FX Rudyatma

"Semua Ketua DPC Kalau Ditanya & Tak Takut, Pasti Pilih Ganjar"

Reporter: Irfan Amin, tirto.id - 4 Okt 2022 09:00 WIB
Dibaca Normal 12 menit
FX Rudyatmo berbagi kepada Tirto soal kedekatannya dengan Jokowi, julukan preman, bahkan soal dukungannya ke Ganjar Pranowo menuju Pemilu 2024.
tirto.id - Memiliki kumis tebal dan sorot mata yang tajam, menjadi ciri khas dari sosok mantan Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo. Meski memiliki kesan galak namun dirinya cukup terbuka untuk menerima tamu dari berbagai latar belakang.

Termasuk saya, Irfan Amin, yang berkesempatan mewawancarai mantan pendamping Joko Widodo mengenai banyak hal pada Rabu (28/9/2022) di kediamannya yang beralamatkan di Pucangsawit, Jebres, Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan Kota Solo.

Sosok yang akrab dipanggil Rudy saat ini bercerita mengenai pengalamannya yang pernah menjadi buruh pabrik hingga saat pensiun dari Wali Kota Surakarta dan aktif berkecimpung di aktivitas sosial bersama masyarakat.

Rudy saat ini menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Kota Surakarta. Walaupun jabatan yang diemban hanya pada level kabupaten/kota, namun suaranya cukup berpengaruh hingga isu politik di level nasional. Bahkan tak jarang dia sering berbeda pendapat dengan para pengurus PDIP yang ada di level DPP.

Perbedaan pendapat paling kencang disuarakannya mengenai pilihan politiknya yang cukup tegas untuk mendukung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk menjadi calon presiden pada Pemilu 2024.

Pilihan ini cukup sensasional saat kader PDIP lain memilih Ketua DPP PDIP Puan Maharani untuk menjadi capres dari internal PDIP.

"Coba silakan Anda tanyakan ke Ketua DPC PDIP di seluruh Indonesia pasti mereka paling banyak mendukung Ganjar. Cuma mereka tidak berani bilang. Takut jabatannya hilang," kata Rudy.

Selain soal politik pada Pemilu 2024, Rudy juga memiliki kedekatan dengan Presiden Joko Widodo, lantaran dia pernah mendampingi Jokowi saat menjadi Wali Kota Surakarta. Kepada Tirto dia menceritakan, mengenai kedekatannya dengan Jokowi dan bagaimana dia berusaha menjaga jarak agar tidak terlibat secara langsung dengan aktivitas politik di dalam Istana.

Tidak hanya menceritakan soal hubungannya dengan Jokowi. Namun, Rudy juga berkisah soal kedekatannya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang sering ditemuinya bila berkunjung ke Jakarta. Suatu momen yang tidak bisa dirasakan oleh semua kader PDIP, bahkan di tingkat fraksi yang ada di DPR RI.

Berikut perbincangan lengkap dengan FX Hadi Rudyatmo pada Rabu, 28 September 2022.

Pensiun dari Wali Kota Solo, apakah aktivitas Anda saat ini?

Aktivitas saya terkadang nge-las, jadi tukang kayu, membuatkan pagar milik warga, membuat wisata gratis milik masyarakat yang ada di pinggir Sungai Bengawan Solo, mengurus partai, dan mengurus keluarga.

Apa yang membedakan aktivitas Anda saat ini?

Pada dasarnya tidak ada yang berbeda. Karena saat jadi wali kota saya bekerja tidak kantoran. Kantor itu hanya formalitas saja. Tugas saya banyak di lapangan. Tidak di belakang meja terus.

Sebagai seorang pensiunan wali kota, bagaimana Anda melihat kinerja pemimpin Solo saat ini?

Saya tidak pernah berpikir mengenai pemerintahan saat ini. Semua kepala daerah mempunyai pola sikap perilaku dan berbeda-beda. Karena manusia tidak bisa sama.

Prinsip saya untuk menjadi pemimpin harus memiliki tiga Nga: Ngayomi (melindungi), Ngayemi (membuat suasana kerja tentram), Ngayani (bisa memperkaya, tidak hanya harta, namun seperti koordinasi, ilmu hingga silaturahmi). Syukur bisa memperkaya materi, dan salah satu bentuk implementasinya adalah dengan meningkatkan kesejahteraan para PNS. Semuanya sudah saya lakukan ketiganya.

PDIP terutama di Kota Solo sering dipandang bahwa anggotanya preman, bagaimana Anda menyikapinya?

Ya itu tergantung yang memimpin. Kalau yang memimpin adalah preman, dan yang dipimpin adalah preman. Maka sudah tidak ada lagi kata preman.

Jadi Anda mengakui bahwa Anda adalah preman?

Ya iya lah. Kalau yang memimpin adalah preman dan yang dipimpin adalah preman, maka bisa diibaratkan seperti perkalian, plus kali plus hasilnya adalah plus. Tapi kalau plus kali minus maka hasilnya adalah minus. Sehingga kalau dikatakan dapat stigma bahwa PDIP itu adalah preman, dan yang dipimpin adalah preman, maka semuanya akan jadi bagus dan hasilnya positif.

Apakah karena predikat preman yang melekat pada diri Anda, sehingga Anda berani bersuara hingga ranah isu nasional?

Karena punya prinsip, punya komitmen dan semua ini saya ajarkan kepada para kader [PDIP Solo]. Jadi kader PDIP harus punya prinsip yang konon katanya itu adalah pendapat fundamental dari kebenaran. Harus memiliki sikap dan perilaku yang tidak keluar dari nilai-nilai Pancasila, dan komitmen untuk melayani, untuk mensejahterakan masyarakat, mensejahterakan para kadernya. Kalau mau, semua aspirasi saya tampung dari anggota, dari ranting, PAC, DPC, saya rumuskan menjadi kebijakan politik.

Kebijakan politik itu saya wujudkan dengan implementasi di petugas PDIP yang ada di eksekutif dan legislatif, kita kirimkan ke sana, dan menjadi kebijakan pemerintah. Dan prosesnya sangat panjang.

Untuk kebijakan politik akhirnya menjadi kebijakan pemerintah. Karena kita memanfaatkan tiga pilar yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Kebetulan PDIP di Solo punya wali kota dari 2004 hingga saat ini, dan legislatif punya 30 kursi dari 45 total kursi yang ada di DPRD. Sehingga apapun kebijakan yang dirumuskan oleh partai menjadi keputusan pemerintah.

Anda dikenal memiliki kedekatan pribadi dengan Presiden Jokowi?

Saya biasa saja dan tidak ada masalah, tapi saya harus tahu diri. Karena beliau adalah presiden. Sekarang saya sudah tidak menjabat sebagai wali kota, maka kalau mau main ke sana saya memberitahukan terlebih dahulu ke Mensesneg Pratikno atau Seskab Pramono Anung. Itu yang namanya etika. Itu namanya tahu diri.

Bagaimana Jokowi menyapa Anda saat sedang berbincang?

Beliau memanggil saya dengan Pak Wali. Saya sebut diri saya wali sepuh. Padahal dulu saat masih menjabat sebagai wali kota, beliau memanggil saya dengan Pakde Rudi.

Kapan kunjungan terakhir Anda ke Istana? Apakah saat santer isu pengganti MenPAN-RB?

Saya sudah sering, tidak hanya itu saja. Tapi saya tidak mau ngomong saja.

Apa saja yang Anda berdua obrolkan?

Ya kita kangen-kangenan saja. Seperti cerita masa lalu, masa sekarang, dan beliau tidak pernah curhat masalah pribadi. Makanya yang namanya kangen-kangenan ya bisa menyampaikan hal yang berbagai macam.

Anda kerap kali ditawari sebagai posisi menteri, namun Anda selalu menolaknya, mengapa?

Kalau masalah itu, saya jawab: saya tidak mau bukan karena persoalan pribadi, tapi saya tidak mau karena saya bekerja selalu menggunakan rasa.

Saya taat dan patuh pada aturan partai. [Rudyatmo mengenang proses Pilkada Kota Solo pada 2022, saat gagal mencalonkan Ahmad Purnomo dan digantikan oleh putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka]. Ketika saya proses mencalonkan Pak Pur (Achmad Purnomo) dan Pak Teguh (Teguh Prakosa) sebagai calon wali kota dan wakil wali kota, lalu saya kirim ke DPP, tentunya menurut aturan partai saya sudah selesai.

Tapi tiba-tiba ada Mas Gibran yang mendaftar. Tapi karena hak prerogatif ada di tangan Ibu Ketua Umum, sehingga Ketum memberikan rekomendasi bahwa Mas Gibran sebagai wali kota dan Pak Teguh sebagai wakil wali kota. Sehingga kalau ini nanti tawaran apapun saya terima, saya tidak mau dirasa oleh Pak Pur: Oh ternyata Pak Rudi barter. Karena saya harus ngayomi, ngayemi, dan ngayani itu tadi.

Saya tidak ada persoalan seperti tidak mampu menjabat atau bagaimanapun. Saya tidak ada masalah dengan hal itu. Karena persahabatan itu lebih penting daripada jabatan. Karena jabatan itu hanya sementara dan persahabatan selamanya.

Kecuali saya ditawari [jadi menteri] waktu 2019, dan saya dilantik pada saat berbarengan awal kabinet. Saya pasti mau. Karena saat itu belum ada persoalan apapun [mengenai Pilkada Solo]. Hal itu saya klarifikasi langsung ke Pak Jokowi. Saya tidak benci atau apapun. Tapi saya hanya menjaga rasa.

Wawancara Khusus- FX Hadi Rudyatmo
FX Hadi Rudyatmo menunjukkan surat undangan pernikahan yang menjadi alasan ketidakhadirannya dalam acara konsolidasi partai PDIP pada Minggu (18/9/2022) di Kota Semarang Jawa Tengah. tirto.id/M. Irfan Al Amin


Respons Jokowi seperti apa setelah mengetahui sikap Anda?

Beliau menjawab, ‘Aku mengerti responsnya Pak Wali seperti apa’. Akhirnya kita saling mengerti dan beberapa kali setelah saya tidak jadi wali kota, kita sering berbicara panjang lebar mengenai hal itu [posisi menteri].

Ada sejumlah pihak yang berusaha mendorong Jokowi untuk maju menjadi presiden 3 periode? Apakah itu memungkinkan atau Anda juga ikut memberikan dukungan?

Itu jangan. Karena reformasi adalah perjuangan pembatasan kekuasaan. Kalau reformasi sudah dikatakan dua periode. Ya jangan. Kecuali saat beliau diangkat menjadi presiden 2019, atau sebelumnya sudah diamandemen undang-undang itu. Sehingga semisal undang-undang sudah diamandemen sebelum dia diangkat, maka saya akan mendukung. Tapi yang perlu diingat bahwa semangat reformasi bahwa pembatasan presiden. Kecuali hari ini ingin menyampaikan ke DPR RI bahwa presiden menjadi 3 kali untuk periode setelah Pak Jokowi. Itu menjadi legacy yang luar biasa. Tapi bukan untuk dia [Jokowi].

Bagaimana maksud Anda mendukung jabatan presiden bisa 3 periode?

Karena presiden hanya bisa memimpin efektif dalam satu periode hanya tiga tahun. Satu tahun pertama untuk penataan kabinet dan adaptasi sebagainya, dan satu tahun terakhir untuk persiapan tahun politik. Atau satu periode ditambah menjadi 8 tahun agar bisa bekerja secara maksimal. Berarti kerjanya bisa 12 tahun. Satu tahun untuk adaptasi. Satu tahun untuk persiapan tahun politik.

Selain didorong untuk menjadi presiden 3 periode, dirinya juga didorong untuk menjadi cawapres 2024?

Dalam sejarah tidak ada yang namanya menjadi raja kemudian menjadi patih. Itu sah saja. Dan dalam undang-undang hanya boleh dipilih paling banyak dua periode.

Dalam undang-undang lain, presiden kalau berhalangan hadir tetap, yang menggantikan adalah wakil presiden. Seandainya Pak Jokowi adalah wakil presiden, dan presidennya berhalangan hadir, maka Pak Jokowi tidak bisa menggantikan. Karena sudah dua kali menjabat.

Perlu diingat derajat pangkat hanya sampiran, harta hanya titipan, dan nyawa hanya pinjaman. Apabila dalam Bahasa Jawa disebut dengan bandha mung titipan, nyawa mung gadhuhan, pangkat mung sampiran.

Oleh karenanya jangan ada yang dilakukan dan jangan ada yang usul [soal 3 periode jabatan dan wacana Jokowi jadi cawapres].



Apakah anda pernah menyampaikan dukungan agar Jokowi menjadi presiden dalam tiga periode?

Saya sudah pernah menyampaikan kepada beliau secara langsung. Silakan tanya beliau. Tapi saya mensyaratkan amandemen dulu undang-undangnya. Hal itu saya sampaikan sebelum pemilihan yang kedua. Tapi kalau sekarang saya pilih diam. Sehingga kalau di periode pertama dia mengamandemen agar presiden bisa tiga periode, maka masih ada kemungkinan gagal menjadi presiden di periode kedua. Itulah yang membedakan saya dengan strategi teman-teman yang lain.

Meski dikenal dekat dengan Jokowi, namun Anda sering diisukan memiliki kerenggangan hubungan dengan Gibran Rakabuming Raka, terutama setelah gagal mencalonkan Achmad Purnomo sebagai Wali Kota Solo?

Hubungan saya tidak dingin dengan beliau, karena beliau adalah pejabat pemerintahan, yang kedua putra presiden, karena setiap bertemu harus melewati protokoler. Kalau mereka yang menyebut hubungan kita ini dingin, karena belum tahu saja [mengenai hubungan mereka berdua]. Walaupun saya sudah tidak menjadi wali kota, setiap ada kegiatan saya tetap terus masih diundang kok.

Tapi apakah Anda memenuhi undangan tersebut?

Saya selalu datang. Mereka yang menyebut bahwa hubungan kita ini dingin, karena ingin memecah belah, hubungan saya dengan keluarga Pak Jokowi. Memecah belah keluarga PDIP. Saya tidak pernah memikirkan hal itu.

Silakan orang menilai hubungan saya dengan Mas Gibran itu dingin atau panas. Silakan saja. Yang penting saya tidak mengganggu jalannya pemerintahan [Kota Surakarta].

Dan saya masih membantu apabila pemerintahan ini membutuhkan bantuan, terbukti saat menyusun organisasi di pemerintahan. Waktu penyusunan APBD di DPRD [Surakarta], saya kan punya fraksi dengan anggota 30 orang. Kalau saya bilang ke fraksi, tidak usah dibahas anggaran itu. Ya saya bisa saja. Itu bisa menjadi indikator. Pemerintah daerah selalu kita back up.

Andai hubungan kita dingin, saya pasti akan menjegal pemerintah. Karena saya mempunyai kekuatan. Saya sebagai Ketua DPC [punya] 30 dari 45 anggota [di DPRD Kota Surakarta].

Apakah Anda sering bertemu secara face to face dengan Gibran?

Sangat sering. Kami sering memberikan masukan soal pemerintahan.

Anda dikenal menjadi pendukung Ganjar Pranowo menjadi capres 2024 secara terbuka, bagaimana sikap Anda?

Terserah mau menilai seperti apa. Tapi sebenarnya seluruh ketua DPC di Indonesia kalau ditanya dan tidak takut untuk menjawab dan mau berkata apa adanya pasti memilih Ganjar. Ya mereka mau ngomong tapi takut akan jawabannya. Tapi karena apa saya tidak tahu.

Saya berbicara seperti ini bukan karena tidak takut, tapi apa yang saya sampaikan ini adalah hal yang benar. Bukan mengada-ada. Saya tidak pernah mengedepankan kepentingan pribadi saya. Saya ingin solid dan bergerak untuk membangun monumen kemenangan.



Apa alasan Anda untuk memilih Ganjar?

Kalau saya yang terpenting menunggu pendapat ketua umum. Ketua umum PDIP Ibu Megawati itu orangnya bijak, tidak mementingkan kepentingan sendiri atau kelompok dan lebih mementingkan kepentingan secara nasional, bangsa dan negara.

[Rudyatmo lalu bercerita saat Jokowi dipilih Megawati jadi calon presiden]
Ini tidak jauh beda dengan Pak Jokowi. Tapi Ibu Ketum saat itu sudah berhitung, dari pemilihan di DPR kalah (1999), pemilihan langsung di 2004 dan 2009 juga kalah dengan SBY. Sehingga memutuskan bahwa Pak Jokowi yang diidolakan oleh masyarakat, ketua umum memutuskan Pak Jokowi menjadi capres yang diusung PDIP.

Bagaimana tanggapan Anda saat Ganjar sering disebut melakukan pencitraan depan publik?

Sama saja. Pak Jokowi juga dulu sama. Jadi gubernur, urusi saja gubernurnya. Kasusnya sama seperti Pak Jokowi. Ceritanya hampir sama. Tapi Pak Ganjar disuruh untuk mengurusi Jawa Tengah ya dilaksanakan saja itu dulu. Dia adalah kader partai yang ditugasi menjadi gubernur, maka benar saja perintahnya untuk tidak boleh ke sana dan kemari. Kamu harus melayani rakyat Jawa Tengah sampai 2023. Sehingga benar saja apa yang dikatakan DPP, seperti itu juga kepada saya: urus Solo! Jangan ke sana kemari. Saya siap. Ganjar juga sama. Urus Jawa Jawa Tengah. Harus siap!

Bagaimana bentuk dukungan Anda kepada Ganjar Pranowo?

Saya memberikan dukungan dengan mengingatkan 'kamu [Ganjar] tidak perlu ke sana kemari. Itu pesan dari DPP laksanakan! Kemudian tidak perlu tolah-toleh, tengok kanan dan kiri. Pandang ketua umum. Apapun tawarannya [dari partai lain] jangan diterima.

Ganjar juga sudah bilang: Aku iki [Saya ini] kader PDI Perjuangan. Taat dan patuh kepada ketua umum sing asmane [yang namanya] Profesor Doktor Honoris Causa Hajjah Megawati Soekarnoputri. Opo ijeh kurang jelas (Apa masih tidak jelas).

Bagaimana cara Anda membela Ganjar Pranowo, saat ada isu dirinya akan "dijegal" oleh internal PDIP sendiri?

Iya. Kalau beliau disenggol, dan senggolannya tidak benar maka saya akan membela. Seperti rapat tiga pilar, beliau tidak diundang. Padahal rapat tiga pilar yang diundang itu adalah petugas partai yang menjabat sebagai gubernur atau wakil gubernur yang kader PDI Perjuangan, bupati atau wali kota yang kader PDI Perjuangan. Kemudian struktur partai di DPC dan DPD.

Adapun yang kemarin tidak diundang, karena yang tercantum dalam undangan adalah ketua DPC dan bupati atau wali kota untuk memenangkan Pemilu 2024. Jadi kalau kemarin waktu rapat tiga pilar, gubernur harus diundang.

Apa yang Anda lakukan saat mengetahui Ganjar tidak diundang dalam acara PDIP tersebut?

Tentu saya langsung sampaikan keluhan tersebut ke DPD selaku penyelenggara. Saya sampaikan hal itu ke Mas Bambang Pacul [Ketua DPD PDIP Jawa Tengah Bambang Wuryanto]. Saya pun saat itu [memutuskan] tidak datang.

Apakah itu dilakukan karena Anda ingin kompak dengan Ganjar yang saat itu tidak diundang?

Bukan kompak tidak datang, tapi saya hadir via Zoom di rumah. Tapi Mas Ganjar itu kalau diundang pasti datang. Seperti diundang sekolah partai pasti datang beliau. Dan tidak ada yang tidak didatangi.

Beliau [Bambang Pacul] adalah Ketua DPP Bappilu (Badan Pemenangan Pemilu) dan DPD PDIP Jawa Tengah tentu baik saja. Kalau ada undangan tidak bisa hadir, saya pasti akan WA (Whatsapp). [Alasannya tidak hadir dalam acara konsolidasi PDIP pada Minggu 18 September 2022 di Jawa Tengah] karena undangannya datang 4 hari sebelum hari H.

Lah saya itu 3 bulan sebelumnya, sudah diminta oleh ketua ranting (PDIP) di Solo saya untuk menjadi atur pambagyo harjo (perwakilan sambutan dari tuan rumah dalam acara pernikahan). Dan izin saya juga melampirkan undangan. Kalau rapatkan boleh diwakilkan. Sehingga saya wakilkan terlebih dulu.

Yang kedua, saya tidak hadir dulu [acara PDIP sebelumnya], saya menghadiri musyawarah anak cabang khusus. Dan saya kalau tidak ada acara, sebagai kader mendapat undangan pasti akan berangkat. Tapi kalau ketua DPC yang lain belum tentu bisa seberani saya. Tapi karena saya ini punya Tiga Nga yang seperti saya sebutkan tadi. Maka saya berani.

Apakah ini ada urusan hati?

Saya tidak ada masalah dengan Mas Bambang Pacul. Perkara orang menilai bahwa saya ada masalah dengan Mas Bambang Pacul itu adalah hak mereka. Karena saya tidak pernah ada urusan dan masalah dengan siapa pun.

Wawancara Khusus- FX Hadi Rudyatmo
FX Hadi Rudyatmo berbicara di taman pinggir Sungai Bengawan Solo yang merupakan hasil kreasinya bersama warga sekitar setelah dia pensiun dari jabatan wali kota. tirto.id/M. Irfan Al Amin


Karena dukungan Anda kepada Ganjar, sering diisukan pula bahwa Anda memiliki kerenggangan hubungan dengan Puan Maharani?

Tidak ada masalah. Beliau adalah Ketua DPP, saya adalah Ketua DPC. Tidak ada persoalan.

Setiap Puan Maharani ke Solo, Anda tidak pernah menyambut, mengapa?

Lah wong tidak pernah diundang. Saya harus menyambut bagaimana.

Bagaimana bisa Anda tidak pernah diundang?

Kenyataannya seperti itu, harus bagaimana lagi. Biasanya kita hanya dilewati. Kalau mau ke Sukoharjo, yang menjemput dari DPC Sukoharjo. Kalau saya disuruh menjemput pasti kita jemput.

Karena begini, saat saya menjadi wali kota. Saya harus bisa memilah dan memilih. Mbak Puan datang kesini sebagai apa, kalau sebagai Menko pasti saya jemput terus. Tapi kalau sebagai Ketua DPR RI, dan kalau tidak di Solo saya tidak punya kewenangan untuk menjemput.

Sehingga harus bisa memisahkan. Dan tidak ada protokol yang mewajibkan bagi wali kota agar Mbak Puan sebagai Ketua DPP PDIP untuk dijemput. Kecuali saat beliau sebagai Ketua DPP, maka saya akan melepas baju wali kota saya untuk menjemput beliau. Tapi masalahnya tidak pernah diundang kok.

Undangannya itu bersifat formal. Apakah tidak ada hubungan informal sehingga pertemuan bisa diadakan tanpa harus ada undangan?

Cuma saya orangnya ini, saya akui saja, salah satunya karena gaptek dan tidak suka membalas WA. Apabila di WA, dan tidak misscalled regular tidak akan saya buka. Pernah ada kasus pada 25 Juli kalau tidak salah, disuruh jemput [Puan Maharani], namun saya membuka Whatsapp pada 27 Juli, akhirnya saya tidak bisa menjemput.

Padahal kunjungan Puan Maharani selalu tersiar dalam berita? Kenapa Anda masih belum tahu?

Saya tidak tahu, karena saya tidak pernah membaca berita. Mau bicara apapun Mbak Puan adalah putri dari Ibu Megawati Soekarnoputri.

Yang kedua Mbak Puan adalah Ketua DPP PDIP. Sehingga tidak perlu membedakan antara ketua DPC satu dengan lainnya. Andai saya disuruh menjemput saya pasti akan menjemput. Tapi kalau yang disuruh adalah Ketua DPC lain, ya bagaimana lagi.

Apakah Anda tidak ingin inisiatif untuk bertemu atau menjemput Puan Maharani bila berkunjung ke Solo?

Ya tidaklah. Saya tahu diri. Saya orang yang punya prinsip. Dan orang yang punya prinsip pasti tidak akan menjilat. Kalau tidak punya prinsip pasti hanya asal mengekor saja.

Bagaimana hubungan Anda dengan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto?

Saya kalau ke sana [Jakarta] pasti mampir bertemu Pak Hasto.

Apakah Pak Hasto pernah menegur Anda terutama terkait dukungan kepada Ganjar?

Saya juga siap kalau dimarahi. Kalau orang marah jangan dianggap sebagai suatu hal yang besar. Marah itu karena ada hal tidak benar sehingga ditegur agar tidak seperti itu lagi.

Dan saya menjawab Pak Sekjen, saat saya memberikan dukungan kepada Pak Ganjar juga diingatkan "Mas ora usah kenceng-kenceng (Mas jangan terlalu kencang) soal dukungan kepada Ganjar." Itu biasa saja.

Jadi begini, orang masuk menjadi politisi harus siap 3B dan ini adalah ajaran Bung Karno. Harus siap dibuang, dibunuh dan dibui.

Dibuang itu bukan orangnya, tapi ide dan gagasannya. Siap dibunuh karakter dan karirnya, kalau tidak siap ya jangan [masuk politik]. Kemudian dibui, tidak boleh kemana-mana. Seperti Ganjar tidak boleh kemana-mana, sebagai kader partai dia harus siap.

Saya katakan kepada Ganjar: Bos, Anda harus siap 3B. Siap dibuang, dibunuh, dan dibui.

Tapi kalau korupsi harus dibui benar dalam penjara. Tapi ini dalam konteks dibui pergerakannya, dibunuh karakternya.

Lalu bagaimana hubungan Anda saat ini dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri?

Lah sebagai hubungan antara ketua DPC dengan ketua umum saya selalu menaati perintah beliau. Beliau sering memberikan perintah seperti: Rud jaga Solo! Rud buat pagar! Maka akan saya laksanakan.

Apakah Megawati kerap meminta pendapat Anda secara langsung?

Kalau Ibu Mega meminta pendapat saya tentunya jarang ya. Karena beliau kelasnya adalah Profesor Doktor Honoris Causa Hajjah Megawati Soekarnoputri. Secara tingkat lebih tinggi sana, dan saya hanyalah kroco. Tidak etis lah. tetapi kalau kita mengobrol, seringkali memberikan masukan secara tidak langsung.

Terakhir bertemu dengan Megawati Soekarnoputri kapan?

Saya kalau ketemu tidak pas acara partai. Tapi secara pribadi di rumah beliau yang ada di Teuku Umar.

Apa yang menyebabkan Anda bisa memiliki kesempatan untuk sering bertemu dengan Ketua Umum PDIP secara langsung dan tatap muka? Di saat kader PDIP lain belum bisa memiliki kesempatan yang sama

Saya sering bertemu hanya berdua. Karena saya punya prinsip dan punya komitmen. Kalau saya ke sana [Jakarta] pasti ketemu ibu. Karena sebagai anak saya harus sering sowan kepada ibunya. Kalau anaknya salah dimarahi ibunya, saya harus terima.


Baca juga artikel terkait WAWANCARA atau tulisan menarik lainnya Irfan Amin
(tirto.id - Politik)

Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Bayu Septianto

DarkLight