Menuju konten utama

Sengitnya Persaingan Pasca "Perkawinan" Didi dan Uber

Jika muncul pertanyaan perusahaan start-up apakah yang paling banyak diperbincangkan di dunia saat ini, jawabannya kemungkinan besar adalah Uber. Selain karena banyaknya bumbu kontroversi, Uber juga merupakan start-up dengan valuasi tertinggi. Namun Uber kini mulai banyak pesaing

Sengitnya Persaingan Pasca
Ilustrasi Uber Taxi. [Foto/Ahutterstock]

tirto.id - Pekan ini industri start-up dunia dibuat heboh. Sumber dari kegaduhan itu tak lain adalah berita tentang menyerahnya Uber Technologies Inc. pada Didi Chuxing, start-up asal Cina yang juga bergerak di layanan pemanggil kendaraan (ride-hailing), di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Pada 1 Agustus, Uber memutuskan untuk menjual bisnisnya kepada Didi, setelah gagal menghasilkan laba semenjak masuk ke Cina pada tahun 2014 lalu.

Didi tidak hanya mengakuisisi Uber Cina, tetapi juga mengambil saham minoritas pada perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat tersebut. Sebaliknya, Uber juga akan memperoleh sekitar 17,7 persen saham Didi, membuatnya memiliki 5,9 persen hak voting pada perusahaan asal Cina tersebut.

Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Cheng Wei, founder dan Chief Executive Didi Chuxing, akan bergabung dalam dewan komisaris Uber. Chief Executive Uber Travis Kalanick, sebaliknya, juga akan bergabung dalam dewan komisaris Didi.

Cheng mengatakan bahwa baik Didi maupun Uber telah "belajar banyak dari satu sama lain selama dua tahun terakhir di tengah berkembangnya ekonomi baru Cina," demikian seperti dikutip dari BBC.

Kedua raksasa start-up tersebut dalam beberapa tahun terakhir memang bersaing ketat memperebutkan pasar Cina yang menyimpan potensi luar biasa. Namun, Uber kesulitan untuk beradaptasi dengan keunikan pasar Cina. Uber akhirnya keteteran untuk menyaingi Didi yang menguasai sekitar 87 persen pangsa pasar di negara itu.

Sebagai catatan, Uber saat ini merupakan start-up dengan nilai valuasi tertinggi di dunia, yakni $62,5 miliar (Rp819,8 triliun). Sementara Didi Chuxing ada pada posisi ketiga, meskipun masih jauh di bawah Uber dengan nilai valuasi $28 miliar, atau lebih tepatnya $35 milliar pasca akuisisi Uber Cina.

Meskipun demikian, Didi Chuxing juga menanamkan investasi pada beberapa perusahaan aplikasi ride-hailing lainnya yang juga merupakan kompetitor Uber, yakni Ola, Grab dan Lyft. Ola merupakan perusahaan ride-hailing terbesar di India. Lyft merupakan kompetitor utama Uber di Amerika, sementara Grab masih fokus pada pasar Asia Tenggara.

Lantas, dengan akuisisi Uber Cina oleh Didi dengan segala kesepakatannya, apakah kompetisi antara perusahaan layanan aplikasi akan surut? Fakta mengatakan tidak sesederhana itu.

Panasnya Persaingan Aplikasi Pemanggil Kendaraan

Dengan akuisisi Uber di Cina oleh Didi, banyak yang beranggapan kompetisi di negara tersebut akan mereda. Fakta berbicara berbeda. Memang, kesepakatan Uber dengan Didi membuat hubungan antara perusahaan-perusahaan ride-hailing tersebut semakin kompleks mengingat Ola, Grab dan Lyft merupakan kompetitor Uber. Namun, beberapa kejadian dalam dua terakhir seakan menjadi penegasan bahwa pertarungan di industri ini akan semakin panas nan ketat, dan besar kemungkinan fokusnya saat ini beralih pada pasar Asia Tenggara.

Untuk diketahui, saat ini terdapat tiga pemain besar dalam industri tersebut di kawasan Asia Tenggara, yakni Grab, Go-Jek, dan tentu saja Uber. Grab dan Uber telah beroperasi di enam negara di kawasan tersebut (Grab di 30 kota, sementara Uber 15 kota). Go-Jek, di sisi lain, masih fokus pada pasar Indonesia. Namun, hal itu mungkin dapat berubah di masa depan.

Kamis (4/8/2016) lalu, PT Go-Jek Indonesia baru saja mengumumkan bahwa mereka mendapat suntikan dana segar sebesar $550 juta, menjadikan nilai valuasi perusahaan tersebut menjadi $1,2 miliar.

Dana tersebut akan digunakan oleh Go-Jek untuk mengembangkan operasional yang dimilikinya, sekaligus "mengisyaratkan" bahwa mereka memiliki rencana untuk berekspansi ke Asia Tenggara.

Sementara itu, Rabu (3/8/2016) kemarin, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Grab berencana untuk memperoleh modal segar dari para investornya, termasuk Didi dan SoftBank Group Corp., sebesar $1 miliar. Bagian pertama dari suntikan dana tersebut, sebesar $600 juta, diperkirakan akan selesai diproses pada minggu ini.

"Uber telah kalah sekali, dan kita akan membuat mereka kalah lagi," kata Chief Executive Grab Anthony Tan dalam email kepada karyawannya. "Kesuksesan Didi memperkuat apa yang telah kita percaya selama ini," lanjut Anthony, merujuk pada ide bahwa kompetitor lokal dapat mengalahkan Uber di kampung halamannya sendiri.

"Didi mungkin memiliki banyak dana cadangan dari apa yang mereka pikir akan menjadi sebuah perang yang lama di Cina," kata Adrian Li, managing partner di Convergence Ventures, seperti dikutip dari Bloomberg. "Sekarang mereka dapat menempatkan dana cadangan itu pada pasar yang baru bertumbuh seperti Asia Tenggara dan mendukung pemain yang mereka percaya memiliki kesempatan yang kuat."

Sebagai catatan, Convergence Ventures tidak memiliki saham pada perusahaan-perusahaan ride-hailing.

Grab, yang memiliki nilai valuasi sekitar $1,6 miliar, sendiri diprediksi akan menggunakan dana segar itu untuk mengembangkan Grab menjadi platform yang lebih luas seperti Go-Jek, melalui penambahan fasilitas layanan seperti mobile payment dan pengiriman barang.

Seperti dikutip dari The Wall Street Journal, saat ini, Grab dilaporkan memiliki kas sekitar $400 juta pada neraca keuangan mereka sebelum penggalangan dana terbaru itu.

Di sisi lain, setelah melepas unit bisnisnya di Cina, Uber disinyalir akan memfokuskan bisnis mereka di kawasan yang sama. Business Insider melaporkan, perusahaan asal San Fransisco, California, itu telah menerjunkan 150 teknisi dari tim mereka di Cina ke pasar-pasar di kawasan ini, seperti Singapura, Thailand serta Indonesia.

Di Indonesia, Uber sudah mulai "menginvasi" pangsa pasar Grab dan Go-Jek, setelah pada awal tahun ini turut menerjunkan layanan antar jemput menggunakan motor dengan nama Uber Motor.

Kawasan Asia Tenggara sendiri merupakan kawasan yang sangat potensial untuk eksplorasi bagi start-up, terutama bagi ride-hailing start-up seperti Uber, Grab dan Go-Jek.

Menurut laporan terakhir dari Alphabet Inc., perusahaan induk Google, dan Temasek Holdings, perusahaan investasi asal Singapura, pasar ride-hiling di kawasan ini diprediksi akan meningkat lima kali lipat menjadi $13,1 miliar pada tahun 2025 dari $2,5 miliar pada tahun lalu.

Jelas dengan keadaan yang sedemikian rupa, kompetisi pada kawasan ini akan terus memanas dalam beberapa tahun ke depan. Dinamika ini sendiri masih akan diwarnai dengan kompleksitas hubungan antara Didi dengan Uber, yang hingga saat ini masih sulit diprediksi akan membawa pengaruh seperti apa pada hubungan Didi dengan Grab.

Seorang juru bicara Grab mengatakan perusahaan itu tetap akan berpartner baik dengan Didi, Lyft, maupun Ola. Akan tetapi, seorang investor Didi menyebutkan, kesepakatan antara Uber dengan Didi "memang mengubah dinamika hubungan" antara Didi dengan ketiga perusahaan tersebut.

Baca juga artikel terkait UBER atau tulisan lainnya dari Ign. L. Adhi Bhaskara

tirto.id - Teknologi
Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti