16 Juli 1950

Sejarah Tragedi Maracana: Duka dan Luka Sepakbola Brazil

Infografik Mozaik Final Piala Dunia 1950
Ilustrasi Mozaik Kekalahkan Brazil di Final PD 1950. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 16 Juli 2019
Dibaca Normal 5 menit
Di partai puncak Piala Dunia 1950, tuan rumah Brazil yang jumawa takluk oleh Uruguay. Duka atas kekalahan itu masih dirasakan hingga hari ini.
tirto.id - Brazil ditakdirkan untuk menjadi juara Piala Dunia 1950. Demikianlah keyakinan orang-orang di negara berbahasa Portugal itu sebelum 16 Juli 1950. Keyakinan tersebut juga dipegang Joao Luiz de Albuquerqe, seorang warga Brazil yang saat itu masih berusia 11.

“Tidak ada sedikit pun keraguan. Semua orang dewasa mengatakan kepada saya: kami pasti juara. Keluarga, teman, bahkan para penjual susu di stadion,” kenang Albuquerqe dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Ada dua faktor yang bikin harapan dan keyakinan masyarakat Brazil membumbung tinggi. Pertama, Brazil adalah negara yang saat itu paling ambisius menjadi nomor satu dalam sepakbola. Saat bursa pencalonan tuan rumah dibuka delapan tahun sebelumnya, mereka jadi satu-satunya negara yang mendaftarkan diri.

Kedua, skuat Brazil pada Piala Dunia 1950 adalah salah satu yang terbaik sepanjang sejarah. Mengadaptasi formasi W-M temuan Herbert Chapman, anak asuh Flavio Costa punya trisula mumpuni, Friaca-Ademir-Chico, di lini depan. Ada pula si gelandang serang ajaib yang juga pemain idola Pele sejak kecil, Zizinho; serta bek dan kiper tangguh, Juvenal dan Moacyr Barbosa.

Sejak turnamen dibuka hingga menjelang laga terakhir, Seleccao menjadi tim dengan statistik paling mentereng. Mereka mencetak 21 gol dalam lima pertandingan (rata-rata 4,2 gol per laga). Bahkan sebelum laga terakhir, mereka sempat membantai Swedia 7-1 dan Spanyol 6-1. Setahun sebelumnya, skuat yang sama juga mendominasi Copa America dengan catatan tak kalah absurd: mencetak 39 gol hanya dalam tujuh pertandingan (rata-rata 5,5 gol per laga).

Dengan format final Piala Dunia 1950 yang memakai aturan round-robin (seperti fase grup), yang dibutuhkan Brazil untuk juara tinggal satu: bermain minimal imbang melawan Uruguay dalam partai terakhir di Stadion Maracana pada 16 Juli 1950.

Maka, jelang pertandingan yang dianggap cuma formalitas belaka itu, berbagai persiapan pesta untuk Seleccao telah dilakukan.


Mendahului Takdir

Sebanyak 199.854 tiket pertandingan di Maracana ludes terjual. Itu membikin laga Brazil vs Uruguay menjadi pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Staf FIFA telah mengukir nama setiap pemain Brazil di atas 22 medali emas yang mereka siapkan menjelang laga terakhir.

Menurut David Goldblatt dalam Futebol Nation: The Story of Brazil through Soccer (2014), koran terbesar di Brazil saat itu, O Mundo, pada pagi hari sebelum laga menerbitkan headline lengkap disertai foto para pemain Brazil dengan judul “Inilah para juara dunia”.

Sementara Alex Bellos dalam Futebol: The Brazilian Way of Life (2002) mencatat Wali Kota Rio de Janeiro Angelo Mendes de Moraes telah memberi pidato kemenangan untuk para pemain Seleccao beberapa jam sebelum sepak mula.

“Kalian, para pemain, dalam beberapa jam ke depan akan dipuji sebagai juara, kalian tidak akan punya pesaing lagi di belahan bumi ini. Kalian lah juara dunia,” tutur Moraes dengan loudspeaker, diiringi penerbangan balon dan poster bertuliskan ‘Viva o Brazil’.

Namun hasil pertandingan membuktikan perkataan Moraes hanyalah upaya mendahului takdir.


Selama babak pertama, Brazil memang mengurung Uruguay. Dan di awal paruh kedua, tepatnya menit ke-47, mereka memimpin 1-0 lewat gol Friaca. Tapi selama dua per tiga terakhir laga, Brazil yang menganggap kemenangan sudah di depan mata harus menghadapi kenyataan pahit. Semua bermula pada menit ke-66, ketika Uruguay mencetak gol penyama kedudukan lewat sepakan terukur Juan Alberto Schaffino dari jarak dekat. Lalu 13 menit berselang sebuah tembakan ke tiang dekat, yang dilepaskan winger Edgardo Alcides Ghiggia, membikin Uruguay berbalik unggul.

“Saya punya sepersekian detik untuk memilih apa yang saya lakukan. Saya menendang dengan cepat dan akurat. Itu adalah gol terbaik yang pernah saya cetak,” tutur Ghiggia mengenang gol penentunya itu, seperti dikutip BBC.

Gol Ghiggia menandai perubahan suasana di Maracana. Saat wasit asal Inggris, George Reader, meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, skor akhir 1-2 untuk kemenangan Uruguay. Seketika, tribun di Stadion Maracana menjadi muram.

“Saya senang mencetak gol kemenangan Uruguay. Tapi, ketika melihat ke tribun dan mendapati orang-orang Brazil menangis tidak terkontrol, saya tidak bisa tidak merasa sedih,” lanjut Ghiggia.

Kekalahan mengejutkan itu mengundang banyak reaksi dari suporter. Sebagian besar menggambarkan betapa besar kekecewaan warga Brazil. Menurut laporan Guardian, sekurang-kurangnya 165 suporter terkena serangan jantung setelah pertandingan. Tiga di antaranya dikabarkan tewas meski telah mendapat pertolongan di rumah sakit. Seorang suporter Brazil—beberapa media malah mengklaim ada tiga orang—yang menyimak laga itu dari siaran radio bahkan nekat melakukan aksi bunuh diri.

Di lapangan, saking terperangah dan tidak percaya dengan kekalahan Brazil, panitia Piala Dunia dari FIFA sempat lupa menggelar upacara penyerahan trofi juara untuk Uruguay. Presiden FIFA Jules Rimet akhirnya turun tangan dan menyerahkan sendiri trofi tersebut kepada kapten Uruguay, Obdulio Varela, meski tanpa seremonial dan podium. Tidak ada pula penyerahan medali pada hari itu karena 22 medali yang disiapkan FIFA sudah terlanjur dihiasi ukiran nama-nama pemain Brazil.

“Saat berjalan ke lapangan, situasi hening. Tidak ada pengawal, tidak terdengar nyanyian, tidak ada selebrasi. Hanya saya yang merasa berdiri seorang diri, memegang trofi tanpa tahu apa yang harus saya lakukan. Pada akhirnya saya menyadari kapten Uruguay [Varela] ada di depan saya, lalu menyerahkan trofi dan berjabat tangan dengan hening,” kenang Rimet seperti dikutip Tony Mason dalam Passion of People?: Football in South America (1995).


Seperti Kutukan bagi Sepakbola Brazil

Tragedi yang dialami Brazil pada 16 Juli 1950, tepat hari ini 69 tahun lalu, itu biasa disebut dengan istilah 'Maracanazo' alias 'pukulan untuk Maracana'. Tragedi ini membekas di ingatan semua orang, tak terkecuali bagi pemain legendaris Brazil, Pele, yang saat itu masih berusia 10.

“Kami mendengarkan pertandingan dari radio di rumah. Itu adalah kali pertama seumur hidup saya melihat ayah saya menangis,” kenangnya dalam sebuah wawancara dengan jurnalis olahraga RT, Stan Collymore.

Betapapun menyakitkan Maracanazo bagi Pele dan warga Brazil, tidak ada yang lebih merasa tersakiti ketimbang pemain-pemain Brazil itu sendiri. Dalam sebuah wawancara dengan FIFA, mendiang striker Brazil, Ademir, mengaku usai laga itu dia tidak berani bertemu kekasih dan keluarganya. Sekeluarnya dari Maracana, dia memacu mobil pribadinya sejauh mungkin, menuju sebuah dermaga terpencil. Dia menghabiskan waktu 15 hari hanya berdiam dan mengurung diri di dermaga itu.

Pemain lain, Zizinho, merasakan trauma tidak kalah telak. Sampai 50 tahun sejak kekalahan itu, setiap tanggal 16 Juli Zizinho selalu mematikan telepon maupun jaringan internet di rumahnya.

“Jika tidak, telepon hanya akan berdering sepanjang hari. Orang-orang di seluruh Brazil akan terus menanyakan kenapa kami kalah di Piala Dunia [1950],” akunya seperti dikutip Guardian.



Dampak signifikan juga terjadi dalam karier masing-masing pemain. Sebagian besar penggawa Seleccao tidak pernah lagi mendapat kesempatan memperkuat tim nasional untuk ajang Piala Dunia. Bahkan pemain sekelas Zizinho dan Ademir cuma boleh memperkuat Brazil lagi di ajang Copa America.

Hanya dua pemain yang masih boleh memperkuat timnas untuk Piala Dunia, yakni Nilton Santos dan Carlos Jose Castilho. Keduanya lantas berhasil membawa Brazil juara Piala Dunia 1958 dan 1962. Tapi ironisnya, di dua edisi itu Santos dan Castilho tidak diberi jatah medali emas sebagaimana rekan-rekan setim mereka.

Federasi sepakbola Brazil, CBF, mengambil beberapa kebijakan kontroversial lain. Dengan dalih membebaskan masyarakat Brazil dari trauma, seragam putih yang mereka pakai di laga terakhir kontra Uruguay dipensiunkan. CBF menganggap warna itu sebagai kutukan dan enggan memakainya lagi (baru pada 2019 ini mereka menganulir kebijakan tersebut).

Aturan yang tidak kalah kejam: CBF melarang kiper kulit hitam memperkuat timnas Brazil. Kiper kulit hitam dianggap bisa mengingatkan publik kepada Moacyr Barbosa, kiper Brazil di laga kontra Uruguay.

Barbosa memang sosok yang dicap paling hina atas kekalahan Brazil. Dia adalah orang yang paling disalahkan atas dua gol Uruguay. Sejak kekalahan itu sahabat-sahabat terdekatnya mulai menjauh dan Barbosa hidup terkucilkan selama puluhan tahun.

Bahkan pada 1994 Barbosa dilarang bertemu kiper Brazil saat itu, Claudio Taffarel, meski telah menyepakati janji pertemuan sejak jauh-jauh hari. Pelatih kiper Taffarel di timnas Brazil melarang agenda itu karena menilai Barbosa bisa menularkan pengaruh buruk kepada pemain-pemain muda di Brazil.

“Di Brazil hukuman pidana paling berat adalah 30 tahun. Tapi saya menjalani hukuman atas sesuatu yang bukan kesalahan saya selama 50 tahun,” keluh Barbosa seperti dikutip dalam A Cultural History of Rio de Janeiro after 1889: Glorious Decade (2016).

Barbosa memang pantas merasa tidak bersalah, sebab dua gol Uruguay ke gawang Brazil memang bukan terjadi atas kesalahannya. Keduanya murni karena kecerdikan pemain Uruguay, Schaffino dan Ghiggjo, menempatkan bola ke ruang sempit.


Dan kiper Brazil di akhir 1990-an dan 2000-an, Nelson Dida, adalah orang yang paham betul akan hal itu. Dida merupakan orang kulit hitam pertama yang diperkenankan memperkuat Brazil di ajang Piala Dunia (edisi 2006) sejak kasus Barbosa. Dalam The Last Save of Moacyr Barbosa (2005) karya penulis Darwin Pastorin, Dida mengajukan pembelaan untuk salah sosok idolanya tersebut.

“Faktanya dia adalah kiper nomor satu dan telah menunjukkan jasa besarnya untuk sepakbola Brazil. Sudah seharusnya orang-orang menghargai jasanya,” ungkap Dida.

Namun bisa ditebak, pembelaan Dida tak berdampak besar untuk memulihkan reputasi Barbosa. Hingga meninggal pada 7 April 2000, kiper kelahiran Campinas, Sao Paulo itu tetap diperlakukan seperti makhluk terkutuk. Tak banyak orang menghadiri pemakamannya. Dia meninggal dalam kesepian dan kemiskinan setelah menghabiskan masa tua dengan bekerja sebagai petugas honorer di Stadion Maracana.

Bukan cuma Barbosa, menurut laporan terkini ESPN, sembilan mantan pemain Brazil 1950 lain juga telah meninggal sepanjang periode 1990-an hingga 2000-an. Mulai dari Augusto Da Costa (2004), Juvenal (2009), Bigode (2003), Jose Carlos Bauer (2007), Danilo Alvim (1996), Zizinho (2002), Friaca (2009), Ademir (1996), dan Chico (1997).

Meski demikian, kematian-kematian itu tak mengubah fakta bahwa luka Maracanazo masih hidup sampai detik ini.

Baca juga artikel terkait SEJARAH SEPAKBOLA atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight