Seks Berubah Akibat Pandemi, Masturbasi Dianggap Paling Aman

Ilustrasi Masturbasi. foto/istockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 6 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Seks merupakan salah satu alternatif aktivitas yang mengurangi stres di masa pandemi. Tak heran, selama wabah, aktivitas seks manusia cenderung meningkat.
Selama pandemi orang-orang jadi punya lebih banyak waktu untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya tidak jadi prioritas, termasuk seks.

Wabah COVID-19 telah mengubah cara manusia berperilaku. Kita jadi lebih sering menghabiskan waktu di rumah melakukan hal-hal baru atau menjalani rutinitas dengan sedikit modifikasi. Ada yang memilih berkebun, menjajal resep-resep anyar, nonton drama korea, atau melakukan seks.

Ya, pandemi membuat aktivitas seksual manusia meningkat. Fenomena ini ditunjukkan dengan tren kenaikan angka kehamilan dan permintaan alat bantu seks. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebut selama pandemi, tingkat kehamilan meningkat hingga 10 persen.

Studi-studi di luar Indonesia mengungkap tren serupa. Lansir di International Journal of Gynecology & Obstetrics, peneliti dari Istanbul, Turki membuat perbandingan spektrum seksualitas, sebelum dan di saat pandemi. Sebanyak 58 responden perempuan berpartisipasi dalam penelitian ini.

Mereka ditanya soal partisipasi hubungan seksual, penggunaan kontrasepsi, dan perencanaan reproduksi. Selama wabah, para responden mengaku melakukan aktivitas seksual sebanyak 2,4 kali seminggu. Padahal sebelumnya, sekitar 6-12 bulan pra wabah aktivitas seksual hanya dilakukan 1,9 kali dalam seminggu.

Seperti halnya memasak dan berkebun, kontak fisik dan seksual bisa jadi salah satu aktivitas penawar stres di kala pandemi. Stres saat karantina menurut Helen Fisher, peneliti dari Kinsey Institute kepada Forbes akan memicu respons amygdala. Pusat rasa cemas pada otak ini akan mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan. Tubuh dibuat seolah sedang menghadapi ancaman sehingga selalu siaga.

“Respons ini memicu produksi testosteron yang akhirnya meningkatkan norepinefrin dan epinefrin, stimulan alami penghasil energi, fokus, motivasi, dan gairah seksual,” ungkapnya seperti dilansir dari Forbes.


Sementara aktivitas seksual meningkat, penggunaan kontrasepsi justru menurun dari 41,3 persen menjadi 17,2 persen. Meski peneliti tidak mengungkap soal fluktuasi kehamilan, peningkatan aktivitas seksual yang tidak diimbangi pemakaian kontrasepsi sangat mungkin berkorelasi dengan peningkatan angka kehamilan.

Kedua poin tadi jadi kontradiktif ketika kita melihat hasil studi berikutnya. Meski responden lebih sering berhubungan seksual dan jarang memakai kondom, mereka tetap berharap tidak mendapat kehamilan di masa pandemi (5,1 persen), dibanding sebelum pandemi (32,7 persen).

Keputusan terakhir mungkin berkaitan dengan anjuran menunda hamil dari berbagai organisasi ginekologi guna meminimalisir transmisi COVID-19 pada ibu dan bayi. Peningkatan aktivitas seksual selama pandemi selain mempengaruhi kenaikan angka kehamilan, tapi juga membikin bisnis alat bantu seks tambah laris manis.

Jurnalis Forbes, Franki Cookney mewartakan permintaan boneka seks “Sex Doll Genie” meningkat sebesar 51,6 persen dari Februari ke Maret hanya dari kategori penjualan untuk pria lajang. Sementara dilihat dari penjualan tahunan di bulan April terdapat pertumbuhan 32,2 persen di tahun 2020 hanya dari penjualan kategori pasangan.

“Ada ratusan pertanyaan masuk dalam delapan minggu terakhir. Meski stok produk cukup, kami kewalahan memenuhi permintaan,” ungkap co-founder perusahaan, Janet Stevenson.

Selama pandemi, kita dipaksa beradaptasi dengan kebiasaan anyar, termasuk soal seks. Alat bantu seks adalah alternatif bagi mereka yang terpaksa melakukan karantina tanpa pasangan. Produk ini juga membantu disabilitas dan orang-orang yang dikucilkan secara sosial untuk mendapat hak dasar seksualitas mereka di masa sulit seperti saat ini.


Sisa-sisa Virus di Air Mani

Berciuman atau sekadar saling berpeluk hangat sekarang ini nampaknya jadi ritual mewah. Kita tahu, seperti dikabarkan peneliti dunia virus SARS-CoV-2 menyebar lewat droplet. Jika tak berhati-hati atau tak paham benar soal status kesehatan pasangan, sentuhan manis ini bisa berubah bahaya.

Selain dikonfirmasi bahwa virus tersisa pada air liur, urin, dan feses, studi terbaru menyebut peneliti Cina menemukan sisa SARS-CoV-2 dalam air mani (semen) pasien yang telah dinyatakan sembuh. Semen merupakan cairan putih keruh pelindung sperma yang diproduksi pria saat ejakulasi. Publikasi menyeluruh tentang riset ini terbit di jurnal medis JAMA Network Open.

Para dokter mulanya menguji semen dari 38 pasien di Rumah Sakit Kota Shangqiu, Henan. Mereka mendeteksi adanya materi genetik virus SARS-CoV-2 dalam air mani enam pasien. Empat dari mereka berada di fase infeksi akut. Tapi penelitian tersebut tidak membuktikan bahwasanya virus corona bisa menular secara seksual.

Tes semen yang dilakukan para peneliti kemungkinan cuma mendeteksi fragmen RNA virus--bagian kecil dari struktur virus. Belum ada bukti penularan lewat kontak seksual atau prosedur inseminasi dari sperma terinfeksi. Saat berhubungan seks, virus lebih mungkin menular lewat droplet pernapasan.

Namun tetap saja, belum ada penelitian bukan berarti mengeliminasi risiko kesehatan yang ada. Maka dari itu kemungkinan-kemungkinan penularan lewat seks oral dan penetrasi vagina tetap harus diwaspadai.

“Menghindari (kontak seksual) dan memakai kondom bisa dijadikan langkah pencegahan bagi pasien,” demikian saran dari para peneliti studi ini.



Masturbasi Sampai Seleksi Partner Seks

“Anda adalah pasangan seks teraman bagi diri sendiri.”

Demi menjaga masyarakat tetap dalam hubungan seksual aman dan terhindar dari virus, para pemangku kebijakan di New York, Los Angeles, dan kota-kota di Amerika lainnya menyarankan warganya menghindari kontak seksual dari lingkaran berbeda. Demikian New York Times mewartakan.

Pejabat di San Francisco bahkan merekomendasikan membatasi hubungan seks dengan pasangan utama. Setali tiga uang, otoritas kesehatan di Oregon membuat sebuah poster yang berisikan larangan berciuman sembarang. Mereka justru menyarankan warganya sexting untuk memaksimalkan seks jarak jauh.

“Hindari mencium siapa pun yang bukan bagian dari lingkaran kecil Anda,” begitu kalimat yang tercantum dalam poster.

Nampaknya tanpa saran dari otoritas pun perilaku seksual masyarakat sudah mulai berubah. Seks jarak jauh menjadi tren. Seperti hasil survei Khoros, perusahaan manajemen media sosial swasta, pada periode pandemi (Maret-April) tweet berbau seks melonjak drastis.

Penggunaan frasa “nudes” dan “dick pics” naik 384 persen, menyaingi kata “coronavirus” dari awal Maret hingga April. Sementara emoji persik yang mewakili vagina dan terong untuk penis ikut meningkat sebesar 46 persen.

Memang sah-sah saja melakukan hubungan seksual dengan pasangan, asal sudah tinggal bersama dalam jangka waktu panjang dan yakin status kesehatannya baik-baik saja. Di Inggris, pasangan yang tinggal terpisah diharuskan memilih untuk tetap terpisah dalam jangka waktu yang lama, atau segera pindah permanen.

Sementara di Belanda lewat Dutch National Institute for Public Health and the Environment (RIVM) memperbolehkan warganya mencari partner seks di luar lingkaran dekat. Syaratnya mereka harus bebas dari virus dan membuat kesepakatan soal pembatasan kontak dengan orang lain guna meminimalisir risiko penularan virus.

Tapi tentu saja mau dari lingkaran kecil atau besar, tak ada yang bisa menjamin pasangan kita benar-benar bebas virus. Soal ini para peneliti dan pejabat sepakat, masturbasi dianggap sebagai pilihan paling aman untuk memenuhi kebutuhan biologis sekarang.

Baca juga artikel terkait SEKS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight