Menuju konten utama

Sejarah Tragedi Peru 1964 Bencana Sepakbola Mirip Kanjuruhan

Sejarah tragedi sepakbola Peru 1964 yang disebut mirip Kanjuruhan.

Sejarah Tragedi Peru 1964 Bencana Sepakbola Mirip Kanjuruhan
suporter menyalakan lilin dalam aksi keprihatinan Tragedi Stadion Kanjuruhan di depan Kantor Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora), Jakarta, Minggu (2/10/2022). Aksi gabungan dari sejumlah kelompok suporter lintas klub sepak bola tersebut menuntut pemerintah dan aparat hukum mengusut tuntas secara adil dan menghukum semua yang bertanggung jawab atas kasus kerusuhan usai pertandingan Arema lawan Persebaya pada Sabtu (1/10) malam di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. AP/ Dita Alangkara

tirto.id - Tragedi Stadion Nasional di Lima, Peru tercatat sebagai bencana terburuk dalam sejarah sepakbola. Tragedo ini terjadi saat pertandingan kualifikasi Olimpiade antara Peru dan Argentina yang diadakan di Stadion Nasional di Lima.

Tragedi sepakbola di Peru ini disebut mirip dengan peristiwa Kanjuruhan yang terjadi di Malang, Jawa Timur saat pertandingan Arema vs Persebaya pada Sabtu (1/10/2022).

Kemarahan penonton muncul saat wasit menganulir gol Peru. Kemarahan membuat penonton protes. Kemudian polisi menembakkan gas air mata dan memukuli massa dengan brutal.

Orang-orang panik dan mencoba meninggalkan stadion. Alih-alih menuju gerbang, para penonton menuju daun jendela yang tetap tertutup selama pertandingan.

Karena kepanikan, para penggemar tidak menuju gerbang, tetapi mereka terus berlari menuju jendela yang lebih dekat. Mereka saling mendorong massa dan menyebabkan kematian 328 orang.

Tragedi Stadion Nasional Peru: Bencana Stadion Terburuk di Dunia

Bencana stadion terburuk di dunia terjadi di ibu kota Peru, Lima. Lebih dari 300 orang tewas, namun hingga hari ini cerita lengkapnya tidak pernah diketahui, dan mungkin tidak akan pernah terungkap.

Ketika pertandingan terjadi pada 24 Mei 1964, Peru berada di urutan kedua dalam tabel kualifikasi Olimpiade Amerika Selatan. Peru secara realistis membutuhkan hasil imbang setidaknya melawan Argentina.

Karena ketatnya persaingan, pertandingan ini menarik banyak penonton. Stadion Nasional Peru penuh sesak dengan kapasitas 53 ribu orang, lebih 5 persen dari populasi Lima pada saat itu.

Tragedi dimulai ketika wasit menganulir gol Peru. Inilah sebabnya kerumunan mulai menjadi sangat marah. Awaalnya dua penonton memasuki lapangan permainan.

Penonton pertama adalah seorang penjaga yang dikenal sebagai Bomba, yang mencoba untuk memukul wasit sebelum keduanya dihentikan oleh polisi. Penonton kedua bernama Edilberto Cuenca.

"Polisi menendang dan memukulinya [dua penonton di lapangan] seolah-olah dia adalah musuh. Inilah yang membuat semua orang marah, termasuk saya," kata salah satu fans di Estadio Nacional hari itu, Jose Salas, dikutip BBC.

Dalam hitungan detik, kerumunan itu meluncurkan berbagai barang ke arah polisi. Beberapa lusin orang berusaha mencapai lapangan. Membaca suasana yang kacau, Salas dan teman-temannya memutuskan untuk pergi.

Salas kemudian menyaksikan banyak tabung gas air mata dilemparkan. Salas menduga dia menghabiskan sekitar dua jam di antara gunungan manusia yang bergegas menuruni tangga.

Kerumunan begitu padat, sehingga kakinya tidak menyentuh lantai, ia menginjak-injak tubuh manusia, beberapa hidup beberapa mati. Catatan menyatakan, sebagian besar korban meninggal karena sesak napas.

Infografik SC Peru 24 Mei 1964

Infografik SC Peru 24 Mei 1964. tirto.id/Fuad

Jumlah Korban Tewas dan Penyebabnya

Negara Peru mencatat, jumlah resmi yang tewas adalah 328 orang, sebagian besar karena sesak napas. Ada banyak laporan saksi mata tentang orang-orang yang meninggal karena luka tembak.

Namun, hakim yang ditunjuk untuk menyelidiki bencana tersebut, Hakim Benjamin Castaneda, tidak pernah dapat menemukan mayat dengan luka tembak.

Hakim pernah mendapat laporan ada korban luka tembak, tetapi ketika ia datang ke rumah sakit, korban sudah dibawa pergi dan hingga kini jenazah keduanya tidak ditemukan.

Dalam laporannya, Castaneda mengatakan jumlah korban tewas yang diberikan oleh pemerintah tidak "mencerminkan jumlah korban yang sebenarnya, karena ada kecurigaan kuat tentang pemindahan rahasia korban yang terbunuh oleh peluru".

Jorge Salazar, seorang jurnalis dan profesor yang telah menulis sebuah buku tentang bencana tersebut, mengatakan bahwa masyarakat Peru pada saat itu sangat bergejolak.

Banyak dari para penggemar sepak bola yang lolos dari gas air mata, ingin membalas dendam kepada polisi. Dua polisi dilaporkan tewas di dalam stadion, dan pertempuran berlanjut di jalan-jalan di luar.

Hukuman untuk Pelaku

Kronologi, jumlah korban, dan pelaku masih menjadi misteri. Yang kita tahu, mereka yang dihukum dan diminta bertanggung jawab hanya dua orang.

Jorge Azambuja, komandan polisi yang memberi perintah untuk menembakkan gas air mata, dijatuhi hukuman 30 bulan penjara.

Yang kena hukuman lainnya adalah Hakim Castaneda sendiri. Dia didenda karena menyerahkan laporan terlambat enam bulan, dan karena tidak menghadirkan 328 otopsi seperti yang seharusnya dia lakukan.

Pada 2014, Kepala Institut Olahraga Peru Francisco Boza telah melakukan upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu menghubungi keluarga yang terkena dampak tragedi itu dan mengundang mereka ke perkabungan yang telah lama tertunda, yang akan diadakan di Katedral Lima.

Namun masih belum ada plakat atau monumen yang dipajang di Estadio Nacional untuk mengenang mereka yang tewas dalam bencana terburuk dalam sejarah sepak bola ini.

Baca juga artikel terkait KANJURUHAN atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Iswara N Raditya