Advertorial

Selalu Ada Waktu untuk Kemanusiaan

Oleh: Advertorial - 12 Maret 2019
Dibaca Normal 5 menit
“Pas mau pamit rasanya berat. Aku sedih dan sampai menangis meskipun baru mengenal mereka saat itu," kata Chelsea Islan kepadamu
tirto.id - Minggu siang (24/2), kau dan 20 orang Indonesia lain tiba di Bandara Internasional Changi, Singapura. Kau melihat Chelsea Islan dan teman-temannya—Pamela Abigail, Dimas Ramadhan, Robert Rudini, Summit Fajar, dan Mike—bercakap-cakap sebelum menuju kantor imigrasi.

Selain mereka, ada pula Ucita Pohan, Agnes Oryza Kristel, Aris Suhendra, Ruth Dian Kurniasari, dan Aurelia Carisa. Selebgram. Tiba-tiba, seorang laki-laki tinggi, kekar, dan berkacamata hitam menyapamu. “Mas ikut rombongan cruise ini juga?” tanyanya.

Setelah mengiyakan dan memperkenalkan diri, kau bertanya balik. “Denny Sumargo,” katanya. Kalian berjabat tangan dan kau melempar pertanyaan datar, “Selebgram juga, ya?”

Pelan, tetapi penuh keyakinan, Denny menjawab: “Saya artis.”

Dari Changi, Rastri Sekar Rinukti, Assistant Manager Marketing Genting Cruise Lines (GCL), membawa rombongan ke Teluk Marina. Dari sanalah perjalanan Voluntourism 4 hari 3 malam ke Penang dan Phuket bersama Dream Cruises bakal dimulai.

Genting Dream, kapal pesiar GCL, memiliki panjang 335 meter dan lebar 40 meter. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2016, ia fokus melayani perjalanan wisata di perairan Asia Tenggara. Michael Goh, Senior Vice President International Sales GCL, menyebutnya sebagai yang terbesar di Asia Pasifik.

Saat bus yang kau tumpangi mendekati Teluk Marina, pernyataan Goh terbukti. Dari jalanan, raksasa mewah berlantai 19 itu tampak menggentarkan. Denny Sumargo bertanya apakah kau pernah menaiki kapal pesiar.

“Belum, paling banter naik kapal Pelni,” jawabmu.

Ingatan 12 tahun silam akan dek ekonomi kapal Pelni KM Kerinci yang kau tumpangi dari Tanjungpriok ke Tual, Maluku Tenggara, langsung menguap manakala kau memasuki Genting Dream. Lantainya beralas karpet tebal, musik lembut mengalun, lampu-lampu dan interior ruangan menampilkan kesan elegan. Di kejauhan, kau melihat restoran dan bar, panggung hiburan dan toko-toko.

“Sering-sering kirim video kapal pesiar dong, Bor. Kalau nggak, update aja di instastory. Gua penasaran bener cruise itu kayak gimana dalemannya.” Demikian pesan Whatsapp yang kauterima dari Eddward S. Kennedy, sahabat dan rekan kerjamu.

Pukul 17.00, kapal meninggalkan dermaga. Dari balkon kabinmu, kabin 11696 itu: lembayung dan laut biru kehijauan, kapal-kapal kargo, yacht dan speedboat, Marina Bay Sands dan gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya, menjadi pemandangan yang sempurna. Singapura tampak seperti segunduk taman saat kapal menjauhinya.

Bahasa Lain Cinta

Senin pagi (25/2), kapal bersandar di Pelabuhan Penang, Malaysia. Sebelum jalan-jalan, rombongan terlebih dulu dijadwalkan mengunjungi Eden Handicap Service Center di Kompleks Masyarakat Penyayang, Jalan Utama. Berdiri sejak 1991, Eden adalah lembaga nirlaba yang memberdayakan kalangan difabel. “Ini pertama kalinya kami bekerjasama dengan GCL. Kami sangat senang karena kunjungan ini memungkinkan para penghuni berkolaborasi dengan orang-orang baru,” kata Bertie Tye, pendiri yayasan.

Di Eden Handicap Center, rombonganmu membantu para penghuni membuat bola-bola mainan—Tye menyebutnya pinball. Penghuni Eden (jumlah seluruhnya sekitar 80 orang) diberdayakan mengemas pinball untuk mainan anak-anak di bawah 15 tahun.

Dream Cruises
Kegiatan voluntourism hari pertama di Eden Handicap Service Center di Penang, Malaysia, Senin (25/2). tirto.id/Zul


Duduk menghadap meja-meja panjang, kau menyaksikan orang-orang memasukkan kaos kaki supermini ke dalam bola kecil berbahan plastik. “Semuanya dikirim dari pabrik, dirakit di sini, lalu kami kembalikan ke pabrik. Begitulah teman-teman ini mendapatkan penghasilan dari jerih payah mereka,” terang Tye.

Selama dua jam kau dan rombongan berinteraksi dengan penghuni Eden. Weng Liang, 25 tahun, yang punya keterbatasan berkomunikasi, bahkan terlihat sangat antusias berkolaborasi dengan Chelsea Islan dkk. Demikian pula sebaliknya. Sambil memasukkan kaos kaki ke bola-bola, Chelsea tak sungkan menghibur dan mengajak Liang dkk menyanyikan do re mi.

“Pas mau pamit rasanya berat. Aku sedih dan sampai menangis meskipun baru mengenal mereka saat itu. Ketulusan mereka, energi dan suasana yang hangat, membuat kegiatan voluntourism ini sangat menyentuh,” kata Chelsea kepadamu.

Bagi aktris kelahiran 2 Juni 1995 tersebut, kegiatan voluntourism yang digagas GCL tak ubahnya oase kemanusiaan di sela aktivitas liburan mewah kapal pesiar. Nilai-nilai kemanusiaan dalam diri, kata Chelsea, seperti termurnikan kembali lewat kegiatan sosial semacam itu. Dan hal serupa dirasakan pula oleh Denny Sumargo.

“Kemewahan yang didapatkan selama perjalanan, sebetulnya, bisa berbalik menjadi sesuatu yang kurang baik jika sampai membuat kita lupa bahwa ada orang-orang yang memerlukan sentuhan kemanusiaan tangan-tangan kecil kita. Voluntourism membuat liburan ini seimbang,” katanya.

Berinteraksi dengan kalangan yang kurang beruntung, mantan pebasket nasional itu menemukan bahasa lain dari cinta. “Awalnya, kita dan mereka mungkin sama-sama merasa canggung, bahkan insecure. Tapi mereka punya bahasa sendiri untuk mengungkapkan cinta. Berbagi kegembiraan, akhirnya, membuat semua pihak bisa menikmati waktu bersama-sama,” tambahnya.

Sehabis dari Eden, rombongan berjalan-jalan ke George Town untuk mengunjungi pasar apung Chew Jetty dan Penang Street Art. Di sana, seperti halnya dirimu, setiap wisatawan berkeras ingin mengabadikan Child on Bicycle karya Ernest Zacharevic.

Menghibur anak-anak di Phuket

Selasa pagi (26/2), terbangun seorang diri di dalam kabin, hal pertama yang menyentuh batinmu adalah panorama di luar jendela: gugusan pulau dan karang-karang, perahu-perahu nelayan melintas dengan tenang. Kau mengunggah suasana itu dalam rekaman singkat di instastory.

“Bangsat,” kata akun @haviz.maulana berkomentar. Kasar sekali, sangat tidak pas dengan hatimu yang sedang lunak-lunaknya.

Tanpa pelabuhan, sesampainya di Phuket kapal mesti lempar sauh di tengah laut. Kau dan wisatawan lain diangkut ke Patong Beach dengan sekoci. “Akhirnya, keinginan menumpangi sekoci kapal ini kesampaian juga,” katamu kepada juru kamera kawakan Deddi Effendy.

Dari bibir pantai, kau berjalan sekira 700 meter menuju area parkir bus. Jadwal hari itu adalah mengunjungi Baan Kalim School, sekolah yang sempat hancur saat tsunami menerjang Thailand 15 tahun lalu. Robert, 72 tahun, warga Singapura, tampak bersemangat bertemu para murid di situ. “Senyum anak-anak yang terkembang sungguh mencerahkan,” katanya.

Di Baan Kalim, aktivitas voluntourism terbagi. Mengenakan kostum khusus yang disiapkan dari Jakarta, Chelsea Islan dan kelima sahabatnya menghibur para siswa dengan nyanyian. Sempat terkendala faktor bahasa, suasana jadi sangat cair setelah Mike berimprovisasi membuat kompetisi joged hip hop menantang para siswa.

“Sawadikap, sawadikap.” Sambil menangkupkan kedua tangan di jidat, itulah satu-satunya kata yang mampu kau ucapkan kepada orang-orang Baan Kalim.

Sementara kelompok Chelsea beraksi, Ucita Pohan dan influencer lainnya—juga Denny Sumargo dan Baby Jovanca—mengecat salah satu ruang kelas di lantai tiga. Walaupun terlihat sepele, kegiatan tersebut meninggalkan kesan mendalam buat mereka.

“Melakukan kegiatan sosial di negeri sendiri mungkin biasa, ya. Tapi melakukannya di negeri orang, di sela aktivitas liburan bersama teman-teman, hal semacam ini menjadi sangat bermakna,” kata Uci, penyiar sekaligus penulis buku Bicara Tubuh terbitan Gramedia Pustaka Utama (2018).

Bagi Uci, konsep voluntourism yang digagas GCL sangat menarik lantaran tidak hanya membuat wisatawan menikmati segala yang ada di tempat tujuan, namun juga membuat mereka bisa memberikan manfaat kepada lingkungan dan manusia, sekecil apa pun bentuknya. Sedangkan menurut Aris Suhendra, pemilik akun Instagram @kabutipis, saat ini, seiring meningkatnya kesadaran orang-orang untuk berbagi dengan sesama, kegiatan voluntourism sangat relevan diterapkan di mana pun.

“Tentu tidak cocok untuk semua wisatawan, ya. Namun wisatawan dengan tingkatan tertentu—misalnya mereka yang jemu dengan aktivitas-aktivitas wisata utama—pasti akan senang mengikuti voluntourism. Aktivitas itu memberikan kepuasan batin,” ujarnya.

Di Baan Kalim, kau juga melihat empat ibu menyiapkan prasmanan makan siang di dapur umum. Di dindingnya yang kuning, terpajang sebuah whiteboard berisi daftar menu untuk seminggu. Kau berharap keindahan demikian bisa diterapkan di seluruh sekolah di negeri asalmu.

Pelesir berlanjut ke Jungceylon Mall. Berbincang dalam bahasa Sunda dengan Handrian Wiguna, kau merasa tengah berada di Paskal Hypersquare atau Cihampelas Walk—meski segala yang ada di depan matamu jauh lebih rapi dan serba tertata.

Puncak kegembiraan

Seperti sebuah drama, pelesiran bersama Genting Dream melewati berbagai tahapan sebelum mencapai klimaks. Puncaknya, dalam perjalanan pulang menuju Teluk Marina, kau dan rombongan diajak menikmati Foam Sunset Party di area Zouk Beach Club—buritan dek 17 kapal itu.

Foam Sunset Party
Foam Sunset Party di area Zouk Beach Club di buritan kapal Genting Dreams, Selasa (26/2). tirto.id/Zul


Di sana, di bawah guyuran sinar hangat matahari, selama dua jam kau mendengar Disk Jockey memutar lagu-lagu R&B. Puluhan turis berkelojotan, eh, menari. Chelsea Islan dan Ucita Pohan bermain ular-ularan bersama anggota rombongan lainnya. Kau menjadi bagian dari kegembiraan itu dengan menertawakan aksi presenter Indosiar Asran Shady dan Denny Sumargo meluncurkan badan seperti bocah-bocah SD di kampungmu saat hujan tiba, atau seperti Luis Suarez merayakan gol ke gawang Real Madrid.

“Badan gosong segosong-gosongnya tapi happy setengah mati,” kata Ruth Dian Kurniasari. Seperti anggota lain rombongan, kau meyakini kebenaran ucapan itu.

Dipungkasi dengan pesta kembang api, perjalanan laut bersama Genting Dream barangkali akan menjadi pengalaman tak terlupakan dalam hidupmu. Kau sempat bertanya perihal voluntourism. Kegiatan tersebut, yang memadukan aktivitas wisata dan kegiatan sosial, pertama kali diselenggarakan GCL 24-27 Februari lalu.

“Kami akan menyelenggarakan kegiatan serupa bersama kapal lain, misalnya Star Cruises. Sebagai salah satu pilihan paket kegiatan pantai—aktivitas senang-senang yang dilakukan wisatawan saat kapal bersandar—wisatawan bisa mengikuti paket ini dengan cuma-cuma,” kata Michael Goh.

GCL Voluntourism bakal diselenggarakan di berbagai lokasi berbeda, sesuai tujuan kapal berlayar. Terdekat, kegiatan tersebut akan digelar dalam perjalanan menuju Surabaya dan Bali Utara.

Chelsea Islan, teman perjalananmu yang bersahaja, yakin kegiatan sosial semacam itu dapat mengubah bahkan memperbaiki keadaan.

“Voluntourism memungkinkan kita menemui pihak-pihak yang selama ini sering terlupakan. Membagikan energi positif kepada siapa pun, ditambah memberikan dukungan moril maupun materil, adalah salah satu cara membuat dunia dan kehidupan ini menjadi lebih baik,” katanya.

Kau ingin percaya... Kau percaya, berkat perjalanan ini, bahwa perkataan itu bukan sekadar retorika.