Sejarah Zaman Logam dan Hasil Kebudayaan di Indonesia

Kontributor: Auvry Abeyasa, tirto.id - 6 Apr 2022 14:36 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Zaman logam terbagi lagi menjadi 3: zaman besi, tembaga, dan perunggu. Indonesia hanya mengalami zaman perunggu dan zaman besi.
tirto.id - Kebudayaan masyarakat telah melalui perjalanan panjang sebelum mencapai tahap moderen seperti saat ini. Perkembangan kebudayaan itu terekam dalam beberapa babak yang memiliki ciri khas masing-masing.

Sebelum mengenal aksara, periode perkembangan kebudayaan yang lazim diketahui yakni zaman batu dan zaman logam. Disebut zaman batu dan zaman logam karena batu dan logam diidentifikasi menjadi ciri khas zaman tersebut.

Dimulainya penggunaan logam sebagai teknologi buatan manusia menandakan peralihan dari zaman batu ke zaman logam. Zaman logam sering juga disebut sebagai zaman perundagian.

Seperti dikutip oleh Riyadi (2021), Perundagian berasal dari Bahasa Bali yaitu ‘undagi’ yang artinya seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai kepandaian atau keterampilan jenis usaha tertentu.

Zaman perundagian dalam hal ini dapat dimaknai sebagai zaman pada saat keahlian manusia dalam pembuatan alat-alat tertentu berkembang cukup pesat, salah satunya pengecoran bahan dari logam.

Memasuki zaman logam, penggunan batu sebagai alat tidak hilang sama sekali. Batu juga memiliki peran penting pada zaman ini. Disamping penggunaannya sebagai bahan baku teknologi, batu dijadikan salah satu alat mencetak logam. Teknik pencetakan logam menggunakan batu disebut dengan bivalve.

Selain teknik bivalve, orang-orang pada zaman logam juga membuat alat dengan cetakan tanah liat dan lilin. Teknik ini disebut dengan teknik a cire perdue. Berbeda dengan teknik bivalve yang dapat digunakan untuk berkali-kali cetakan, a cire perdue hanya digunakan untuk sekali cetak.

Zaman logam terbagi lagi menjadi 3: zaman besi, tembaga, dan perunggu. Indonesia hanya mengalami zaman perunggu dan zaman besi.

Zaman Perunggu



Perunggu adalah jenis logam yang berasal dari campuran tembaga dengan timah putih. Pada zaman perunggu, orang-orang sudah dapat mencampur tembaga dengan timah sebagai bahan baku pembuatan alat-alat. Lazimnya pencampuran tembaga dengan timah ini digunakan perbandingan 3:10 untuk memperoleh logam yang keras.

Hasil dari proses tersebut antara lain yakni berupa:

1. Kapak Corong yang ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, dan Irian

2. Nekara perunggu (Moko) yaitu alat berupa dandang yang digunakan sebagai mas kawin. Nekara Perunggu ditemukan di Sumatera, Jawa-Bali, Sumbawa, Roti, Selayar, juga Leti

3. Bejana Perunggu, benda ini ditemukan di Madura dan Sumatera, serta

4. Arca Perunggu yang ditemukan di Riau, Lumajang, dan Bogor.


Zaman Besi



Selain zaman perunggu, ada zaman besi, yang mana pada zaman ini orang sudah dapat melebur bijih besi. Teknik peleburan besi boleh jadi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu. Melebur bijih besi memerlukan suhu mencapai kurang lebih 3500 °C.

Bijih besi dilebur untuk kemudian dicetak menjadi alat-alat bermata tajam seperti mata kapak, mata pisau, mata sabit, mata pedang dan cangkul. Alat-alat hasil peleburan bijih besi di atas banyak ditemui di daerah Gunung Kidul, Bogor, Besuki, dan Punung.

Kepandaian mengasah perkakas logam tersebut, seperti djelaskan oleh Rosfenti (2020), merupakan bekal kepandaian yang dimiliki sejak zaman batu. Dengan alat yang diasah ini mereka bisa gunakan untuk membalik tanah untuk mengembangkan cara bercocok tanam.

Disampaikan dalam buku Rekam Jejak Peradaban Indonesia, perkembangan zaman logam di wilayah kepulauan Indonesia berbeda dengan di Eropa. Jika di kepulauan Indonesia hanya ada dua fase, zaman logam di Eropa mengalami tiga fase yaitu zaman tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi.

Zaman logam di Asia Tenggara (termasuk wilayah kepulauan Indonesia) umumnya tidak melewati zaman tembaga. Wilayah ini langsung memasuki zaman perunggu dan besi secara bersamaan.

Serta karena banyaknya alat-alat berbahan perunggu yang ditemukan, zaman logam di wilayah kepulauan Indonesia lazim juga disebut sebagai zaman perunggu.


Baca juga artikel terkait ZAMAN LOGAM atau tulisan menarik lainnya Auvry Abeyasa
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Auvry Abeyasa
Penulis: Auvry Abeyasa
Editor: Yantina Debora

DarkLight