Sejarah Universitas Cenderawasih & Secuplik Kisah Arnold Clemens Ap

Oleh: Petrik Matanasi - 13 November 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sukarno telah merencanakan pendirian Universitas Cenderawasih sebelum Papua resmi berada di bawah administrasi Indonesia.
tirto.id - Meski Papua belum resmi berada di bawah administrasi Republik Indonesia, tetapi pemerintah RI sudah berniat mendirikan sebuah universitas. Beberapa hari sebelum wafat, tepatnya pada 8 Oktober 1962, bertempat di Universitas Padjadjaran, Bandung, Mohammad Yamin berpidato yang isinya menegaskan keinginan presiden.

Dalam Mimbar Penerangan, Tahun ke-13, nomor 10, Oktober 1962, hlm. 673, disebutkan bahwa Sukarno menginstruksikan agar secepatnya Universitas Cenderawasih didirikan di Papua. Semula, rencananya adalah mulai menerima mahasiswa baru pada 17 Agustus 1962, dan perkuliahan dimulai pada 28 Oktober 1962.

Panitia persiapan pendirian universitas kemudian dibentuk yang terdiri dari Major Jenderal purnawirawan Prof. Dr. Raden Moestopo, Prof. Soegarda Poerbakawatja, dan Ismail Suny, S.H., M.C.L. Setelah melaporkan hasil kerjanya kepada menteri pendidikan, Soegarda dijadikan Ketua Fact Finding Committee yang beranggotakan Ismail Suny dan Makkateru Sjamsuddin.

Kampus Universitas Cenderawasih dibangun di daerah Kota Baru, Jayapura. Di kawasan ini pernah ada sekolah calon pegawai bernama Opleidingsschool voor Inheemse Bestuursambtenaren (OSIBA), yang tidak disamakan dengan perguruan tinggi. Selain OSIBA, sekolah paling tinggi yang dibangun Belanda di sana adalah sekolah menengah seperti Kweekschool (sekolah guru), MULO (SMP), dan HBS (sekolah menengah lima tahun gabungan SMP dan SMA).

Dalam Tindakan Pilihan Bebas!: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri (2010:96), P. J. Drooglever menyebut bahwa misionaris banyak membantu pemerintah Belanda di Jayapura, termasuk dalam bidang pendidikan.

Dalam Monografi Daerah Irian Jaya (1980:136) disebutkan bahwa otoritas PBB untuk Papua (UNTEA) menyetujui pendirian kampus tersebut. Bahkan ada izin untuk mempergunakan gedung OSIBA dan Kweekschool. Maka OSIBA akhirnya menjadi gedung utama Universitas Cenderawasih.

Seperti dicatat dalam Sedjarah Pembentukan Universitas Tjenderawasih di Kotabaru, Irian Barat (1963:3), berdasarkan Keputusan Bersama Wakil Menteri Pertama Koordinator Urusan Irian Barat, Wakil Menteri Pertama Kesejahteraan Rakyat, dan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Thojib Hadiwidjaja, nomor 140 tahun 1962, maka ditetapkan bahwa kampus Universitas Cenderawasih resmi dibuka di Kotabaru terhitung sejak 10 November 1962.


Dari Presiden, keluar Keputusan Presiden RI nomor 389 tanggal 31 Desember 1962, tentang disahkannya Universitas Cenderawasih. Dalam pembukaan itu hadir wakil dari UNTEA. Koordinator Universitas Cenderawasih, Profesor Soegarda Poerbakawatja, kala itu memberikan kuliah umum tentang dasar dan tujuan pendidikan dalam alam Indonesia merdeka.

Pada tahun-tahun pertama itu, Soegarda menjadi acting Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Sementara Ismail Suny sebagai acting Dekan Fakultas Hukum, Ketatanegaraan, dan Ketataniagaan. Saat itu, Fakultas Pertanian dan Peternakan sedang direncanakan. Dalam satu dekade, menurut catatan Sri Nurani Kartikasari dan kawan-kawan dalam Ekologi Papua (2012:653), jumlah mahasiswa Universitas Cenderawasih yang semula 4.136, naik menjadi 11.163.

Soegarda menjadi Ketua Presidium dari 1962 hingga 1967. Dia digantikan oleh Brigadir Jenderal Bintoro yang merangkap Panglima Kodam Cenderawasih. Masuknya tentara ke dalam kampus tak lepas dari situasi di Papua yang rentan konflik. Akhir 1960-an, Organisasi Papua Merdeka (OPM) sudah aktif melancarkan sejumlah aksi. Di antara mahasiswa tidak sedikit yang berseberangan dengan pemerintah Indonesia.

Dua tahun sebelum Arnold Clemens Ap--alumni Universitas Cenderawasih dan budayawan Papua--terbunuh, sembilan mahasiswa Universitas Cenderawasih bergerak. Johannes Rudolf Gerzon Djopari dalam Pemberontakan Organisasi Papua Merdeka (1993:124) menyebut bahwa pada 3 Juli 1982, ”[mahasiswa] melakukan aksi penarikan bendera OPM di depan sebuah kantor di Abepura dan mereka membacakan pernyataan proklamasi negara Papua Barat.”


Infografik Universitas Cendrawasih
Infografik Universitas Cendrawasih. tirto.id/Fuad


Tahun 1967, Arnold Clemens Ap mulai kuliah di Jurusan Pendidikan Geografi FKIP Universitas Cenderawasih. Andre Barahamin dalam artikel berjudul "Mengenang Arnold Ap" menyebut bahwa di masa kuliah itu Arnold mulai tertarik politik. Setelah lulus sarjana muda, dia bekerja sebagai kurator di museum kebudayaan kampusnya. Arnold Ap dikenal sebagai musisi dari kelompok musik Mambesak yang artinya burung cenderawasih. Sebelum bernama Mambesak, namanya adalah Manyori yang berarti burung nuri, yang eksis sejak 1970-an. Selain musisi, Arnold Ap adalah antropolog yang kemudian dibunuh militer pada 1984.

Brigadir Jenderal Bintoro hanya menjabat sampai 1968. Posisi pimpinan Universitas Cenderawasih kemudian diserahterimakan kepada Adi Andojo Soetjipto yang usianya kala itu baru 30-an tahun.

”Waktu itu mahasiswa Universitas Cenderawasih masih banyak yang sikapnya mendua, antara lain kalau tidak salah ingat adalah Fred Athaboe, sehingga pada suatu ketika para mahasiswa itu saya ajak apel pada malam jam 24, ke taman makam pahlawan di Abepura yang letaknya dekat dengan kampus. Mahasiswa lain yang bersikap mendua saya kirim ke Universitas Satya Wacana di Salatiga,” tulis Adi Andojo Soetjipto dalam Menyongsong dan Tunaikan Tugas Negara sampai Akhir: Sebuah Memoar (2007:105).

Adi Andojo juga tidak lama di kampus itu. Ia digantikan oleh Kolonel August Marpaung SH, lulusan Akademi Hukum Militer (AHM)-Perguruan Tinggi Hukum Militer (PTHM), Jakarta.

Pada tahun 1988, Drs August Kafiar MA menjadi orang Papua pertama yang menjabat sebagai Rektor Universitas Cenderawasih. August juga merupakan alumni kampus tersebut. Dia menjadi rektor hingga tahun 1996, dan setelahnya para Rektor Universitas Cendrawasih selalu orang-orang Papua.

Baca juga artikel terkait KONFLIK PAPUA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight