendah dalam sejarah. Ini disebut 'manipulasi mata uang.' … Ini adalah pelanggaran besar yang nantinya akan sangat melemahkan Cina,”.

Presiden AS ke-45 ini melanjutkan, "… Cina selalu menggunakan manipulasi mata uang untuk mencuri bisnis dan pabrik AS, merusak lapangan pekerjaan, menekan upah pekerja AS dan merusak harga petani AS. Tidak lagi!,” imbuh Trump di akun @realDonaldTrump miliknya.

Kemarahan Trump itu terkait nilai tukar mata uang Cina pada hari Senin (5/8/2019) yang diperdagangkan di level 7,098 per dolar AS. Posisi tersebut adalah level terendah nilai tukar yuan terhadap dolar AS selama nyaris 11 tahun atau sejak 2008. Melemahnya nilai tukar yuan terhadap dolar AS masih berlangsung hingga penutupan perdagangan akhir pekan kemarin di level 7,090 per dolar AS.

Aksi pelemahan mata uang yang dilakukan Cina ini adalah sebagai respon atas serangan tarif baru yang diberlakukan oleh AS mulai 1 September 2019. Trump mengatakan akan mengenakan tarif bea masuk impor tambahan untuk barang-barang asal negeri Tirai Bambu sebesar 10 persen. Rencana pengenaan sanksi ini disampaikan saat perundingan damai dagang antara AS dan Cina berlangsung, pada Jumat (2/8/2019).

Trump bilang, pembicaraan perdagangan terus berlanjut dan selama pembicaraan itu berlangsung, AS akan memberikan tambahan tarif 10 persen terhadap produk impor Cina senilai USD300 miliar. "Ini belum termasuk USD250 miliar dari kenaikan tarif 25 persen," tulis Trump di twit-nya.

Dilaporkan Reuters, dalam serangkaian tweet, Trump juga menyalahkan Cina karena tidak menepati janji untuk membeli lebih banyak produk pertanian AS. Secara pribadi Trump juga mengkritik Presiden Cina Xi Jinping, karena gagal berbuat lebih banyak untuk membendung penjualan fentanil opioid sintesis, obat yang paling umum sebagai penyebab overdosis di AS.


Bukan Kali Pertama

Aksi Cina yang sengaja melemahkan nilai tukar mata uang yuan, bukan kali pertama terjadi. Sekitar empat tahun lalu, Agustus 2015, People’s Bank of China (PBoC) juga pernah melemahkan nilai tukar yuan terhadap dolar AS. Kala itu, yang menjadi alasan Cina melemahkan mata uang adalah mengatasi langkah quantitative easing yang dilakukan AS.

Melansir The Guardian, pada Agustus 2015, Cina mengejutkan pasar keuangan dunia dengan mendevaluasi mata uang selama dua hari berturut-turut. Langkah tersebut memicu kekhawatiran perekonomian Cina yang lebih buruk dari perkiraan dan mengirimkan gelombang kejutan di pasar global.

Devaluasi yuan yang dilakukan Cina memicu penurunan tajam harga saham dan juga komoditas. Penurunan harga saham melanda bursa efek di Asia, dan pasar Eropa menderita penurunan sekitar 1 persen dengan FTSE 100 di London jatuh hampir 2 persen. Devaluasi mata uang Cina ini dikhawatirkan memicu perang mata uang yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dunia.

Langkah devaluasi yuan ini, kata Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan kepada Tirto, secara psikologis dapat memicu negara-negara lain untuk juga mengambil keputusan serupa yang pada akhirnya dapat menimbulkan turbulensi atau gejolak yang cukup kuat di tingkat global.

Pelemahan nilai tukar memang menjadi salah satu senjata ampuh dalam perang dagang. Sebab, tujuan utama pelemahan nilai tukar adalah untuk melindungi ekspor sebuah negara. Rumusnya begini: dengan melemahkan kurs, maka barang ekspor yang dihasilkan negara tersebut 'terkesan' lebih murah dibanding harga barang ekspor dari negara-negara lain.

Ancaman AS menaikkan tarif bea masuk impor barang asal Cina sebesar 10 persen, tentu membuat harga jual barang asal Cina menjadi lebih tinggi. Dengan eskalasi perang dagang yang terus meningkat, maka dikhawatirkan permintaan barang impor asal Cina di AS bisa mengalami penurunan. Ujung pangkalnya, produksi barang dalam negeri di Cina juga akan mengalami penurunan.

Melalui taktik pelemahan mata uang ini, maka harga barang produksi Cina dapat tetap bersaing di pasar ekspor global. Dengan begitu, kinerja ekspor Cina masih tetap bertumbuh meski ada ancaman kenaikan tarif bea masuk impor oleh AS.

"Devaluasi yuan menjadi semacam bargaining power atau posisi tawar Cina dengan AS, di tengah ancaman kenaikan tarif sebesar 10 persen yang akan mulai berlaku pada September nanti. Ini adalah langkah paling efektif dalam perang dagang, karena negosiasi yang sudah berlangsung lama tapi belum mencapai win-win solution bagi kedua belah pihak," imbuh Alfred.

Dengan demikian, tujuan utama AS melakukan sengketa dagang dengan Cina yaitu untuk mengurangi defisit neraca perdagangan akan 'jauh panggang dari api' menurut David Sumual, Kepala Ekonom BCA. Dengan devaluasi ini, barang impor asal Cina masih leluasa masuk ke pasar AS dan defisit neraca dagang AS-Cina justru berpotensi melebar.

"Semuanya kalah dalam perang dagang ini, karena ini adalah worst-worst situation yang memicu pelemahan ekonomi secara global," sebut David kepada Tirto.



Pengaruh Buruk untuk Indonesia?

Ekspektasi lanjutan dari devaluasi yuan yang dilakukan oleh Cina adalah devaluasi kurs oleh negara-negara eksportir semisal Jepang dan Korea Selatan. Imbasnya akan terasa berat terhadap negara-negara emerging market seperti Indonesia. Hal ini karena produk ekspor Indonesia belum bisa bersaing dengan negara-negara tersebut dan masih mengalami defisit perdagangan.

Produk dari Indonesia yang berorientasi ekspor akan mendapat tekanan dari produk asal Cina maupun negara-negara eksportir lainnya. Sehingga, akan semakin sulit untuk bersaing. Hasil akhirnya, secara makro, jika produk ekspor Indonesia kalah bersaing, maka Indonesia akan mengalami penurunan ekspor. Situasi ini dapat membuat neraca dagang menjadi terganggu. Indonesia bisa mengalami defisit neraca perdagangan yang lebih lebar, utamanya dengan Cina.

Aksi devaluasi yang dilakukan Cina, menurut David, akan lebih banyak memberikan kerugian ketimbang manfaat untuk Indonesia. Indonesia juga tidak bisa meniru langkah Cina, yakni melakukan devaluasi rupiah. Sebab, kinerja ekspor Indonesia mayoritas bergantung pada ekspor komoditas yang tidak memiliki pengaruh terhadap naik turun nilai tukar.

Sebagai catatan, ekspor komoditas sangat tergantung dari permintaan negara-negara importir. Hal ini tidak seperti Jepang maupun Korea Selatan yang menggantungkan kinerja ekspor pada produk manufaktur yang tergantung pada nilai tukar.


"Pelemahan mata uang justru tidak menguntungkan Indonesia sama sekali. Kalau rupiah dilemahkan, tidak akan ada kaitannya dengan peningkatan permintaan ekspor komoditas. Berbeda dengan ekspor manufaktur yang jika mata uang dilemahkan, maka ekspor bisa meningkat," sebut David kepada Tirto.

Di sisi lain, devaluasi yuan juga dapat memberikan sentimen positif yaitu potensi peningkatan capital inflow. Sebab, nilai mata uang yuan yang turun dapat membuat investor keluar dari pasar uang Cina dan berpotensi masuk ke Indonesia.

Selain itu, langkah yang bisa dilakukan Indonesia di tengah eskalasi perang dagang yang memasuki babak perang mata uang ini adalah dengan peningkatan investasi asing secara langsung atau foreign direct investment (FDI). Langkah tersebut menurut David, bisa mengimbangi defisit transaksi berjalan atau current account devicit (CAD) yang membengkak, salah satunya akibat defisit neraca dagang yang terus membesar.

"Jangan selalu bertumpu pada investasi portofolio asing, karena dana panas seperti ini tidak selamanya ada di Indonesia. Peningkatan FDI sangat diperlukan Indonesia di tengah situasi seperti ini," ungkap David.

Baca juga artikel terkait PERANG DAGANG CINA-AS atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight