Semen Padang FC, Kabau Sirah yang Tanduknya Tengah Patah

Oleh: Irfan Teguh - 7 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Klub yang didirikan pada 30 November 1980 ini sempat diperhitungkan oleh banyak klub lain. Namun penampilan buruk membawa mereka terdegradasi dari liga 1 di akhir tahun 2017
tirto.id - Sepakbola melahirkan kekecewaan. Setelah wasit yang memimpin partai Persib vs Perseru meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir, pendukung Persib meradang. Minggu, 12 November 2017, partai pamungkas bagi kedua tim di Liga 1 itu dimenangkan Perseru dengan skor 0-2.

Bobotoh menyalakan suar dan bom asap, lalu melemparkannya ke tengah lapangan. Sebagian melompati pagar pembatas tribun dan merangsek hendak mendekati pemain. Sambil menangis, mereka berlari ke tengah lapangan. Namun, aparat keamanan segera menghalaunya.

Sepakbola adalah jambangan kesedihan. Saat Persib dikalahkan Perseru, di waktu yang sama di Bumi Minangkabau, para pendukung dan pemain Semen Padang nelangsa. Meski berhasil menekuk PS TNI 2-0, tapi hasil tersebut tak membatalkan mereka degradasi, terlempar ke liga kasta dua.

“Saya tak menyangka berakhir seperti ini. Sudah lima musim saya bersama Semen Padang dan tak pernah berpikir tim ini akan degradasi,” ujar Novan Setya Sasongko, bek yang sudah lima musim membela Kabau Sirah.

Semen Padang berada di posisi ke-16 klaseman akhir Liga 1 musim 2017. Beda dua poin dengan peringkat Perseru yang bercokol persis di atasnya. Kemenangan yang mereka raih dari PS TNI dengan kerja keras, menjadi tak berarti apa-apa.

“Anda bisa lihat, betapa kerasnya perjuangan kami hingga memastikan kemenangan. Namun, itulah sepakbola, kadang harus kecewa dengan hal-hal lain di luar kuasa kita,” ungkap pelatih Semen Padang, Syafrianto Rusli.

Mulanya, banyak yang tidak menyangka Semen Padang akan bernasib buruk di akhir musim. Beberapa bulan sebelumnya, tim Kabau Sirah berhasil duduk di peringkat empat Piala Presiden 2017. Namun di tengah musim tanda-tanda kemerosostan prestasi Semen Padang mulai terlihat.


Marcel Sacramento, salah satu pemain andalannya mendapat hukuman dilarang tampil membela Semen Padang dalam enam pertandingan. Marcel dijatuhi hukuman setelah ia melakukan protes keras kepada wasit Prasetyo Hadi dalam laga melawan Bhayangkara FC pada 20 Mei 2017.

“(Kondisinya) memang berat. Semua berawal dari hukuman akumulai Marcel. Dia dihukum enam kali pertandingan. Sejak itu kami sudah menunjukkan grafik menurun. Karena daya gedor berkurang. Itulah yang selama ini kami rasakan,” ujar caretaker pelatih Semen Padang Delvi Adri.

Selain hukuman larangan bertanding yang menimpa Marcel, menurut Delvi, cedera yang mendera sejumlah pemain andalan juga menjadi penyebab menurunnya penampilan Semen Padang. Salah satu pilar utamanya, Ko Jae-Sung, sering absen karena cedera.

“Itu yang membuat kami jarang tampil full team,” tambahnya.

Kegagalan Semen Padang bertahan di kasta pertama liga Indonesia bukanlah yang pertama. Pada tahun 2007, tim kebanggaan warga Padang dan Sumatra Barat itu pernah mengalami hal serupa. Karena mengakhiri musim 2007 di posisi 16 Wilayah Barat, mereka tidak bisa bergabung di Liga Super Indonesia (LSI) yang menjadi kasta tertinggi liga Indonesia.

Waktu itu Semen Padang butuh dua musim untuk akhirnya bisa bergabung dengan LSI setelah ditangani Arcan Iurie, pelatih asal Moldova.

“Di Bawah pimpinan Arcan Iurie, Semen Padang FC berhasil meraih promosi pada musim 2009/2010 setelah merebut tempat ketiga setelah berhasil mengalahkan klub asal Papua, Persiram Raja Ampat,” tulis Mohammad Arya.


Kiprah Klub Perusahaan Semen Tertua di Indonesia


Semen Padang FC didirikan pada 30 November 1980. Klub ini didanai oleh pabrik semen tertua di Indonesia yang semula bernama NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij yang berdiri pada 18 Maret 1910.

Pada tahun yang sama dengan pendiriannya, Semen Padang langsung ikut kompetisi Divisi 1 Galatama. Dua tahun kemudian naik ke Divisi Utama Galatama. Sepanjang 15 tahun Galatama digelar, Semen Padang tak sekalipun mencicipi gelar juara.

Namun mereka sempat sekali meraih juara Piala Galatama pada tahun 1992 yang sebelumnya bernama Piala Liga. Gol tunggal yang menjadi kemenangan Semen Padang dicetak oleh Delvi Adri pada menit ke-53. Gol tersebut merobek jala Arema Malang pada 21 Juli 1992 di Stadion Gelora 10 November, Surabaya. Keberhasilan itu membaut Semen Padang mewakili Indonesia pada gelaran Piala Winners Asia 1993.

Lima tahun sebelum menjuarai Piala Galatama, Semen Padang berduka. Suhaimi Irwan, manajer tim, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di gerbang Bandara Sukarno-Hatta, Cengkareng, pada 31 Januari 1987. Kecelakaan tersebut terjadi saat rombongan Seman Padang akan pulang kampung setelah mengikuti turnamen segitiga HUT PD Pasar Jaya di Stadion Utama Senayan, Jakarta.

Untuk menghormati dan mengenang manajernya, Semen Padang menggelar Piala Kenangan Suhaimi Irwan yang diikuti oleh tiga klub, yaitu Semen Padang, Krama Yudha, dan Pelita Jaya. Turnamen yang digelar pada 20-22 Maret 1987 itu dimenangkan oleh Pelita Jaya.

Memasuki musim keduanya di LSI, yaitu tahun 2010/2011, Semen Padang tampil cukup impresif. Mereka berhasil finish di posisi ke-4 dengan raihan nilai total 48, memenangi 12 laga dari 28 pertandingan. Sejak musim inilah keberadaan Semen Padang mulai diperhitungkan oleh banyak tim lain.

Hal ini memang tidak salah, sebab pada tahun 2012 Semen Padang kembali membuktikan ketangguhannya dengan berhasil menembus partai puncak Piala Indonesia. Sebagai tim yang berasal dari kasta tertinggi, Semen Padang langsung tampil di putaran ketiga.


infografik semen padang kabau sirah


Di turnamen yang digelar home and away ini mula-mula mereka menghajar Pro Duta FC 2-0 dan 3-0. Di perempat final Semen Padang melumat PSMS Medan 2-0 dan 1-1. Sementara di semifinal giliran Persebaya Surabaya yang mereka kandaskan dengan skor total 5-2. Dalam posisi tertinggal karena di leg pertama mereka kalah 2-0, tapi pada pertandingan kedua mereka membalasnya secara meyakinkan 3-0. Langkah Kabau Sirah yang trengginas akhirnya dihentikan oleh Persibo Bojonegoro di partai final dengan skor 1-0.

Saat PSSI terpecah dan ada dua kompetisi yang berjalan berbarengan, yaitu Liga Super Indonesia (LSI) dan Liga Prima Indonesia (LPI), Semen Padang memilih bergabung dengan LPI yang diikuti oleh 12 peserta. Di liga tersebut ketangguhan Semen Padang tak tertahan, di akhir kompetisi mereka memuncaki klaseman dan keluar sebagai juara.

Kekalahan Semen Padang dari Persibo Bojonegoro di final Piala Indonesia 2012, dapat mereka balas di pertandingan Community Shield 2013. Partai yang mempertemukan Juara Liga Prima 2012 melawan Juara Piala Indonesia 2012 itu dimenangkan Semen Padang dengan skor 4-1.

Di tahun yang sama, Semen Padang tampil cukup meyakinkan di AFC Cup. Diperkuat oleh Edward Junior Wilson, penyerang tajam asal Liberia, mereka menjuarai grup dengan menyisihkan para pesaingnya: Kitchee FC (Hongkong), Churchill Brothers (India), dan Warriors FC (Singapura). Di babak selanjutnya, Semen Padang mengalahkan HNB Da Nang, wakil dari Vietnam. Sayang, di babak perempat final mereka dihentikan oleh wakil dari India, East Bengal.

Tahun 2015, tanda-tanda kemunduran Semen Padang belum tampak. Mereka masih terus menebar ancaman. Di Piala Jenderal Sudirman, meski di fase grup finish di urutan ke-3, tapi mereka berhasil lolos ke babak berikutnya sampai tembus ke final. Namun di final Semen Padang dibekuk Mitra Kukar 1-2.

Petaka yang menimpa Semen Padang bahkan belum terlihat di awal tahun 2017, karena mereka masih tampil tajam dengan menjadi juara ke-4 di Piala Presiden. Memasuki pertengahan musim, kegelisahan mulai menyergap. Dan puncaknya pada 12 November 2017, saat mereka resmi terlempar ke kasta dua. Kesedihan datang merundung.

“Kami gak bisa berkata lagi, kami memang kecewa sempat syok, gak nyangka bisa separah begini. Karena awalnya target juara, tapi jangankan juara, untuk bertahan aja kami gak bisa,” ujar Nurman Anwar Bay, Ketua The Kmers, salah satu kelompok suporter Semen Padang FC.

Baca juga artikel terkait SEMEN PADANG FC atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Zen RS