Selain Neil Armstrong, Hanya Miliarder & Seniman yang Bisa ke Bulan

Oleh: Ahmad Zaenudin - 22 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Space X akan membawa miliarder Jepang Yasuku Maezawa ke Bulan pada 2023.
tirto.id - “Saya memilih pergi ke Bulan dengan seniman,” ucap Yusaku Maezawa.

Maezawa adalah miliarder asal Jepang yang pada Senin (17/9/2018) diklaim bakal jadi warga sipil pertama yang diterbangkan perusahaan antariksa SpaceX ke Bulan. Ihwal ini diumumkan langsung oleh CEO SpaceX Elon Musk.

"Jika Pablo Picasso berkesempatan melihat Bulan dengan dekat, lukisan seperti apa yang akan dibuatnya?” tanya Maezawa.

Melalui proyek #dearMoon, Maezawa, dan SpaceX akan mengajak seniman dunia “bertamasya” mengunjungi Bulan.

Yusaku Maezawa, 42 tahun, punya kekayaan $2,7 miliar adalah pemilik grup usaha Start Today di Jepang. Zozotown, lini usaha Start Today bergerak di bidang fashion, salah satu toko online tersukses di Jepang. Start Today diperkirakan memiliki valuasi sebesar $12 miliar.

Kekayaan yang cukup berlimpah itu jadi modal utama Maezawa membeli seluruh kursi SpaceX untuk terbang ke Bulan. Selain Maezawa, akan disediakan kursi menuju Bulan bagi pelukis, musisi, sutradara film, fashion designer, dan ragam seniman lain. Mereka akan melakukan perjalanan sejauh hampir 358 ribu Km. Big Falcon Rocket (BFR), roket jarak jauh bikinan SpaceX, akan bertanggung jawab membawa mereka pergi ke Bulan.


Big Falcon Rocket


SpaceX merupakan perusahaan transportasi luar angkasa Amerika Serikat yang didirikan pada 2002 oleh Elon Musk. Pada 24 Maret 2006, merupakan momentum pertama SpaceX sukses melakukan peluncuran roket. Saat itu, Falcon 1, roket pertama mereka, meluncur ke angkasa dari kawasan Kwajalein di Pasifik. Sejak ujicoba tersebut, SpaceX telah sukses meluncurkan 62 misi peluncuran roket dengan berbagai tujuan antara lain mengirimkan satelit ke orbit. Hingga kini, startup tersebut telah mengantongi investasi $1,9 miliar, termasuk uang senilai $1 miliar dari Google.

Berselang 12 tahun sejak didirikan, SpaceX telah punya lebih dari 100 kontrak peluncuran satelit. Salah satu alasannya, SpaceX menghadirkan biaya peluncuran wahana yang murah bagi klien. Hari ini, terdapat dua roket yang SpaceX tawarkan guna dijadikan “boncengan” wahana, yakni Falcon 9 dan Falcon Heavy. Masing-masing roket, bisa digunakan untuk mengirimkan wahana ketiga tujuan, low earth orbit (160-2.000 Km di atas permukaan Bumi), Geosynchronous transfer orbit (42.164 Km di atas permukaan Bumi), dan menuju Planet Mars.

Biaya jasa dengan roket Falcon 9 dibanderol mulai dari $62 juta untuk sekali peluncuran. Sementara Falcon Heavy dibanderol $90 juta untuk sekali mengangkasa.

Infografik Spacex ke bulan


Eric Berger, jurnalis Ars Technica, dalam salah satu laporannya menyebut tarif yang dibanderol roket-roket SpaceX jauh lebih murah dibandingkan kompetitor, terutama UAC. Delta IV Heavy, roket milik UAC, yang memiliki kemampuan setara Falcon Heavy, bertarif hingga $350 juta untuk sekali terbang. Dalam rapat yang dilakukan House Armed Services Committee, membahas strategi pertahanan AS, disebutkan untuk konfigurasi tertentu, biaya Delta IV Heavy bisa mencapai $400 juta hingga $600 juta.

Penulis The Verge Loren Grush, mengatakan SpaceX kini tengah mengembangkan roket baru bernama Big Falcon Rocket (BFR), yang digunakan untuk membawa Maezawa dan rekan-rekan senimannya ke Bulan. Pengembangan BFR membutuhkan biaya “tak lebih dari $10 miliar tetapi tak kurang dari $2 miliar.” Diperkirakan, angkanya ada di kisaran $5 miliar.

Besarnya biaya pengembangan BFR tak lain karena jumbonya tim pengembangan roket itu. Diperkirakan, SpaceX harus mempekerjakan 7.000 ahli roket dunia. Charles Miller, President of NexGen Space, firma konsultasi antariksa, menyebutkan biaya para ahli ini pengeluaran utama pengembangan BFR.

“Biaya jumbo pengembangan BFR bukanlah tentang material yang dibeli. Biaya utama ada di besarnya tim kelas dunia yang dipekerjakan,” cetusnya.

Masa depan SpaceX bukan semata BFR. Menurut rencana, SpaceX akan mengembangkan infrastruktur internet berbasis antariksa bernama Starlink. Starlink, menggunakan hampir 12 ribu konstelasi satelit untuk menyebarkan koneksi internet ke Bumi. Diperkirakan, SpaceX membutuhkan biaya hingga $10 miliar.


Menurut pengakuan Elon Musk, SpaceX hanya menyediakan sumber daya sebesar 5 persen untuk mewujudkan BFR. Musk kesulitan biaya untuk membiayai senjata barunya itu. Alasannya pendapatan dari jualan Falcon 9 dan Falcon Heavy tak mencukupi membiayai proyek SpaceX selanjutnya meski laku keras, karena Falcon 9 dan Falcon Heavy bertarif murah.

SpaceX membutuhkan suntikan dana segar. Dana segar itu bisa bersumber dari orang-orang tajir seperti Yusaku Maezawa yang ingin menjelajah antariksa. Maezawa “memiliki efek material untuk membiayai pengembangan BFR. Mezawa membuat perbedaan. Ia menempatkan uangnya di sini,” kata Musk.

BFR, dilansir Vox, merupakan roket yang sanggup meluncurkan wahana antariksa hingga ke Mars. Pada 2022, sebelum BFR meluncurkan Maezawa, SpaceX merencanakan roket tersebut terbang ke Mars. Dikutip dari laman resmi SpaceX, BFR merupakan “fully reusable vehicle.” Gabungan antara roket pendorong (booster) dan wahana antariksa (ship). Menurut klaim, BFR memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan Saturn V, roket yang membawa Neil Armstrong ke Bulan pada Juli 1969.

BFR merupakan wahana setinggi 118 meter dengan diameter 9 meter. Dalam kondisi penuh, BFR memiliki berat hingga 4,4 juta Kg. Meskipun berat dan besar, wahana tersebut sanggup diluncurkan ke luar angkasa atas thrust (gaya dorong) yang dimilikinya yang sebesar 11,8 juta lbf (pound-force). BFR sanggup menampung hingga 10 penumpang. Di dalamnya ada wadah yang bisa digunakan menyimpan barang hingga 150 ton.

Mengirim manusia ke antariksa jadi pijakan baru bagi SpaceX. Sebagaimana diberitakan Vox, perusahaan tersebut belum pernah mengirimkan manusia ke luar orbit Bumi. Hanya kapsul berisi barang-barang kebutuhan para astronot di International Space Station yang pernah dikirim SpaceX.

Apakah Maezawa dan para seniman akan benar-benar bertamasya ke bulan bersama SpaceX?

Baca juga artikel terkait SPACE X atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra